OK, soal tekno ini juga lucu, kenapa pilihannya Biodiesel dan bukan Bioethanol. Sampai tahun lalu sudah beberapa perguruan tinggi dan lab perkebunan yang berhasil bikin bioethanol dari tandan sawit. Logikanya ya tetap butuh kebun lebih luas supaya dapatkan tandan yang cukup untuk menggusur BBM fosil. --- djiekh@... wrote: Di Eropa mulai pakai B 5, B10, B20, campuran 5%, !0%, 20% Biodiesel dalam minyak diesel.Untuk B100, 100 % biodiesel, tangki biodieselnya harus diperlengkapi pemanas supayabiodieslnya tidak membeku pada temperatuur rendah. Packing dari karet harus diganti, tidaktahan biodiesel.Untuk motor bensin, sebagai biofuelnya dipakai campuran ethanol dngan bensin. Ethanolnyadibuat dari fermentasi jagung dan ketela pohon (cassave). Pada tanggal Rab, 20 Feb 2019 pukul 17.36 Jonathan Goeij menulis:
Saya kira ada alternatif baru, saya sering terima tawaran dari Toyota suruh beli mobil bahan bakar hidrogen (H2) yang hanya menghilangkan unsur O dari H2O (air). H2 ini dalam proses pembakaran akan bersenyawa dengan Oksigen (O2) dari udara sehingga hasil buangnya justru air (H2O). Dus untuk bikin hidrogen itu bahannya cuman air dan hasil pembakaran juga air. Sayangnya pom bensin yg jual hidrogen itu sedikit dan jaraknya cukup jauh, seandainya bisa banyak seperti yg jual bensin tentu menarik sekali. Ini contoh mobilnya:Toyota Mirai – The Turning Point --- ajegilelu@... wrote : Biodiesel B100 itu juga omongkosong seperti biasa. Sebab, mustahil menggusur kendaraan bermotor di seluruh Indonesia untuk diganti dengan yang bermesin diesel. Mana mungkin Sommer atau Naender misalnya (produsen sepedamotor bermesin diesel) mengisi kebutuhan sepedamotor murah yang angka penjualan tahun lalu kabarnya mencapai 15 ribu unit / hari. Kalau dipaksakan juga memakai sepedamotor tidak murah itu, berarti Jokowi menggorok unicorn kebanggaannya yaitu ojek online. Masalah sawit ini tidak bisa dilihat cuma sejauh ujung hidung pinokio, akibatnya masalah ditangani dengan bikin masalah baru. --- jonathangoeij@... wrote: GOBLOKnya orang ini, darimana ada arahnya didunia gunakan mobil listrik. Mobil listrik itu baru berapa persen benar2 otak dengkul Chan GOBLOK. Coba buktikan arah perkembangan dunia mobil/truk listrik. Omongan goblok gedabrus! --- SADAR@... wrote : Tapi, ... melihat ARAH perkembangan yang terjadi didunia, gunakan mobil/truk listrik, ... Jadi, yang benar, saya SETUJUUU kiritik wacana Jokowi yg menggenjot B20 jadi B100, gunakan sawit itu! Sedang pembangkit listrik juga untuk kebaikan lingkungan, harus lebih utamakan gunakan tenaga air, aingin dan matahari, ...! Jadi, sedapat mungkin kurangi, tinggalkan dan tidak gunakan lagi minyak, batubara bahkan gas-alam, ... Bukankah secara besar-besaran bangun perkebunan SAWIT itu, hakekatnya juga merusak lingkungan! Hutan-hutan lebat hilang menjadi perkebunan sawit, ternyata perkebunan sawit yg begitu luas, bukan saja merusak kesuburan tanah secara drastis, tapi juga menghilangkan banyak jenis hewan dan serangga yg hidup dihutan lebat itu!!! Katanya tidak boleh menanamkan SEJENIS tanaman diareal yg cukup luas dibumi ini, harus TETAP pertahankan aneka ragam jenis tanaman tumbuh saling menopang kesuburan tanah dan keharmonisan lingkungan. Begitu juga dalam kehidupan bermasyarakat, jangan coba apalagi berusaha keras meniadakan keberagaman yang ada dalam masyarakat dimana kita hidup menjadi sesuatu yang TUNGGAL! Baik itu sehubungan dengan ras, etnis, suku, Agama maupun ideologi-politik! Yang MUTLAK harus dipertahankan adalah Bhineka Tunggal Ika! Dimana kita semua yang BERBEDA-BEDA, ya beda ras, beda etnis, beda suku, beda Agama dan juga beda ideologi-politik itu bisa tetap BERSATU TEGUH! Bukan berusaha keras menghilangkan perbedaan-perbedaan yang ada, apalagi dengan kekerasan memaksa orang yang berbeda menjadi sama dengan dirinya sendiri! Jangan lakukan itu! bhjo@... 於 19/2/2019 4:25 寫道: Bung Djie bilang tanamnya di Papua Nuigini, ya tidak apa2. --- jonathangoeij@... wrote: hutan berubah jadi perkebunan kelapa sawit --- djiekh@... wrote : Kalau Indonesia sudah berhasil menjadikan minyak kelapa sawit jadi bermacam fuel,maka Indonesia bisa terlepas dari ketergantungan export minyak kelapa sawitnya,yangdengan berbagai cara dari luar harganya bisa dirusak. Dengan itu juga bisa mengurangiimport BBM. Kalau perlu Indonesia bisa tiru Malaysia, tanam kelapa sawit misalnya di Papua Nugini. Pada tanggal Sen, 18 Feb 2019 pukul 05 .20 jonathangoeij@... menulis: "Jangka panjang itu akan menimbulkan masalah kebutuhan akan lahan untuk program B100, atau B30 pun, dalam 50 tahun ke depan dengan seiring meningkatnya kebutuhan akan energi, tentu akan juga meningkatkan kebutuhan bahan bakunya yaitu sawit, sawit juga butuh lahan untuk berkembang," kata Yuyun saat ditemui di kantor WALHI, Minggu (17/2/2019) malam. "Ketika butuh lahan tentu akan menimbulkan persoalan baru, misalnya alih fungsi hutan untuk sawit, konflik dengan masyarakat, land grabbing (perampasan tanah), konflik agraria. Itu akan lebih masif terjadi," lanjutnya. .... WALHI Kritik Wacana Jokowi yang Akan Jalankan B100 dari Sawit Capres nomor urut 01 Joko Widodo menyampaikan pendapatnya saat debat capres 2019 di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/2/2019). tirto.id/Andrey Gromico Oleh: Haris Prabowo - 18 Februari 2019Dibaca Normal 1 menit WALHI mengkritik wacana capres nomo urut 01 Joko Widodo yang mengandalkan sawit sebagai sumber energi dan memungkinkan menaikkan B20 hingga B100 dalam debat kedua capres Pilpres 2019. tirto.id - Manajer Kampanye Keadilan Iklim Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Yuyun Harmono mengkritik wacana capres 01 Joko Widodo yang ingin tetap mengandalkan sawit sebagai sumber energi dan memungkinkan menaikkan B20 hingga B100. "Kita telah memulai B20 dan sudah berproduksi 98 persen yang kita harapkan... Kita ini menuju ke B100 sehingga kita harapkan total produksi biofuel," kata Jokowi saat debat capres kedua Pilpres 2019 yang digelar di Hotel Sultan, Jakarta pada Minggu (17/2/2019) malam . Namun, Yuyun menilai Jokowi tak melihat hal tersebut secara komprehensif. Ia menilai pemakaian energi B20 hanya efektif solusi jangka pendek, bukan jangka panjang. "Jangka panjang itu akan menimbulkan masalah kebutuhan akan lahan untuk program B100, atau B30 pun, dalam 50 tahun ke depan dengan seiring meningkatnya kebutuhan akan energi, tentu akan juga meningkatkan kebutuhan bahan bakunya yaitu sawit, sawit juga butuh lahan untuk berkembang," kata Yuyun saat ditemui di kantor WALHI, Minggu (17/2/2019) malam. "Ketika butuh lahan tentu akan menimbulkan persoalan baru, misalnya alih fungsi hutan untuk sawit, konflik dengan masyarakat, land grabbing (perampasan tanah), konflik agraria. Itu akan lebih masif terjadi," lanjutnya.Selain itu, Yuyu n juga mengkritisi moratorium sawit yang hanya berlaku tiga tahun saja. Ia menilai setelah tiga tahun berarti akan diperbolehkan melakukan ekspansi perkebunan sawit kembali. "Ada moratorium sawit, tapi itu hanya tiga tahun, tuntutan kita adalah 25 tahun.. Supaya hal-hal seperti ini tidak terjadi ketika mereka punya strategi untuk mengganti bahan bakar fosil menjadi B20. Jadi kalau Cuma tiga moratorium sawit, berarti setelah tiga tahun boleh ada ekspansi dong?" katanya. Debat capres kedua mengambil tema energi dan pangan, sumber daya alam dan lingkungan hidup, serta infrastruktur. Debat tersebut dipandu oleh Tommy Tjokro dan Anisha Dasuki sebagai moderator, sementara tujuh panelis berasal dari kalangan akademisi dan para pakar dari berbagai bidang. Tujuh panelis tersebut, yakni Rektor ITS Profesor Joni Hermana, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Nur Hidayati, Rektor IPB Arif Satria, juga ahli pertambangan ITB Profesor Irwandy Arif. Lalu ada Pakar Energi Ahmad Agustiawan, Pakar Lingkungan Undip Sudharto P. Hadi, dan Sekretaris Jenderal Konsorsium Pengembangan Agraria Dewi Kartika juga terlibat sebagai panelis. Debat disiarkan secara langsung oleh sejumlah stasiun televisi yaitu RCTI, GTV, MNC TV, dan INews TV, serta bisa disaksikan secara ;live streaming. Baca juga artikel te rkait DEBAT KEDUA CAPRES 2019 atau tulisan menarik lainnyaHaris Prabowo (tirto.id - Ekonomi) Reporter: Haris Prabowo Penulis: Haris Prabowo Editor: Dewi Adhitya S. Koesno
