Memang SIAPA yang hendak perang lawan Filipina??? Bukankah RRT-Filipina
baru saja kemarin berhasil keluarkan kesepakatan: *"**Tiongkok dan
Filipina Bahas Soal Laut Tiongkok Selatan"*
(https://groups.yahoo.com/neo/groups/GELORA45/conversations/messages/243980)
Kalau saja AS boleh lancarkan *"LATIHAN-PERANG"* bersama Filipina
diperairan LTS, kenapa pula Tiongkok tidak boleh dan dikatakan konflik
militer apalagi lancarkan perang terhadap Filipina??? Bukankah jelas
pernyataan ngawur saja, ...!
Bahwa masih cukup banyak nelayan-nelayan yang masuk keperairan laut
Filipina, tentu harus ditertibkan. Kalau memang kenyataan
nelayan-nelayan Tiongkok itu terus bandel, tidak mau turuti aturan, dan
dianggap sangat mengganggu dan merugikan Filipina, juga MUDAH saja kok!
Tak usah ribut2, ... Jalankan saja tindak TEGAS menteri Susi, tangkap,
SITA dan lelang saja kapal mereka itu, ...! Tidak perlu kapal2
diledakkan yg bikin polusi laut, sudah BETUL dirubah jadi sita kapal
mereka dan dilelang atau biar tidak jatuh kembali pada pemilik semula,
.... diatur saja menjadi milik koperasi Nelayan!
Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45] 於 4/4/2019 23:45 寫道:
Ah, sebuah kekuasaan imperialis mana kenal malu??? Menjarah kekayaan
alam milik negeri lain, menghisap buruh negeri lain di pabrik-pabrik di
bawah kontrol modal Tiongkok...itu kan jelas-jelas perbuatan hina dina
kaum kolonial yang dulu juga menguasai tiongkok... apa malu sang
Kaisar??? Malah dibanggakan oleh para pendukungnya!!
On Thursday, April 4, 2019, 4:21:10 PM GMT+2, ajeg [email protected]
[GELORA45] <[email protected]> wrote:
Lepas dari soal kemampuan senjata, apa Cina tidak malu berperang lawan
Filipina?
---
Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, mengakui adanya potensi konflik
dengan Cina.
Filipina Protes Kehadiran Ratusan Kapal Cina
Reporter:
Tempo.co
Editor:
Budi Riza
Kamis, 4 April 2019 16:55 WIB**
**
*TEMPO.CO*, *Manila* – Kementerian Luar Negeri Filipina mengatakan
kehadiran ratusan kapal nelayan Cina dekat pulau yang dikuasai Manila di
Laut Cina Selatan sebagai ilegal. Ini juga disebut sebagai pelanggaran
jelas kedaulatan Filipina.
“Tindakan-tindakan itu jika tidak disangkal oleh pemerintah Cina akan
terlihat bahwa tindakan itu memang dilakukannya,” kata kemenlu Filipina
dalam pernyataan seperti dilansir Reuters pada Kamis, 4 April 2019.
Pemerintah Filipina mengeluhkan kehadiran kapal nelayan Cina di dekat
pulau Thitu, yang terjadi berulang kali dalam periode yang lama. Ini
memunculkan pertanyaan apakah ada niat atau peran dalam mendukung tujuan
yang bersifat koersif.
Data pemerintah Filipina mencatat ada sekitar 200 kapal nelayan asal
Cina berlayar di dekat pulau Thitu atau Pagas, yang merupakan nama lokal
pulau itu, dari Januari hingga Maret 2019.
Saat ini, selain Filipina sejumlah negara ASEAN juga mengklaim
kepemilikan wilayah di Laut Cina Selatan seperti Brunei, Malaysia, dan
Vietnam. LCS diduga memiliki cadangan minyak dan gas berlimpah serta
menjadi jalur perdagangan dunia dengan nilai sekitar US$3.4 triliun atau
sekitar Rp48 ribu triliun per tahun.
Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, mengakui adanya potensi konflik
dengan Cina. Namun dia menyebut kemampuan teknologi persenjataan negara
itu masih kalah jauh dari Cina sehingga mudah kalah jika berperang.
Duterte, seperti dilansir Philstar, mengaku khawatir karena Cina
memiliki rudal jelajah presisi yang mampu menghancurkan ibu kota Manila
dalam waktu tujuh menit sejak diluncurkan.
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com