Kapal-kapal perang AS dan Inggris sudah 2-3 tahun patroli di LCS. Mungkin tahun 
ini Prancis ikut bergabung. Kehadiran militer imperialis ini pastilah 
mengganggu ketentraman negara-negara ASEAN. 

Dari pernyataan Duterte, Filipina juga tidak mau perang lawan RRC. Tapi kalau 
terus diteror ya tidak ada pilihan bagi Filipina untuk minta bantuan negara 
lain. Bukan mustahil negara-negara ASEAN terpaksa bergabung juga kalau RRC 
berkeras mengklaim perairan mereka sebagai wilayah RRC. 

Filipina, ASEAN, dan akal sehat, cuma minta RRC mematuhi putusan mahkamah 
arbitrase yang berpegang pada konvensi hukum laut internasional yang 
ditandatangani ratusan negara. 
    --- SADAR@... wrote:
Memang SIAPA yang hendak perang lawan Filipina??? Bukankah RRT-Filipina baru 
saja kemarin berhasil keluarkan kesepakatan: "Tiongkok dan Filipina Bahas Soal 
Laut Tiongkok Selatan" 
(https://groups.yahoo.com/neo/groups/GELORA45/conversations/messages/243980) 
Kalau saja AS boleh lancarkan "LATIHAN-PERANG" bersama Filipina diperairan LTS, 
kenapa pula Tiongkok tidak boleh dan dikatakan konflik militer apalagi 
lancarkan perang terhadap Filipina??? Bukankah  jelas pernyataan ngawur saja, 
...!
 
 Bahwa masih cukup banyak nelayan-nelayan yang masuk keperairan laut Filipina, 
tentu harus ditertibkan. Kalau memang kenyataan nelayan-nelayan Tiongkok itu 
terus bandel, tidak mau turuti aturan, dan dianggap sangat mengganggu dan 
merugikan Filipina, juga MUDAH saja kok! Tak usah ribut2, ... Jalankan saja 
tindak TEGAS menteri Susi, tangkap, SITA dan lelang saja kapal mereka itu, ...! 
Tidak perlu kapal2 diledakkan yg bikin polusi laut, sudah BETUL dirubah jadi 
sita kapal mereka dan dilelang atau biar tidak jatuh kembali pada pemilik 
semula, ... diatur saja menjadi milik koperasi Nelayan!


 Tatiana Lukman 於 4/4/2019 23:45 寫道:
   Ah, sebuah kekuasaan imperialis mana kenal malu??? Menjarah kekayaan alam 
milik negeri lain, menghisap buruh negeri lain di pabrik-pabrik di bawah 
kontrol modal Tiongkok...itu kan jelas-jelas perbuatan hina dina kaum kolonial 
yang dulu juga menguasai tiongkok... apa malu sang Kaisar??? Malah dibanggakan 
oleh para pendukungnya!! 

    On Thursday, April 4, 2019, 4:21:10 PM GMT+2, ajeg wrote:
Lepas dari soal kemampuan senjata, apa Cina tidak malu berperang lawan 
Filipina? 
  --- 
    Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, mengakui adanya potensi konflik dengan 
Cina. 
   
Filipina Protes Kehadiran Ratusan Kapal Cina
    

 
 
Reporter:
    
Tempo.co
 
  
Editor: 
 
  
Budi Riza
 
  

 
  
Kamis, 4 April 2019 16:55 WIB
   

 
   
TEMPO.CO, Manila – Kementerian Luar Negeri Filipina mengatakan kehadiran 
ratusan kapal nelayan Cina dekat pulau yang dikuasai Manila di Laut Cina 
Selatan sebagai ilegal. Ini juga disebut sebagai pelanggaran jelas kedaulatan 
Filipina.
  

 
  
“Tindakan-tindakan itu jika tidak disangkal oleh pemerintah Cina akan terlihat 
bahwa tindakan itu memang dilakukannya,” kata kemenlu Filipina dalam pernyataan 
seperti dilansir Reuters pada Kamis, 4 April 2019.
  

 
  
Pemerintah Filipina mengeluhkan kehadiran kapal nelayan Cina di dekat pulau 
Thitu, yang terjadi berulang kali dalam periode yang lama. Ini memunculkan 
pertanyaan apakah ada niat atau peran dalam mendukung tujuan yang bersifat 
koersif.
  

 
  
Data pemerintah Filipina mencatat ada sekitar 200 kapal nelayan asal Cina 
berlayar di dekat pulau Thitu atau Pagas, yang merupakan nama lokal pulau itu, 
dari Januari hingga Maret 2019.
  

 
      
Saat ini, selain Filipina sejumlah negara ASEAN juga mengklaim kepemilikan 
wilayah di Laut Cina Selatan seperti Brunei, Malaysia, dan Vietnam. LCS diduga 
memiliki cadangan minyak dan gas berlimpah serta menjadi jalur perdagangan 
dunia dengan nilai sekitar  US$3.4 triliun atau sekitar Rp48 ribu triliun per 
tahun. 
 
  

 
 
Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, mengakui adanya potensi konflik dengan 
Cina. Namun dia menyebut kemampuan teknologi persenjataan negara itu masih 
kalah jauh dari Cina sehingga mudah kalah jika berperang.
    

 
 
 Duterte, seperti dilansir Philstar, mengaku khawatir karena Cina memiliki 
rudal jelajah presisi yang mampu menghancurkan ibu kota Manila dalam waktu 
tujuh menit sejak diluncurkan.
     

Kirim email ke