Dari mana pun asal uang itu tidak bisa menutupi fakta adanya program
kecurangan amplop cap jempol dari kubu Jokowi (presiden).
Hari ini beredar kabar ada ketua partai kubu 01 ancang-ancang hijrah. Belum
jelas partai apa. Boleh jadi PDIP hahaha!
--- ilmesengero@... wrote:
Apakah uang yang diberikan menteri adalah dari gajinya atau tambahan dari luar?
On Thu, Apr 11, 2019 at 4:33 AM ajeg wrote:
Kalau betul seperti itu, semua orang boleh menelusuri menteri dari partai yang
berkepentingan dengan pemenangan pemilu (amplop bercap jempol). Dan, kalau
bicara kepentingan partai, tidak ada yang lebih berkepentingan dari ketua
umumnya. Nah, tinggal dicari siapa menteri separtai yang (masih) ketua umum
partai.
Bagaimanapun, 600 ribu amplop bercap jempol itu saja sudah menambah panjang
daftar korupsi rezim Jokowi. Apalagi niat dan tujuan program amplop jempol itu
untuk membeli suara.
Rezim kabinet penjahat. Tidak bisa ditutup-tutupi lagi.
--- jonathangoeij@... wrote:
Saya kira yg paling logis ya menteri yg se partai dgn ybs.
--- ilmesengero@... wrote :
Siapa mentri yang terlibat?
https://kumparan.com/@kumparannews/nyanyian-bowo-soal-amplop-serangan-fajar-sumber-uang-dari-menteri-1qrPvhudUNG
10 April 2019 12:43 WIB
Nyanyian Bowo soal Amplop 'Serangan Fajar': Sumber Uang dari Menteri
Tersangka kasus dugaan suap distribusi pupuk Bowo Sidik Pangarso bergegas usai
menjalani pemeriksaan. Foto: Antara/Aprillio Akbar
Tersangka kasus suap dan gratifikasi, Bowo Sidik Pangarso, kembali 'bernyanyi'
dengan menyeret pihak lain dalam pusaran kasusnya.
Sebelumnya ia mengatakan perintah menyiapkan 400.000 amplop serangan fajar dari
Nusron Wahid. Kali ini melalui pengacaranya, Saut Edward Rajagukguk, menyebut
salah seorang menteri di kabinet kerja sebagai penyumbang terbesar amplop
serangan fajar.
Sumber uang dari menteri itu, kata Saut, sudah disampaikan Bowo ke penyidik KPK.
"Sumber uang yang memenuhi Rp 8 miliar yang ada di amplop tersebut dari salah
satu menteri yang sekarang di kabinet (kerja) ini," ujar Saut usai mendampingi
kliennya menjalani pemeriksaan penyidik di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta,
Rabu (10/4).
Namun Saut menyebut, sumber uang yang disiapkan untuk amplop serangan fajar
Bowo dan Nusron berbeda.
"Beda-beda sumber, Pak Nusron dia punya sumber sendiri, Pak Bowo punya sumber
sendiri," ucap Saut.
Terkait pernyataan Nusron membantah memerintahkan Bowo untuk menyiapkan amplop,
Saut tak mempermasalahkannya. Menurut Saut, hal itu merupakan hak Nusron untuk
membantah.
Tersangka Bowo Sidik Pangarso (kanan) usai menjalani pemeriksaan oleh penyidik
KPK, Jakarta, Selasa (9/4). Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan
"Ya hak beliau (Nusron) untuk membantah itu. Tapi saya bilang ke klien saya
kalau nanti ada saksi yang mengetahui, dia (Nusron) akan dihadirkan di sini,"
kata Saut.
Saut meyakini, apa yang disampaikan kliennya merupakan kebenaran. Sebab
kliennya menerima perintah itu langsung dari Nusron secara lisan di DPR.
"Dia (Bowo) mengakui secara terus terang memang saya diperintahkan secara
lisan, ketemu berdua di DPR, ada di satu tempat di lingkungan DPR," ucapnya.
Saut menambahkan, dalam pemeriksaan itu penyidik KPK turut mengambil sampel
suara dari Bowo serta penjelasan kronologi suap dari Marketing Manager PT
Humpuss Transportasi Kimia, Asty Winasti.
Dalam perkara ini, anggota Komisi VI DPR itu diduga menerima suap dari Asty
sebesar Rp 1,5 miliar. Suap tersebut diberikan melalui rekan Bowo Pangarso,
Indung.
Petugas memegang sejumlah barang bukti berupa uang tunai pada konferensi pers
terkait dugaan suap pengiriman pupuk via kapal di Gedung KPK, Jakarta, Kamis,
(28/3). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Suap itu diduga agar Bowo mempengaruhi PT Pupuk Indonesia agar memberikan
pekerjaan distribusi pupuk ke Humpuss. Selain penerimaan dari Asty, KPK juga
menemukan uang lain yang diduga hasil gratifikasi senilai Rp 6,5 miliar.
Sehingga total Bowo diduga menerima suap dan gratifikasi Rp 8 miliar.
Uang tersebut dibungkus dalam 84 kardus, di mana terdiri dari pecahan Rp 20
ribu dan Rp 50 ribu dalam 400 ribu amplop.