Saya kok lebih tertarik bisa tidak diperkirakan berapa % warga yang
dibagi-bagi amplop itu bisa coblos Jokowi sebagaimana yg dimaksudkan
amplol bercap jempol itu untuk capres-01???
Bukankah sudah belasan tahun yl. di dengungkan kuat-kuat dan sudah
menjadi KESADARAN masyarakat: "terima uangnya, dan TETAP pilih yang
dirasa lebih cocok!"
Atau barangkali amplop-amplop itu dimaksudkan untuk sekadar ongkos-jalan
dan uang kopi bagi peserta kampanye? Sebagaimana kemarin ini ada suara
beberapa peserta kampanye Jokowi, mengaku belum bisa terima 20 ribu yang
dijanjikan itu??? Entah sampai dimana kebenaran pengakuan mereka, benar
tidak ada janji TKN atau panitia penyelenggara kampanye setempat?
Bagi saya, kalau panitia bermaksud membagi-bagikan amplop (Rp.20-50ribu)
sekadar utk ongkos jalan, uang-kopi ataupun nasi-kotak, yaa boleh-boleh
sajalah! Kasihan juga warga miskin yang jauh-jauh perlukan datang hadiri
kampenye itu, ...! Hanya saja sumber keuangannya juga harus JELAS halal,
bukan korupsi atau pemerasan terhadap BUMN!
ajeg [email protected] [GELORA45] 於 12/4/2019 0:10 寫道:
Dalam hukum cap jempol (sidik jari) lebih kuat dari tandatangan yang
bisa dipalsu.
--- djiekh@... wrote:
Benar atau hoax ?
Apa dimungkinkan kalau sudah tandatangan jadi pendukung ?
Pada tanggal Kam, 11 Apr 2019 pukul 16.31 ajeg menulis:
Dari mana pun asal uang itu tidak bisa menutupi fakta adanya
program kecurangan amplop cap jempol dari kubu Jokowi (presiden).
Hari ini beredar kabar ada ketua partai kubu 01 ancang-ancang
hijrah. Belum jelas partai apa. Boleh jadi PDIP hahaha!
--- ilmesengero@... wrote:
*
*
*Apakah uang yang diberikan menteri adalah dari gajinya atau
tambahan dari luar?*
On Thu, Apr 11, 2019 at 4:33 AM ajeg wrote:
Kalau betul seperti itu, semua orang boleh menelusuri menteri dari
partai yang berkepentingan dengan pemenangan pemilu (amplop bercap
jempol). Dan, kalau bicara kepentingan partai, tidak ada yang
lebih berkepentingan dari ketua umumnya. Nah, tinggal dicari siapa
menteri separtai yang (masih) ketua umum partai.
Bagaimanapun, 600 ribu amplop bercap jempol itu saja sudah
menambah panjang daftar korupsi rezim Jokowi. Apalagi niat dan
tujuan program amplop jempol itu untuk membeli suara.
Rezim kabinet penjahat. Tidak bisa ditutup-tutupi lagi.
--- jonathangoeij@... wrote:
Saya kira yg paling logis ya menteri yg se partai dgn ybs.
--- ilmesengero@... wrote :
Siapa mentri yang terlibat?
https://kumparan.com/@kumparannews/nyanyian-bowo-soa
l-amplop-serangan-fajar-sumber-uang-dari-menteri-1qrPvhudUNG
<https://kumparan.com/@kumparannews/nyanyian-bowo-soal-amplop-serangan-fajar-sumber-uang-dari-menteri-1qrPvhudUNG>
10 April 2019 12:43 WIB
*
*
*Nyanyian Bowo soal Amplop 'Serangan Fajar': Sumber Uang dari Menteri*
*
*
Tersangka kasus dugaan suap distribusi pupuk Bowo Sidik Pangarso
bergegas usai menjalani pemeriksaan. Foto: Antara/Aprillio Akbar
Tersangka kasus suap dan gratifikasi, Bowo
<https://kumparan.com/@kumparannews/bowo-sidik-saya-diminta-nusron-wahid-siapkan-400-ribu-amplop-1qr3oHBXC3J>Sidik
Pangarso, kembali 'bernyanyi' dengan menyeret pihak lain dalam
pusaran kasusnya.
Sebelumnya ia mengatakan perintah menyiapkan 400.000 amplop
serangan fajar dari Nusron Wahid. Kali ini melalui pengacaranya,
Saut Edward Rajagukguk, menyebut salah seorang menteri di kabinet
kerja sebagai penyumbang terbesar amplop serangan fajar.
Sumber uang dari menteri itu, kata Saut, sudah disampaikan Bowo
<https://kumparan.com/@kumparannews/bowo-sidik-saya-diminta-nusron-wahid-siapkan-400-ribu-amplop-1qr3oHBXC3J>ke
penyidik KPK.
"Sumber uang yang memenuhi Rp 8 miliar yang ada di amplop tersebut
dari salah satu menteri yang sekarang di kabinet (kerja) ini,"
ujar Saut usai mendampingi kliennya menjalani pemeriksaan penyidik
di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Rabu (10/4).
Namun Saut menyebut, sumber uang yang disiapkan untuk amplop
serangan fajar Bowo
<https://kumparan..com/@kumparannews/bowo-sidik-saya-diminta-nusron-wahid-siapkan-400-ribu-amplop-1qr3oHBXC3J>dan
Nusron berbeda.
"Beda-beda sumber, Pak Nusron dia punya sumber sendiri, Pak Bowo
punya sumber sendiri," ucap Saut.
Terkait pernyataan Nusron membantah memerintahkan Bowo untuk
menyiapkan amplop, Saut tak mempermasalahkannya. Menurut Saut, hal
itu merupakan hak Nusron untuk membantah.
Tersangka Bowo Sidik Pangarso (kanan) usai menjalani pemeriksaan
oleh penyidik KPK, Jakarta, Selasa (9/4). Foto: Fanny
Kusumawardhani/kumparan
"Ya hak beliau (Nusron) untuk membantah itu. Tapi saya bilang ke
klien saya kalau nanti ada saksi yang mengetahui, dia (Nusron)
akan dihadirkan di sini," kata Saut.
Saut meyakini, apa yang disampaikan kliennya merupakan kebenaran.
Sebab kliennya menerima perintah itu langsung dari Nusron secara
lisan di DPR.
"Dia (Bowo) mengakui secara terus terang memang saya diperintahkan
secara lisan, ketemu berdua di DPR, ada di satu tempat di
lingkungan DPR," ucapnya.
Saut menambahkan, dalam pemeriksaan itu penyidik KPK turut
mengambil sampel suara dari Bowo serta penjelasan kronologi suap
dari Marketing Manager PT Humpuss Transportasi Kimia, Asty Winasti.
Dalam perkara ini, anggota Komisi VI DPR itu diduga menerima suap
dari Asty sebesar Rp 1,5 miliar. Suap tersebut diberikan melalui
rekan Bowo Pangarso, Indung.
Petugas memegang sejumlah barang bukti berupa uang tunai pada
konferensi pers terkait dugaan suap pengiriman pupuk via kapal di
Gedung KPK, Jakarta, Kamis, (28/3). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Suap itu diduga agar Bowo mempengaruhi PT Pupuk Indonesia agar
memberikan pekerjaan distribusi pupuk ke Humpuss. Selain
penerimaan dari Asty, KPK juga menemukan uang lain yang diduga
hasil gratifikasi senilai Rp 6,5 miliar. Sehingga total Bowo
diduga menerima suap dan gratifikasi Rp 8 miliar.
Uang tersebut dibungkus dalam 84 kardus, di mana terdiri dari
pecahan Rp 20 ribu dan Rp 50 ribu dalam 400 ribu amplop.
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com