Kepala batu butut! Terus-menerus memaksakan kehendak untuk menang sendiri 
untung sendiri! Imperialis totok! Hehehhh..... 
Enggaklah, nggak ada yang mengharuskan RRC mematuhi keputusan-keputusan 
Kuomintang, Dinasti Yuan, maupun DXP (haha) terutama yang berpotensi 
mengkhianati janji / sumpah Republik Rakyat ketika menjadi anggota PBB awal 
70an. Antara lain sumpah itu adalah untuk balas budi kepada negara-negara Dunia 
Ketiga yang telah memperjuangkan keanggotaan RRC di PBB. Tolong pahami dulu 
sisi ideologis keanggotaan ini untuk memahami sisi-sisi lain dari kiprah RRC di 
atas dunia.
Dengan begitu di sisi hukum laut sangat butut amat Anda memakai pola pikir KMT 
1947. Sedangkan RRC bersama ratusan negara lain, sebagian besar negara "dunia 
ketiga", ikut menandatangai UNCLOS yang rampung disusun tahun 1982. 
Jadi, kalau RRC (dibantu Rusia) tetap berkepala batu mengusik ketentraman ASEAN 
maka itulah bukti nyata bahwa kalian, RRC-Rusia, sudah berevolusi menjadi 
negara kapitalis-imperialis yang bagai pinang dibelah dengan gerombolan US-UK 
dkk.
Nah, sekarang silakan jawab:
Menurut Anda siapa sebenarnya yang menjadi ancaman bagi RRC, Amerika atau 
Filipina dan ASEAN?
Saya bersumpah, ke mana pun Anda mencelat, pertanyaan ini akan terus 
menghantui, eheh...
--- SADAR@... wrote:
Ternyata bung yang lebih BUTUT, ... dalam menegakkan HUKUM Internasional! 
Heheheee, ..
Bukankah sekalipun saat penetapan 9 Garis-putus wilayah kelautan ditahun 1947 
itu, RRT belum terbentuk, dan Tiongkok diwakili pemerintah KMT Chiang Kaisek. 
Tapi RRT tetap HARUS mematuhi keputusan 9 Garis-putus itu, sebagaimana juga 
dunia internasional, termasuk Vietnam, Filipina! Kenapa bung bilang RRT mau 
menang sendiri???
Yang saya tahu, RRT bersikap TEGAS MENENTANG armada-laut AS berkeliaran di LTS! 
RRT hendak bersahabat dan bekerjasama dengan negara-negara didunia ini, 
khususnya negara tetangga, tidak PERNAH hendak bermusuhan apalagi menjadikan 
SATU negara menjadi MUSUH atau ancaman bagi negaranya sendiri. Bahkan juga 
terhadap kekuasaan di Taiwan, ...! Coba saja perhatikan baik-baik, ... 
kebijakan yg keluar dari pemerintah Tiongkok terhadap Taiwan, selalu berusaha 
membuka-pintu untuk berhubungan lebih luas, menjalankan usaha bersama untuk 
maju bersama, untung bersama dan menang bersama,...!
ajeg  於 14/4/2019 23:46 寫道:
Butut! Mencelat sana-sini cari menang (dan untung) sendiri!  Hehehe... 
Kemarin Anda cerita gagahnya perjuangan menggebuk habis  Ciang Kaisek. Giliran 
soal LCS kok nyumput di ketek Kuomintang melulu. Jujur sajalah, emangnya tahun 
40an RRC sudah anggota  PBB? 
Sudahlah Chan, Anda itu butut soal penegakan hukum,  lebih-lebih soal GELORA78, 
hahaha!
Yang lain bolehlah jawab atau kasih pendapat soal hukum di LCS, tapi khusus 
untuk Anda pertanyaan pokok soal sengketa wilayah ini adalah:
Menurut Anda siapa sebenarnya yang menjadi ancaman bagi RRC, Amerika  atau 
Filipina dan ASEAN?
Gampang kan, nggak perlu muter-muter mencelat sana-sini, heheh...
--- SADAR@... wrote:
Lho, penetapan 9 Garis-putus warna merah di peta itu kan juga keputusan 
Perairan Lautan PBB ditahun 1947! Yang masih berlaku dan harusnya juga diakui 
dunia internasional, ...!  Ingat saya, RRT pernah gunakan peta resmi CANADA dan 
Sepanyol ditahun 1948 yg jelas sudah memasukkan kepulauan didalam 9 Garis-putus 
itu sebagai wilayah  resmi RRT.
Dan, setahu saya pulau-pulau yg dibangun pangkalan militer RRT, itu pulau yg 
tidak jadi sengketa. Yang jadi pulau wisata dan sudah jadi landasan 
pesawat-udara itu saja  yg katanya akan dibukan utk parawisata, ...
ajeg 於 14/4/2019 16:03 寫道:
Khusus ke Anda, pertanyaannya kan bukan sekedar tentang tegaknya hukum 
internasional dalam sengketa wilayah laut, tapi lebih ke  konsistensi sikap 
Anda yang menganggap pembangunan pangkalan militer di LCS adalah hak RRC:
Teentu adalah hak RRT membangun pangkalan militer di beberapa kepulauan di  
Laut Tiongkok Timur/Selatan yg dianggap masuk wilayah kedaulatan  RRT! 
Faktanya, apa yang Anda "anggap" wilayah kedaulatan RRC itu bertentangan dengan 
hukum laut internasional (UNCLOS, ditandatangani ratusan negara). Artinya, 
segala pembangunan yang cepat-cepat  dilakukan RRC itu ilegal. 
Jadi, bagaimana konsistensi Anda terhadap tegaknya hukum? 
Kalau mau bersikap butut, tidak pedulikan hukum internasional, kenapa tidak 
sekalian melakukan hal yang sama  (bangun basis militer) di pesisir timur dan 
barat AS? Atau, tiba-tiba mata  Anda bisa terbuka ini merupakan pelanggaran 
internasional? 
Karena itu, pertanyaan pokoknya adalah:
Menurut Anda siapa sebenarnya yang menjadi ancaman bagi RRC, Amerika  atau 
Filipina dan ASEAN?
--- SADAR@... wrote:
Bung Ajeg, ... kalau saja bung perhatikan, masalah kepulauan karang di LTS 
dipeerebutkan setelah tahun 1970-an, yaitu setelah  diketahui disana merupakan 
ladang minyak yg diperkirakan jauh lebih kaya ketimbang Arab! Tadinya tidak ada 
negara peduli, krn hanyalah kepulauan karang yang tandus dan banyak diantaranya 
tenggelam diweaktu pasang laut, ... Oleh karena itu, ketika disahkan 
peta-perairan LTS  dengan 9 Garis-Putus yg ditetapkan Perjanjian Perairan 
Lautan PBB tahun 1947, tidak ada yg persoalkan. Maksud 9 Garis-putus yg 
disahkan PBB  ditahun 1947, yang menetapkan wilayah KEDAULATAN Tiongkok 
diperairan LTS,  inilah yang jadi pegangan dan dipertahankan RRT sampai 
sekarang, termasuk Kuomintang Taiwan tetap mengakui keputusan PBB ini!
Namun kemudian, Dibawah ini peta LTS yg dikeluarkan PBB,  Perairan Lautan PBB 
menentukan batas jarak wilah perairan negara dengan 200 mil-laut (garis-putus 
biru), akibatnya terjadi tumpang tindih dengan  9 garis-putus (merah) yg 
berakibat banyak kepulauan karang jadi persengketaan dengan Vietnam, Malaysia, 
Brunae dan Filipina yang mengklaim masuk wilayahnya. Sedang RRT dengan cepat 
bangun beberapa pulau sebagai pangkalan-militer diujung selatan dan pulau 
pariwisata, termasuk landasan airport,  dibawah pengawasan propinsi Hainan 
Tiongkok. 
 
ajeg 於 12/4/2019 23:19 寫道:
Saya tetap maklum dengan keberpihakan Anda. Malah pengin usul ganti nama milis 
ini jadi GELORA78  (reformasi Deng), hahaaa...... 
Okelah, sekedar pengisi waktu barangkali bisa Anda ceritakan kenapa anggapan 
soal hak wilayah di  perairan ASEAN tidak boleh disebut imperialisme? Sedangkan 
kalau  melakukan hal yang sama (bangun basis militer untuk hak  pertahanan) di 
pantai timur dan barat AS, tiba-tiba Anda bisa melihatnya  sebagai pelanggaran 
hukum internasional. Menurut Anda siapa sebenarnya yang menjadi ancaman bagi 
RRC, Amerika  atau Filipina dan ASEAN?
Teentu adalah hak RRT membangun pangkalan militer di beberapa  kepulauan di 
Laut Tiongkok Timur/Selatan yg dianggap masuk wilayah  kedaulatan RRT! Dan 
selama ini RRT tidak ada usaha membangun  pangkalan militer dinegara lain 
ataupun lautan Atlanthik  sana! Karena RRT BUKAN dan tidak jalankan 
imperialisme, ...
--- SADAR@... wrote:
Harus ingat, bahwa tidak beda dengan Republik Indonesia,  Republik Rakyat 
Tiongkok adalah keberhasilan perjuangan  rakyat Tiongkok melawan 
kolonialisme-imperialisme dan kekuasaan  Tjiang Kaisek yg menjadikan dirinya 
boneka AS itu! Dan sampai sekarang ini, dalam 70tahun, RRT berubah menjadi 
negara yang cukup kuat dibidang  ekonomi dan teknologi menyaingi imperialisme 
AS dan  dijadikan ancaman berat AS, ...! 
Tapi, dalam politik luarnegeri RRT saya tidak melihat ada gejala usaha  
kangkangi dunia, khususnya dengan kekuatan militer! Usaha pembangunan dibidang 
ekonomi yg selama ini dilakukan juga  berulangkali ditegaskan dengan prinsip 
Saling menguntungkan  dan menang bersama! Justru dengan prinsip jalan Sutera 
yang saling  menguntungkan dan menang bersama inilah nampaknya usaha RRT  
berhasil mendesak AS, ...! Sekalipun AS berusaha mengobok-obok, bahkan tak  
segan-segan menggulingkan kekuasaan yg tidak nurut dan simpati  atau lebih 
dekat pd RRT dibbanyak negara didunia, ....
Teentu adalah hak RRT membangun pangkalan militer di beberapa  kepulauan di 
Laut Tiongkok Timur/Selatan yg dianggap masuk wilayah  kedaulatan RRT! Dan 
selama ini RRT tidak ada usaha membangun  pangkalan militer dinegara lain 
ataupun lautan Atlanthik  sana! Karena RRT BUKAN dan tidak jalankan 
imperialisme, ...
Sengketa RRT dengan Viet Nam dan Filipina yang terjadi tentu saja harus  
diselesaikan secara DAMAI. Duduk berunding TANPA harus  direcoki AS! Dengan 
Filipina pun kerjasama masih bisa berlangsung,  sekalipun ada protes dengan 
mendekat dan masuknya kapal perang RRT  dikepulauan yg jadi sengketa itu. Dan, 
mestinya dibaca sebagai protes RRT terhadap gencarnya kembali latihan militer  
Filipina dengan AS semingguan terakhir ini, ... Bukan ancaman RRT  utk 
mencaplok Filipina! Itu saja masalahnya!
ajeg 於 11/4/2019 22:50 寫道:
Semua orang yang memahami perjuangan bangsa-bangsa di Nusantara pasti tahu 
bahwa kemerdekaan Indonesia tidak untuk memusuhi siapa pun, negara mana pun.. 
Sebab, Indonesia secara dialektis adalah antitesa dari  penjajahan. 
Jadi, satu-satunya musuh yang harus dilawan bangsa Indonesia hanyalah isme, 
kolonialisme-imperialisme, yang jelas tidakberperikemanusiaan dan perikeadilan. 
Founding mothers & fathers mau bangsa merdeka ini tidak gampang terkecoh urusan 
lahiriah dan golongan,  baik itu londo imperialis putih, londo hitam, londo 
kuning, maupun  londo sawo mateng. Bagi saya, normal saja Anda tidak tahu 
tentang itu karena Anda  terlalu sibuk memaksakan cara pandang rasis supaya 
saya memusuhi negara  ini dan itu hanya karena Anda jiper pada ras yang lain.
Khusus soal RRC Ping-Ping, Anda kan akui sendiri negara itu sebagai imperialis 
terhadap EU. Panjang lebar Anda ngoceh untuk  menyanjung bahwa negara 
imperialis-baru itu adalah imperialis yang menghormati hukum internasional,  
tanpa sepatah kata pun Anda jawab pertanyaan saya:
"seperti apa penghormatan RRC terhadap hukum internasional  dalam sengketa 
wilayah dengan negara-negara ASEAN (bukan cuma dengan  Filipina) di Laut Cina 
Selatan?" 
Kalau tidak sanggup jawab ya tidak ada gunanya omong kosong Anda dilanjutkan. 
--- yskp45@... wrote:
300 Tahun lebih,Spanyol Portugal, Inggeris, Perancis, 
Belgia,Niederland,Jerman,merampok  diseluruh Kontinent Duniai ini, termasuk di 
China. Dengan  kemenangan Uni Sowyet dalam Perang Dunia ke-II hancur system 
Kolonialisme/Imperialisme Europa. Dan kemudian semua kaum Kolonial tsb. 
dikumpulkan  oleh US-Presiden Truman dalam satu Club yang bernama NATO:  untuk 
Spanol, Portugal, Inggeris, Perancis, Belgia,.Nierdeland dan Jerman mereka 
membutuhkan NATO untuk merebut kembali posisi  Kolonialisme mereka yang hilang; 
untukUSA-membutuhkan Europa untuk batu loncatan expansionisme ke Kontinent 
lainnya, terutama untuk melawan Uni Sowyet/Russia. 
Yang sangat anehnya, tidak sepatahkatapun dari Anda mengenai kebrutalan  
Kolonialisme/Imperialisme EU/NATO-USA, dan Anda pindahkan system  Imperialisme 
itu kepada RRT, atau Anda berharapan dengan anti-sosialisme  akan memperoleh 
Hadiah Nobel?
Atau, "seerkor Anjing menggonggongi sebuah bayangan; Anjing-Anjing  lainnya 
menerima signal tsb. sebagai bahaya realitas", danmenggonggonglah semuanya wow 
wow wow, menggonggongi bayangan, bukan realitas".
Demikian yang sedang tejadi.
Saya pernah mengikuti sebuaht ulisan dengan inisial " Noroyono 1963," dengan  
dramatis menulis:
“Awas, Bahaya Kuning dari Utara”, “PENJAJAH KUNING SEDANG MENGINTAI  INDONESIA
" KE ARAH KOLONIALISME CHINA “, dan sesudah ini bermunculan Tulisan-Tulisan  
Anti-RRT dengan nada seperti yang Anda Tulis "Imperialisme,  Kapitalisme - 
Sontoloyo,etc. dan itulah mereka-mereka, yang mengonggongi  bayangan.". tanpa 
menguasai siatuasi civilisasi  Dunia pada Abad ke-XXI ini; bahwasanya Republik 
Indonesia  semenjak lebih dari 1/2 Abad Perkonomiannya dikuasai 
olehPerusahaan-Perusahaan Raksasa USA dan Kementerian Pertahanan R.I  dikuasai 
oleh CIA, semuanya diam seribu bahasa..
Delegasi Pemerintah RRT pada Pertemuan di Belgia- dengan EU mendemonstrasikan  
Ofensive Politik Luarnegeri yang Damia dari RRT,  dengan segalam ketentuan 
Hukum Internasional yang berlaku.
--------------------------------Pada Ming, 7/4/19, ajeg menulis:
Terimakasih. Jawaban Anda tentang cara melawan imperialisme dengan metode 
imperialis cukup  mempertegas posisi RRC sebagai negara imperialis berkembang 
yaitu,  beraninya cuma menekan negara-negara yang lebih lemah pertahanan dan 
terutama ekonominya. 
#yiv5780851197 -- #yiv5780851197ygrp-mkp {border:1px solid 
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv5780851197 
#yiv5780851197ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv5780851197 
#yiv5780851197ygrp-mkp #yiv5780851197hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv5780851197 #yiv5780851197ygrp-mkp #yiv5780851197ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv5780851197 #yiv5780851197ygrp-mkp .yiv5780851197ad 
{padding:0 0;}#yiv5780851197 #yiv5780851197ygrp-mkp .yiv5780851197ad p 
{margin:0;}#yiv5780851197 #yiv5780851197ygrp-mkp .yiv5780851197ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv5780851197 #yiv5780851197ygrp-sponsor 
#yiv5780851197ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv5780851197 
#yiv5780851197ygrp-sponsor #yiv5780851197ygrp-lc #yiv5780851197hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv5780851197 
#yiv5780851197ygrp-sponsor #yiv5780851197ygrp-lc .yiv5780851197ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv5780851197 #yiv5780851197actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv5780851197 
#yiv5780851197activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv5780851197
 #yiv5780851197activity span {font-weight:700;}#yiv5780851197 
#yiv5780851197activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv5780851197 #yiv5780851197activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv5780851197 #yiv5780851197activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv5780851197 #yiv5780851197activity span 
.yiv5780851197underline {text-decoration:underline;}#yiv5780851197 
.yiv5780851197attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv5780851197 .yiv5780851197attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv5780851197 .yiv5780851197attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv5780851197 .yiv5780851197attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv5780851197 .yiv5780851197attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv5780851197 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv5780851197 .yiv5780851197bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv5780851197 
.yiv5780851197bold a {text-decoration:none;}#yiv5780851197 dd.yiv5780851197last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv5780851197 dd.yiv5780851197last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv5780851197 
dd.yiv5780851197last p span.yiv5780851197yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv5780851197 div.yiv5780851197attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv5780851197 div.yiv5780851197attach-table 
{width:400px;}#yiv5780851197 div.yiv5780851197file-title a, #yiv5780851197 
div.yiv5780851197file-title a:active, #yiv5780851197 
div.yiv5780851197file-title a:hover, #yiv5780851197 div.yiv5780851197file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv5780851197 div.yiv5780851197photo-title a, 
#yiv5780851197 div.yiv5780851197photo-title a:active, #yiv5780851197 
div.yiv5780851197photo-title a:hover, #yiv5780851197 
div.yiv5780851197photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv5780851197 
div#yiv5780851197ygrp-mlmsg #yiv5780851197ygrp-msg p a 
span.yiv5780851197yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv5780851197 
.yiv5780851197green {color:#628c2a;}#yiv5780851197 .yiv5780851197MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv5780851197 o {font-size:0;}#yiv5780851197 
#yiv5780851197photos div {float:left;width:72px;}#yiv5780851197 
#yiv5780851197photos div div {border:1px solid 
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv5780851197 
#yiv5780851197photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv5780851197
 #yiv5780851197reco-category {font-size:77%;}#yiv5780851197 
#yiv5780851197reco-desc {font-size:77%;}#yiv5780851197 .yiv5780851197replbq 
{margin:4px;}#yiv5780851197 #yiv5780851197ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv5780851197 #yiv5780851197ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv5780851197 
#yiv5780851197ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv5780851197 
#yiv5780851197ygrp-mlmsg select, #yiv5780851197 input, #yiv5780851197 textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv5780851197 
#yiv5780851197ygrp-mlmsg pre, #yiv5780851197 code {font:115% 
monospace;}#yiv5780851197 #yiv5780851197ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv5780851197 #yiv5780851197ygrp-mlmsg #yiv5780851197logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv5780851197 #yiv5780851197ygrp-msg p a 
{font-family:Verdana;}#yiv5780851197 #yiv5780851197ygrp-msg 
p#yiv5780851197attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv5780851197 
#yiv5780851197ygrp-reco #yiv5780851197reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv5780851197 #yiv5780851197ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv5780851197 #yiv5780851197ygrp-sponsor 
#yiv5780851197ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv5780851197 
#yiv5780851197ygrp-sponsor #yiv5780851197ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv5780851197 
#yiv5780851197ygrp-sponsor #yiv5780851197ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv5780851197 #yiv5780851197ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv5780851197 #yiv5780851197ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv5780851197 #yiv5780851197ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv5780851197 
#yiv5780851197ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv5780851197 

Kirim email ke