Butut! Mencelat sana-sini cari menang (dan untung) sendiri! Hehehe... 
Kemarin Anda cerita gagahnya perjuangan menggebuk habis Ciang Kaisek. Giliran 
soal LCS kok nyumput di ketek Kuomintang melulu. Jujur sajalah, emangnya tahun 
40an RRC sudah anggota PBB? 

Sudahlah Chan, Anda itu butut soal penegakan hukum, lebih-lebih soal GELORA78, 
hahaha!

Yang lain bolehlah jawab atau kasih pendapat soal hukum di LCS, tapi khusus 
untuk Anda pertanyaan pokok soal sengketa wilayah ini adalah: Menurut Anda 
siapa sebenarnya yang menjadi ancaman bagi  RRC, Amerika atau Filipina dan 
ASEAN?
Gampang kan, nggak perlu muter-muter mencelat sana-sini, heheh...

 --- SADAR@... wrote: 
 

Lho, penetapan 9 Garis-putus warna merah di peta itu kan juga keputusan 
Perairan Lautan PBB ditahun 1947! Yang masih berlaku dan harusnya juga diakui 
dunia internasional, ...! Ingat saya, RRT pernah gunakan peta resmi CANADA dan 
Sepanyol ditahun 1948 yg jelas sudah memasukkan kepulauan didalam 9 Garis-putus 
itu sebagai wilayah resmi RRT.
 
 
Dan, setahu saya pulau-pulau yg dibangun pangkalan militer RRT, itu pulau yg 
tidak jadi sengketa. Yang jadi pulau wisata dan sudah jadi landasan 
pesawat-udara itu saja yg katanya akan dibukan utk parawisata, ...
 ajeg 於 14/4/2019 16:03 寫道:
Khusus ke Anda, pertanyaannya kan bukan sekedar tentang tegaknya hukum 
internasional dalam sengketa wilayah laut, tapi lebih ke konsistensi sikap Anda 
yang menganggap  pembangunan pangkalan militer di LCS adalah hak RRC:  
  Teentu adalah hak RRT membangun pangkalan militer di beberapa kepulauan di 
Laut Tiongkok Timur/Selatan yg dianggap masuk wilayah kedaulatan  RRT! 
  
  Faktanya, apa yang Anda "anggap" wilayah kedaulatan RRC itu bertentangan  
dengan hukum laut internasional (UNCLOS, ditandatangani ratusan negara). 
Artinya, segala pembangunan  yang cepat-cepat dilakukan RRC itu ilegal. 
  
  Jadi, bagaimana konsistensi Anda terhadap tegaknya hukum? 
  
  Kalau mau bersikap butut, tidak pedulikan hukum internasional, kenapa tidak  
sekalian melakukan hal yang sama (bangun basis militer) di pesisir timur dan 
barat AS? Atau, tiba-tiba  mata Anda bisa terbuka ini merupakan pelanggaran 
internasional? 
  
  Karena itu, pertanyaan pokoknya adalah: Menurut Anda siapa sebenarnya yang 
menjadi ancaman bagi  RRC, Amerika atau Filipina dan ASEAN?
  
   --- SADAR@... wrote: 
Bung Ajeg, ... kalau saja bung perhatikan, masalah kepulauan karang di LTS 
dipeerebutkan setelah tahun 1970-an, yaitu setelah diketahui disana merupakan 
ladang minyak yg diperkirakan jauh lebih kaya ketimbang  Arab! Tadinya tidak 
ada negara peduli, krn hanyalah kepulauan karang yang tandus dan banyak 
diantaranya tenggelam diweaktu pasang laut, ... Oleh karena itu, ketika 
disahkan peta-perairan LTS dengan 9  Garis-Putus yg ditetapkan Perjanjian 
Perairan Lautan PBB tahun 1947, tidak ada yg persoalkan. Maksud 9 Garis-putus 
yg disahkan PBB ditahun 1947, yang menetapkan wilayah KEDAULATAN Tiongkok 
diperairan  LTS,  inilah yang jadi pegangan dan dipertahankan RRT sampai 
sekarang, termasuk Kuomintang Taiwan tetap mengakui  keputusan PBB ini!
   
Namun kemudian, Dibawah ini peta LTS yg dikeluarkan PBB,  Perairan Lautan PBB 
menentukan batas jarak wilah perairan negara dengan 200 mil-laut (garis-putus 
biru), akibatnya terjadi  tumpang tindih dengan 9 garis-putus (merah) yg 
berakibat banyak kepulauan karang jadi persengketaan dengan Vietnam, Malaysia, 
Brunae dan Filipina yang mengklaim masuk wilayahnya. Sedang RRT dengan cepat 
bangun beberapa pulau  sebagai pangkalan-militer diujung selatan dan pulau 
pariwisata, termasuk landasan airport, dibawah pengawasan propinsi Hainan 
Tiongkok. 
 
 
 
 

 
 ajeg 於 12/4/2019 23:19 寫道: 
        Saya tetap maklum dengan keberpihakan Anda. Malah  pengin usul ganti 
nama milis ini jadi GELORA78 (reformasi Deng), hahaaa...... 
  
  Okelah, sekedar pengisi waktu barangkali bisa Anda  ceritakan kenapa anggapan 
soal hak wilayah di perairan ASEAN tidak boleh disebut  imperialisme? Sedangkan 
kalau melakukan hal yang sama (bangun basis militer untuk hak pertahanan) di 
pantai timur dan barat AS,  tiba-tiba Anda bisa melihatnya sebagai pelanggaran 
hukum  internasional. Menurut Anda siapa sebenarnya yang menjadi ancaman bagi 
RRC,  Amerika atau Filipina dan ASEAN?
  
  Teentu adalah hak RRT membangun pangkalan  militer di beberapa kepulauan di 
Laut Tiongkok  Timur/Selatan yg dianggap masuk wilayah kedaulatan RRT! Dan 
selama ini RRT tidak ada usaha  membangun pangkalan militer dinegara lain 
ataupun lautan Atlanthik sana! Karena RRT BUKAN dan  tidak jalankan 
imperialisme, ...
   
  
     --- SADAR@... wrote: 
  Harus ingat, bahwa tidak beda dengan Republik Indonesia,  Republik Rakyat 
Tiongkok adalah keberhasilan perjuangan rakyat Tiongkok  melawan 
kolonialisme-imperialisme dan kekuasaan Tjiang Kaisek yg menjadikan dirinya 
boneka AS itu! Dan sampai sekarang  ini, dalam 70tahun, RRT berubah menjadi 
negara yang cukup kuat dibidang ekonomi dan teknologi menyaingi imperialisme AS 
dan dijadikan ancaman berat AS, ...! 
        
Tapi, dalam politik luarnegeri RRT  saya tidak melihat ada gejala usaha  
kangkangi dunia, khususnya dengan  kekuatan militer! Usaha pembangunan  
dibidang ekonomi yg selama ini dilakukan juga berulangkali ditegaskan  dengan 
prinsip Saling menguntungkan  dan menang bersama! Justru  dengan prinsip jalan 
Sutera yang saling  menguntungkan dan menang bersama inilah nampaknya usaha RRT 
berhasil  mendesak AS, ...! Sekalipun AS berusaha  mengobok-obok, bahkan tak  
segan-segan menggulingkan kekuasaan yg  tidak nurut dan simpati atau  lebih 
dekat pd RRT dibbanyak negara didunia,  ....
 
Teentu adalah hak RRT membangun  pangkalan militer di beberapa  kepulauan di 
Laut Tiongkok  Timur/Selatan yg dianggap masuk wilayah  kedaulatan RRT! Dan  
selama ini RRT tidak ada usaha  membangun pangkalan militer  dinegara lain 
ataupun lautan  Atlanthik sana! Karena RRT BUKAN dan  tidak jalankan 
imperialisme,  ...
 Sengketa RRT dengan Viet Nam dan Filipina  yang terjadi tentu saja harus 
diselesaikan secara DAMAI. Duduk berunding  TANPA harus direcoki AS! Dengan 
Filipina  pun kerjasama masih bisa  berlangsung, sekalipun ada protes dengan  
mendekat dan masuknya kapal perang RRT dikepulauan yg jadi sengketa  itu.. Dan, 
mestinya dibaca sebagai protes  RRT terhadap gencarnya  kembali latihan militer 
Filipina dengan AS  semingguan terakhir ini, ... Bukan ancaman RRT utk 
mencaplok  Filipina! Itu saja masalahnya! 
  ajeg 於 11/4/2019 22:50 寫道:               
   Semua orang yang memahami perjuangan bangsa-bangsa di Nusantara pasti  tahu 
bahwa kemerdekaan Indonesia tidak untuk memusuhi siapa pun, negara mana pun. 
Sebab, Indonesia  secara dialektis adalah antitesa dari penjajahan. 
      
    Jadi, satu-satunya musuh yang harus dilawan bangsa Indonesia  hanyalah 
isme, kolonialisme-imperialisme, yang jelas tidak  berperikemanusiaan dan 
perikeadilan. Founding mothers & fathers mau bangsa merdeka ini tidak gampang 
terkecoh urusan lahiriah dan  golongan, baik itu londo imperialis putih, londo 
hitam, londo kuning, maupun londo sawo mateng. Bagi saya, normal saja Anda 
tidak tahu tentang  itu karena Anda terlalu sibuk memaksakan cara pandang rasis 
supaya saya memusuhi negara ini dan itu hanya karena Anda jiper pada ras yang 
lain.       
       Khusus soal RRC Ping-Ping, Anda kan akui sendiri negara itu sebagai  
imperialis terhadap EU. Panjang lebar Anda ngoceh untuk menyanjung bahwa negara 
imperialis-baru itu  adalah imperialis yang menghormati hukum internasional, 
tanpa sepatah  kata pun Anda jawab pertanyaan saya:
    
    "seperti apa penghormatan RRC terhadap hukum  internasional dalam sengketa 
wilayah dengan negara-negara ASEAN  (bukan cuma dengan Filipina) di Laut Cina 
Selatan?" 
    
    Kalau tidak sanggup jawab ya tidak ada gunanya omong  kosong Anda 
dilanjutkan. 
    
     --- yskp45@... wrote:        
300 Tahun lebih,Spanyol Portugal, Inggeris, Perancis,  
Belgia,Niederland,Jerman,merampok diseluruh Kontinent Duniai ini, termasuk di 
China. Dengan kemenangan Uni Sowyet dalam Perang  Dunia ke-II hancur system 
Kolonialisme/Imperialisme  Europa. Dan kemudian semua kaum Kolonial tsb.  
dikumpulkan oleh US-Presiden Truman dalam satu Club yang bernama  NATO: untuk 
Spanol, Portugal, Inggeris, Perancis,  Belgia,.Nierdeland dan Jerman mereka 
membutuhkan NATO untuk merebut kembali posisi Kolonialisme mereka yang  hilang; 
untuk USA-membutuhkan Europa untuk batu loncatan expansionisme ke Kontinent 
lainnya,  terutama untuk melawan Uni Sowyet/Russia. 
 
 Yang sangat anehnya, tidak sepatahkatapun  dari Anda mengenai kebrutalan 
Kolonialisme/Imperialisme  EU/NATO-USA, dan Anda pindahkan system Imperialisme 
itu kepada RRT, atau Anda berharapan dengan  anti-sosialisme akan memperoleh 
Hadiah Nobel?
 
 Atau, "seerkor Anjing menggonggongi sebuah  bayangan; Anjing-Anjing lainnya 
menerima signal tsb. sebagai bahaya  realitas", dan menggonggonglah semuanya 
wow wow wow, menggonggongi bayangan, bukan realitas".
 Demikian yang sedang tejadi.
 
 Saya pernah mengikuti sebuaht ulisan dengan  inisial " Noroyono 1963," dengan 
dramatis menulis:
 
 “Awas, Bahaya Kuning dari Utara”, “PENJAJAH  KUNING SEDANG MENGINTAI INDONESIA
 
 " KE ARAH KOLONIALISME CHINA “, dan sesudah ini  bermunculan Tulisan-Tulisan 
Anti-RRT dengan nada seperti yang  Anda Tulis "Imperialisme, Kapitalisme -  
Sontoloyo,etc. dan itulah mereka-mereka, yang mengonggongi bayangan.". tanpa 
menguasai siatuasi  civilisasi Dunia pada Abad ke-XXI ini; bahwasanya Republik  
Indonesia semenjak lebih dari 1/2 Abad Perkonomiannya dikuasai oleh 
Perusahaan-Perusahaan  Raksasa USA dan Kementerian Pertahanan R..I dikuasai 
oleh CIA,  semuanya diam seribu bahasa..
 Delegasi Pemerintah RRT pada Pertemuan di  Belgia- dengan EU mendemonstrasikan 
Ofensive Politik  Luarnegeri yang Damia dari RRT, dengan segalam ketentuan 
Hukum Internasional yang berlaku.
 
--------------------------------
 Pada Ming, 7/4/19, ajeg menulis:
             Terimakasih. Jawaban Anda tentang cara melawan imperialisme  
dengan metode imperialis cukup mempertegas posisi RRC sebagai negara  
imperialis berkembang yaitu, beraninya cuma  menekan negara-negara yang lebih 
lemah pertahanan dan terutama ekonominya. 
  
  Jadi, menurut Anda kenapa RRC tidak berani membangun  pulau-pulau buatan 
(basis militer) di sepanjang pantai timur dan pantai  barat AS misalnya, 
sebagai cara melawan imperialisme  "berciri Tiongkok"? 
  Juga, kembali ke topik asal, seperti apa penghormatan  RRC terhadap hukum 
internasional dalam sengketa wilayah dengan  negara-negara ASEAN (bukan cuma 
dengan Filipina) di Laut Cina Selatan?
  
    --- yskp45@... wrote: 
  Hello Mr. ajeg ajegilelu, melawan Imperialisme dengan methode Imperialisme 
itu sendiri dan di negeri Imperialisme  itu sendiri, seperti di EU ( didalam EU 
berkumpul semua kekuatan Kolonialisme/Imperialisme,  yang merampok dengan 
kekuatan Militer lebih dari 350 Tahun hampir diseluruh Kontionent di Dunia)  
inilah salahsatu Seni dari Ofensive Damai Politik Luarnegeri Pemerintahan 
RRT,yang tidak terlihat pada Abad ke-19 dan ke-20 dari pelaku-pelaku Hubungan 
kenegaraan di  Arena Internasional ketika itu dan Pemerintahan RRT tidak 
melupakan Pembangunan Kemampuan kekuatan Militer RRT yang ampuh dan kuat.
  
  Pemerintah RRT tidak membangun Kemiskinan dan Pembodohan Warganegara RRT di 
negerinya,untuk  itu Negara memerlukan Pembangunan Perekonomian Negeri disegala 
bidang, termasuk Bussines di Arena Internasional dan sampai hari ini Pemerintah 
RRT menghormati Hukum Internasional, dan itu bukan Sontoloyo Mr.wow,wow,wow.
  
  Istilah "China-Kuli"-penghinaan untuk manusia China,yang dipakai hampir 
diseluruh negeri-negeri yang  dikuasai oleh Kolonialisme/Imperiliasme selama 
350 Tahun, kini, dengan kehadiran RRTdi Arena Internasional yang kuat dibidang 
Ekonomi, pun kekuatan Militer, istilah penghinaan "China-Kuli" habis dari 
seluruh komunikasi. Mr.wow,wow,wow tidak  mampu melihat kemenangan Kemanusiaan, 
yang kelihatannya kecil, tetapi menentukan status  Nasional sebuah Bangsa China 
yang besar.
  
  Make China Great again bukan romantisme massa lalu, melainkan untuk hari ini 
dan menuju kedapan  yang jauh, sesuai dengan Konstitusi RRT, dimana 
jelas-jemelas tertulis "RRT menuju pembangun masyarakat siosialis", dan itu 
akan melalui perjalana yang lauh berliku-liku.
  
  Imperialisme Europa Union sedang berada dalam Erosi Politik-Integrasi yang 
serius, dan hubungan Diplomatik  yang tiggi dengan RRT akan memberikan cuaca 
pembentukan hubungan Internasional tanpa kekerasan Militer. Kita ikuti 
selanjutnya pada awal Minggu depan;  delegasi Kementerian Luarnegeri RRT akan 
berada di Brussel ( dan itu bukan Sontoloyo, semua berjalan  dalam wadah Hukum 
Internasional yang berlaku).
   
 --------------------------------------------
 
    Pada Sab, 6/4/19, ajeg menulis: 
         Nah, ini komentar agak lumayan, penuh keheranan berlumur romantisme 
masa lalu. "Make RRT Great and Strong again" katanya tiba-tiba.
   
    Betul, bahwa imperialisme-kapitalisme itu sontoloyo ya jelas harus dilawan. 
Tinggal dicari  caranya. Pertanyaannya, kenapa RRC  sekarang ikut-ikutan  jadi 
sontoloyo (imperialis kapitalis)?
   
    Kalau RRC serius mau melawan AS maka yang pertama harus dilakukan adalah 
stop jadi  sontoloyo. Kemudian unjuk gigi bikin  pulau-pulau buatan (basis  
militer) di sepanjang pantai timur  dan barat AS-Kanada untuk  membuktikan 
kesungguhan  RRC membangun komunisme di Pasifik  selatan (Australia, Papua, 
Selandia Baru, Fiji dst).  Sekurangnya, masuklah ke Honolulu,  jangan cuma 
sampai Manila.  
   
  Biarkan ASEAN jadi penonton VIP pertarungan raksasa komunis vs  imperialis 
kapitalis di  Pasifik (atau sekedar imperialis  maju vs imperialis berkembang?) 
     
     -- yskp45@... wrote:              
  Sangat aneh Bung Chanct, 
   Semenjak berakhir Perang Imperialisme Dunia ke-II. Filipina dijadikan USA  
sebagai basis Militer untuk mengintervensi negara-negara Asia-Tenggara,  dan 
dari Pelabuhan Udara Manila berterbangan pesawat Udara penBom USA  memBom 
Vietnam, mengsubversi RRT, Uni Sowyet, mengintervensi, dan mengorganisasi 
segala bentuk aksi penghancuran kekuasaan Negara Republik  Indonesia-Presiden 
Soekarno, pemberontakan PRRI, PERMESTA, membantu DII/TII sampai dengan Operasi 
CIA yang dipimpin langsung oleh DUBES USA Marshal Green  dan pelaku Lapangan 
John Sotckwell bersama para Jendral TNI September 1965, dan tidak seorangpun 
dari para heroik anti-RRT bilang itu adalah  ofensive Imperialisme USA, untuk 
menguasai selanjutnya regional Asia  dan Pacific.  
  Permulaan Abad ke-XXI muncul RRT di Arena Internasional dengan  ofensive 
Damai berusaha mengexpos kehadiran Militer/kekuasaan  USA dari Asia & Pacific 
dan berteriak para anti-RRT , "itu adalah Imperialisme", amboi, amboi,  Bung 
Chanct, pada Abad ke-XXI banyak bentuk perjuangan,  dari kekuatan Demokratis 
Civilisasi Dunia dalam konstalasi imbangan  kekuatan, yang selau berobah dan 
dengan RRT yang sedang menuju  bentuknya. Lihat umpamyana. Artikel dibawah, 
belum pernah terjadi Volume perdagangan ( Business antara RRT dan Europa Union) 
 dalam tempo duabulan terakhir mencapai 100 Milliard USDolar, dan disini 
kelihatan, bahwa EU sedang dalam perobahan  konstalasi hubungan Internasional 
yang serius, dan saya ikuti,para  Pimpinan RRT sangat-hati-hati, menguasai 
Perekonomian Imperialisme  EU bukanlah masalah mudah, dan permulaan telah 
berjalan dengan baik,  dalam ketentuan hukum Internasional.    
  Mungkin pula akan berteriak para heroik anti-RRT, "itu adalah Imperilisme RRT 
menguasai  PerekonomianEU...???). 
  "Make RRT Great and Strong again".
  
  Tjaniago              

Kirim email ke