Khusus ke Anda, pertanyaannya kan bukan sekedar tentang tegaknya hukum 
internasional dalam sengketa wilayah laut, tapi lebih ke konsistensi sikap Anda 
yang menganggap pembangunan pangkalan militer di LCS adalah hak RRC:
Teentu adalah hak RRT membangun pangkalan militer di beberapa kepulauan di Laut 
Tiongkok  Timur/Selatan yg dianggap masuk wilayah kedaulatan RRT! 

Faktanya, apa yang Anda "anggap" wilayah kedaulatan RRC itu bertentangan dengan 
hukum laut internasional (UNCLOS, ditandatangani ratusan negara). Artinya, 
segala pembangunan yang cepat-cepat dilakukan RRC itu ilegal. 

Jadi, bagaimana konsistensi Anda terhadap tegaknya hukum? 

Kalau mau bersikap butut, tidak pedulikan hukum internasional, kenapa tidak 
sekalian melakukan hal yang sama (bangun basis militer) di pesisir timur dan 
barat AS? Atau, tiba-tiba mata Anda bisa terbuka ini merupakan pelanggaran 
internasional? 

Karena itu, pertanyaan pokoknya adalah:Menurut Anda siapa sebenarnya yang 
menjadi ancaman bagi RRC, Amerika atau Filipina dan ASEAN?

--- SADAR@... wrote:
Bung Ajeg, ... kalau saja bung perhatikan, masalah kepulauan karang di LTS 
dipeerebutkan setelah tahun 1970-an, yaitu setelah diketahui disana merupakan 
ladang minyak yg diperkirakan jauh lebih kaya ketimbang Arab! Tadinya tidak ada 
negara peduli, krn hanyalah kepulauan karang yang tandus dan banyak diantaranya 
tenggelam diweaktu pasang laut, ... Oleh karena itu, ketika disahkan 
peta-perairan LTS dengan 9 Garis-Putus yg ditetapkan Perjanjian Perairan Lautan 
PBB tahun 1947, tidak ada yg persoalkan. Maksud 9 Garis-putus yg disahkan PBB 
ditahun 1947, yang menetapkan wilayah KEDAULATAN Tiongkok diperairan LTS,  
inilah yang jadi pegangan dan dipertahankan RRT sampai sekarang, termasuk 
Kuomintang Taiwan tetap mengakui keputusan PBB ini!
 
Namun kemudian, Dibawah ini peta LTS yg dikeluarkan PBB,  Perairan Lautan PBB 
menentukan batas jarak wilah perairan negara dengan 200 mil-laut (garis-putus 
biru), akibatnya terjadi tumpang tindih dengan 9 garis-putus (merah) yg 
berakibat banyak kepulauan karang jadi persengketaan dengan Vietnam, Malaysia, 
Brunae dan Filipina yang mengklaim masuk wilayahnya. Sedang RRT dengan cepat 
bangun beberapa pulau sebagai pangkalan-militer diujung selatan dan pulau 
pariwisata, termasuk landasan airport, dibawah pengawasan propinsi Hainan 
Tiongkok. 
 
 
 
 

 
 ajeg 於 12/4/2019 23:19 寫道:
     Saya tetap maklum dengan keberpihakan Anda. Malah pengin usul ganti nama 
milis ini jadi  GELORA78 (reformasi Deng), hahaaa...... 
  
  Okelah, sekedar pengisi waktu barangkali bisa Anda ceritakan kenapa anggapan 
soal hak  wilayah di perairan ASEAN tidak boleh disebut imperialisme? Sedangkan 
kalau melakukan hal yang sama (bangun basis militer untuk hak pertahanan) di 
pantai timur dan barat AS, tiba-tiba Anda bisa melihatnya sebagai pelanggaran 
hukum internasional. Menurut Anda siapa sebenarnya yang menjadi ancaman bagi 
RRC, Amerika atau Filipina dan ASEAN?
  
  Teentu adalah hak RRT membangun pangkalan militer di beberapa  kepulauan di 
Laut Tiongkok Timur/Selatan yg dianggap masuk wilayah kedaulatan RRT! Dan  
selama ini RRT tidak ada usaha membangun pangkalan militer dinegara lain 
ataupun lautan Atlanthik sana! Karena RRT BUKAN dan tidak jalankan 
imperialisme,  ...
   
  
     --- SADAR@... wrote: 
  Harus ingat, bahwa tidak beda dengan Republik Indonesia, Republik Rakyat 
Tiongkok adalah keberhasilan perjuangan  rakyat Tiongkok melawan 
kolonialisme-imperialisme dan kekuasaan Tjiang Kaisek yg menjadikan dirinya 
boneka AS itu! Dan sampai sekarang ini, dalam 70tahun, RRT berubah menjadi  
negara yang cukup kuat dibidang ekonomi dan teknologi menyaingi imperialisme AS 
dan dijadikan ancaman berat AS, ...! 
        
Tapi, dalam politik luarnegeri RRT saya tidak melihat ada  gejala usaha 
kangkangi dunia, khususnya dengan kekuatan militer! Usaha  pembangunan dibidang 
ekonomi yg selama ini dilakukan juga berulangkali ditegaskan dengan prinsip 
Saling menguntungkan dan menang  bersama! Justru dengan prinsip jalan Sutera 
yang saling menguntungkan dan menang bersama inilah nampaknya usaha RRT 
berhasil  mendesak AS, ...! Sekalipun AS berusaha mengobok-obok, bahkan tak 
segan-segan  menggulingkan kekuasaan yg tidak nurut dan simpati atau  lebih 
dekat pd RRT dibbanyak negara didunia, ....
 
Teentu adalah hak RRT membangun pangkalan militer di  beberapa kepulauan di 
Laut Tiongkok Timur/Selatan yg dianggap masuk wilayah  kedaulatan RRT! Dan 
selama ini RRT tidak ada usaha  membangun pangkalan militer dinegara lain 
ataupun lautan Atlanthik  sana! Karena RRT BUKAN dan tidak jalankan 
imperialisme, ...
 Sengketa RRT dengan Viet Nam dan Filipina yang terjadi tentu  saja harus 
diselesaikan secara DAMAI. Duduk berunding TANPA harus  direcoki AS! Dengan 
Filipina pun kerjasama masih bisa berlangsung, sekalipun ada protes dengan 
mendekat dan masuknya kapal perang RRT  dikepulauan yg jadi sengketa itu. Dan, 
mestinya dibaca sebagai protes RRT terhadap gencarnya kembali latihan militer 
Filipina dengan AS  semingguan terakhir ini, ... Bukan ancaman RRT utk 
mencaplok Filipina! Itu saja masalahnya! 
  ajeg 於 11/4/2019 22:50 寫道:               
   Semua orang yang memahami perjuangan bangsa-bangsa di Nusantara pasti tahu 
bahwa kemerdekaan Indonesia tidak  untuk memusuhi siapa pun, negara mana pun. 
Sebab, Indonesia secara dialektis adalah antitesa dari penjajahan. 
      
    Jadi, satu-satunya musuh yang harus dilawan bangsa Indonesia hanyalah isme, 
kolonialisme-imperialisme,  yang jelas tidak berperikemanusiaan dan 
perikeadilan. Founding mothers & fathers mau bangsa merdeka ini tidak gampang 
terkecoh urusan lahiriah dan golongan, baik itu londo imperialis putih, londo 
hitam, londo kuning, maupun londo sawo mateng. Bagi saya, normal saja Anda  
tidak tahu tentang itu karena Anda terlalu sibuk memaksakan cara pandang rasis 
supaya saya memusuhi negara ini dan itu hanya karena Anda jiper pada ras yang 
lain.       
       Khusus soal RRC Ping-Ping, Anda kan akui sendiri negara itu sebagai 
imperialis terhadap EU. Panjang lebar  Anda ngoceh untuk menyanjung bahwa 
negara imperialis-baru itu adalah imperialis yang menghormati hukum 
internasional, tanpa sepatah kata pun Anda jawab pertanyaan saya:
    
    "seperti apa penghormatan RRC terhadap hukum internasional dalam sengketa 
wilayah  dengan negara-negara ASEAN (bukan cuma dengan Filipina) di Laut Cina 
Selatan?" 
    
    Kalau tidak sanggup jawab ya tidak ada gunanya omong kosong Anda 
dilanjutkan. 
    
     --- yskp45@... wrote:        
300 Tahun lebih,Spanyol Portugal, Inggeris, Perancis, 
Belgia,Niederland,Jerman,merampok  diseluruh Kontinent Duniai ini, termasuk di 
China. Dengan kemenangan Uni Sowyet dalam Perang Dunia ke-II hancur system 
Kolonialisme/Imperialisme Europa. Dan kemudian semua kaum Kolonial tsb. 
dikumpulkan oleh US-Presiden Truman dalam satu Club yang bernama  NATO: untuk 
Spanol, Portugal, Inggeris, Perancis, Belgia,.Nierdeland dan Jerman mereka  
membutuhkan NATO untuk merebut kembali posisi Kolonialisme mereka yang hilang; 
untuk USA-membutuhkan Europa untuk batu loncatan expansionisme ke Kontinent 
lainnya,  terutama untuk melawan Uni Sowyet/Russia. 
 
 Yang sangat anehnya, tidak sepatahkatapun dari Anda mengenai kebrutalan 
Kolonialisme/Imperialisme EU/NATO-USA, dan Anda pindahkan system Imperialisme 
itu kepada RRT,  atau Anda berharapan dengan anti-sosialisme akan memperoleh 
Hadiah Nobel?
 
 Atau, "seerkor Anjing menggonggongi sebuah bayangan; Anjing-Anjing lainnya 
menerima signal tsb. sebagai bahaya realitas", dan menggonggonglah semuanya wow 
wow  wow, menggonggongi bayangan, bukan realitas".
 Demikian yang sedang tejadi.
 
 Saya pernah mengikuti sebuaht ulisan dengan inisial " Noroyono 1963," dengan 
dramatis menulis:
 
 “Awas, Bahaya Kuning dari Utara”, “PENJAJAH KUNING SEDANG MENGINTAI INDONESIA
 
 " KE ARAH KOLONIALISME CHINA “, dan sesudah ini bermunculan Tulisan-Tulisan 
Anti-RRT dengan nada seperti yang Anda Tulis "Imperialisme, Kapitalisme -  
Sontoloyo,etc. dan itulah mereka-mereka, yang mengonggongi bayangan.". tanpa 
menguasai siatuasi  civilisasi Dunia pada Abad ke-XXI ini; bahwasanya Republik 
Indonesia semenjak lebih dari 1/2 Abad Perkonomiannya dikuasai oleh 
Perusahaan-Perusahaan Raksasa USA  dan Kementerian Pertahanan R.I dikuasai oleh 
CIA, semuanya diam seribu bahasa..
 Delegasi Pemerintah RRT pada Pertemuan di Belgia- dengan EU mendemonstrasikan 
Ofensive Politik Luarnegeri yang Damia dari RRT, dengan segalam ketentuan Hukum 
 Internasional yang berlaku.
 
 --------------------------------
 Pada Ming, 7/4/19, ajeg menulis:
             Terimakasih. Jawaban Anda tentang cara melawan imperialisme dengan 
metode imperialis  cukup mempertegas posisi RRC sebagai negara imperialis 
berkembang yaitu, beraninya cuma menekan negara-negara yang lebih lemah 
pertahanan dan terutama ekonominya. 
  
  Jadi, menurut Anda kenapa RRC tidak berani membangun pulau-pulau buatan 
(basis militer) di  sepanjang pantai timur dan pantai barat AS misalnya, 
sebagai cara melawan imperialisme "berciri  Tiongkok"? 
  Juga, kembali ke topik asal, seperti apa penghormatan RRC terhadap hukum 
internasional dalam sengketa wilayah dengan negara-negara ASEAN (bukan cuma 
dengan Filipina) di Laut Cina Selatan?
  
    --- yskp45@... wrote: 
  Hello Mr. ajeg ajegilelu, melawan Imperialisme dengan methode Imperialisme 
itu sendiri dan di negeri Imperialisme itu sendiri, seperti di EU ( didalam EU 
berkumpul semua kekuatan Kolonialisme/Imperialisme, yang merampok dengan 
kekuatan Militer lebih dari 350 Tahun hampir diseluruh Kontionent di Dunia) 
inilah salahsatu Seni dari Ofensive Damai Politik Luarnegeri  Pemerintahan 
RRT,yang tidak terlihat pada Abad ke-19 dan ke-20 dari pelaku-pelaku Hubungan 
kenegaraan di Arena Internasional ketika itu dan Pemerintahan RRT tidak 
melupakan Pembangunan Kemampuan kekuatan Militer RRT yang ampuh dan  kuat.
  
  Pemerintah RRT tidak membangun Kemiskinan dan Pembodohan Warganegara RRT di 
negerinya,untuk itu Negara memerlukan Pembangunan Perekonomian Negeri disegala 
bidang, termasuk Bussines di Arena Internasional dan sampai hari ini Pemerintah 
RRT menghormati Hukum Internasional, dan itu bukan Sontoloyo Mr..wow,wow,wow.
  
  Istilah "China-Kuli"-penghinaan untuk manusia China,yang dipakai hampir 
diseluruh negeri-negeri yang dikuasai oleh  Kolonialisme/Imperiliasme selama 
350 Tahun, kini, dengan kehadiran RRTdi Arena Internasional yang kuat dibidang 
Ekonomi, pun kekuatan Militer, istilah penghinaan "China-Kuli" habis dari 
seluruh komunikasi. Mr.wow,wow,wow tidak mampu melihat kemenangan Kemanusiaan, 
yang kelihatannya kecil, tetapi menentukan status Nasional sebuah Bangsa China 
yang besar.
  
  Make China Great again bukan romantisme massa lalu, melainkan untuk hari ini 
dan menuju kedapan yang jauh, sesuai dengan Konstitusi RRT, dimana 
jelas-jemelas tertulis "RRT menuju pembangun masyarakat siosialis", dan itu 
akan melalui perjalana yang lauh berliku-liku.
  
  Imperialisme Europa Union sedang berada dalam Erosi Politik-Integrasi yang 
serius, dan hubungan Diplomatik yang tiggi dengan RRT akan memberikan cuaca 
pembentukan hubungan Internasional tanpa kekerasan Militer. Kita ikuti 
selanjutnya pada awal Minggu depan; delegasi Kementerian Luarnegeri RRT akan 
berada di Brussel ( dan itu bukan Sontoloyo, semua  berjalan dalam wadah Hukum 
Internasional yang berlaku).
   
 --------------------------------------------
 
    Pada Sab, 6/4/19, ajeg menulis: 
         Nah, ini komentar agak lumayan, penuh keheranan berlumur romantisme 
masa lalu. "Make RRT Great and Strong again" katanya tiba-tiba.
   
    Betul, bahwa imperialisme-kapitalisme  itu sontoloyo ya jelas harus 
dilawan. Tinggal dicari  caranya. Pertanyaannya, kenapa RRC sekarang 
ikut-ikutan jadi sontoloyo  (imperialis kapitalis)?
   
    Kalau RRC serius mau melawan AS  maka yang pertama harus dilakukan  adalah 
stop jadi  sontoloyo. Kemudian unjuk gigi bikin  pulau-pulau buatan (basis 
militer) di sepanjang pantai timur  dan barat AS-Kanada untuk  membuktikan 
kesungguhan  RRC membangun komunisme di Pasifik  selatan (Australia, Papua, 
Selandia Baru, Fiji dst).  Sekurangnya, masuklah ke Honolulu,  jangan cuma 
sampai Manila.  
   
  Biarkan ASEAN jadi penonton VIP  pertarungan raksasa komunis vs  imperialis 
kapitalis di  Pasifik (atau sekedar imperialis  maju vs imperialis berkembang?) 
     
     -- yskp45@... wrote:              
  Sangat aneh Bung Chanct, 
   Semenjak berakhir Perang Imperialisme Dunia ke-II. Filipina dijadikan USA 
sebagai basis Militer untuk mengintervensi negara-negara Asia-Tenggara, dan 
dari  Pelabuhan Udara Manila berterbangan pesawat Udara penBom USA memBom 
Vietnam, mengsubversi RRT, Uni Sowyet, mengintervensi, dan  mengorganisasi 
segala bentuk aksi penghancuran kekuasaan Negara Republik Indonesia-Presiden 
Soekarno, pemberontakan PRRI, PERMESTA, membantu DII/TII  sampai dengan Operasi 
CIA yang dipimpin langsung oleh DUBES USA Marshal Green dan pelaku Lapangan 
John Sotckwell bersama para  Jendral TNI September 1965, dan tidak seorangpun 
dari para heroik anti-RRT bilang itu adalah ofensive Imperialisme USA, untuk 
menguasai selanjutnya  regional Asia dan Pacific.  
  Permulaan Abad ke-XXI muncul RRT di Arena Internasional dengan ofensive Damai 
berusaha mengexpos kehadiran Militer/kekuasaan USA dari  Asia & Pacific dan 
berteriak para anti-RRT , "itu adalah Imperialisme", amboi, amboi, Bung Chanct, 
pada Abad ke-XXI banyak bentuk perjuangan, dari  kekuatan Demokratis Civilisasi 
Dunia dalam konstalasi imbangan kekuatan, yang selau berobah dan dengan RRT 
yang sedang menuju bentuknya. Lihat umpamyana. Artikel dibawah, belum pernah 
terjadi Volume perdagangan ( Business antara RRT dan  Europa Union) dalam tempo 
duabulan terakhir mencapai 100 Milliard USDolar, dan disini kelihatan, bahwa EU 
sedang dalam perobahan konstalasi hubungan Internasional yang serius, dan saya 
ikuti,para Pimpinan RRT sangat-hati-hati, menguasai Perekonomian  Imperialisme 
EU bukanlah masalah mudah, dan permulaan telah berjalan dengan baik, dalam 
ketentuan hukum Internasional.    
  Mungkin pula akan berteriak para heroik anti-RRT, "itu adalah Imperilisme RRT 
menguasai PerekonomianEU...???). 
  "Make RRT Great and Strong again".
  
  Tjaniago           

Kirim email ke