Sama seperti dorongan lainnya, egoisme harus dikendalikan. Kalau tidak maka si egois tidak ada bedanya dengan orang gugup yang bawa kendaraan, justru dilarikan sepeda / motor / mobilnya. Berbahaya bagi orang lain terlebih dirinya -- tambah mengerikan kalau si egois itu seorang masinis, nakhoda, atau pilot. Jadi, betul, pengendalian ini bisa dimulai dari pendidikan dalam keluarga. Yang pasti, pendidikan pengendalian di rumah, di sekolah, atau kegiatan luar lainnya, bermuatan nilai-nilai sportivitas. Seperti kita tahu, bahkan pelajaran olahraga di sekolah saja sekarang jarang memperkenalkan apa itu sportivitas, porsi terbanyaknya adalah penanaman semangat kompetitif. Supaya berani bersaing, kata si guru olahraga. Dan, siap jadi pemenang, tambahnya. Walhasil, jiwa itulah yang tumbuh di anak murid. Bersaing untuk menang. Menang adalah puncak segalanya. Ujungnya, segala cara pun ditempuh demi mencapai kemenangan. Dengan demikian, atas nama kompetisi, egoismenya menghalalkan caplok-mencaplok, macam si ular mencaplok Adam-Hawa.
Cara paling mudah, tepat, dan murah, untuk mengendalikan egoisme sekaligus menumbuhkan semangat sportivitas ya rutin berolahraga. Pun, melalui kegiatan raga nan intim suami-istri. Gila apa, pengin begituan tapi songong kepala batu mempertahankan egoismenya. Bisa nggak mulai-mulai tuh. --- ilmesengero@... wrote: Mengenai egoisme itu saya kira bisa dikurangi, tergantung dari inlerning proses, yaitu misalnya pendidikan dirumah sendiri, kalau pendidikan anak dipupuk oleh orang tua maka egoisme itu bisa berkurang, selain itu pendidikan diluar luar misalnya ikut patfinder dsbnya.Dalam agama Nasrani yaitu dalam 10 Penyeruhan (ten commanents) disebutkan "kasihilah sesama manusia seperti dirimu sendiri", jadi ini faktor psikologi maupun moral. Dipihak lain dalamdalam Old testament, kitab.
