Pak Noor, saya kok lebih cenderung komentator detik.com yang lebih ngomong seenak udel nya dibandingkan Kwik atau pun dengan AM. Fatwa. Masak misalnya, tidak dapat diakomodasinya suatu perpanjangan kontrak lantas "ngancam-ngancam" terjadinya kesepian investasi. ini logika aneh bin ajaib, ini bentuk pemaksaan khas ala bule. Tak ada yang curang, tak ada yang unfair untuk tak memperpanjang kontrak. Berdalih masih kurang ekonomis masih okelah [namanya juga usaha], walau dalihnya itu dalih cengeng. Paradigma bahwa investasi hanya akan berkembang, hanya pada situasi Indonesia dapat menganak-emaskan investor dan peduli amat dengan anak bangsa sendiri, kok nggak enak rasanya.
Statement ketiga nya Rovicky "Ketiga ... kalo ada yang lebih menguntungkan demi bangsa, ...", seringkali dijadikan argumen oleh pengambil keputusan sesuai interpretasinya sendiri thd kebangsaan plus interestnya sendiri/kelompok2nya. "Kalo kita nggak turuti, rupiah kita dimainin lho, Arun diobrak abrik lagi lho, dll, dll". Kita dikerdilkan terus, oleh pembuat para pembuat ketakutan. TAC WKP Central East Java Block yang kini dikenal dengan ExxonMobil Cepu, adalah kontrak area daerah kerja Pertamina dengan Humpuss Patragas dengan model kontrak TAC. Inilah satu2nya kontrak TAC paling nyeleneh, nyeleneh karena TAC contract ini dibuat tidak berdasarkan Field Basis [spt. gagasan dibuatnya TAC Contract], sedangkan area TAC Cepu ini adalah berbasiskan Area [bukan field] - karena situasi ini, maka dapat diakomodir TAC ini untuk melakukan exploration activities dan dikontrol oleh MPS. Semuanya serba khusus untuk Blok ini, tidak umum untuk kontrak TAC. Humpuss collapse masuk Ampolex - lantas masuk Mobil [ExxonMobil], dan adalah barang tentu dengan perhitungan ekonomis Mobil mau masuk di blok ini. Dengan cepat keuntungan naiknya harga share pengelola diraup, akibat bombastisitasnya pemberitaan reserve yang belum certified, apalagi misalnya dapat mendeklare berhasil mengextended Contract yang akan jatuh pada tahun 2010 hingga 2030. Konon Pertamina tak mau meneruskan kontrak TAC tsb [terminate 2010 saja] dan disambut baik oleh Kwik dan kalangan DPR, Sayangnya khabar2 angin mengabarkan "kekuatan besar" sedang membantu Harry J. Longwell setelah ketemu pengelola utama negeri ini. Wallahualam salam, ar-. [Cepu, duh Cepu. ... silahkan anda saksikan dengan mata hati dan mata anda sendiri kehidupan rakyat seputaran kota minyak tersebut, ........... , Kawengan, Nglobo, Balun, Wonocolo, ........ dolarnya entah dimana -----Original Message----- From: SYARIFUDDIN Noor [mailto:[EMAIL PROTECTED]] Sent: Tuesday, August 27, 2002 9:22 AM To: [EMAIL PROTECTED] Subject: Re: [iagi-net-l] Exxon di Cepu: Diperpanjang atau Tidak??? Urusan Cepu memang ruwet Ndang..........jadi kalau mau komen kayaknya kita musti peljari dulu deh...kalau nggak ya kita asal bunyi tanpa tau permasalahan sebenarnya........dulu seinget aku cak Ar mo bikin grup diskusi soal ini (aku masih inget ngomongnya di sekretariat IAGI...) Perkara Kwik dan Fatwa mo ngomong seenak udele dewe ya memang itu kerjaan mereka...mereka memang dibayar untuk ngomong....tapi masak kita mo ikut-ikutan.......? Masih inget waktu Amien Rais ngomong soal emas yang 'berbungkah-bongkah' di Freeport...? salam, "Andang Bachtiar" <[EMAIL PROTECTED]> 08/26/2002 07:03 PM Please respond to iagi-net To: <[EMAIL PROTECTED]> cc: Subject: [iagi-net-l] Exxon di Cepu: Diperpanjang atau Tidak??? Pagi ini saya membaca komentar salah seorang rekan kita di detik.com soal perpanjangan kontrak Exxon Mobil di Cepu sebelum waktunya dalam menanggapi komentar AM FATWA yang setuju dengan Kwik Kian Gi untuk menolak perpanjangan tersebut. Saya copykan sbb: ............................................................................ ............................................... Saya tidak ada kaitan sama sekali dengan ExxonMobil, tetapi saya bekerja pada perusahaan minyak dan gas. Menurut pandangan saya, kalau kontrak ExxonMobil tidak diperpanjang, hal ini akan memperburuk iklim investasi di Indonesia. Sebagai investor, perusahaan mana pun ingin modalnya kembali dan meraup keuntungan. Dengan sistem Production Sharing Contract atau pun TAC, sebagian besar dari pendapatan minyak dan gas akan masuk ke negara. Kalau pun Pertamina ingin masuk sebagai partner, saya setuju sekali, karena diharapkan Pertamina dapat belajar dari kemitraan ini. Tapi jangan sekali-kali menutup minat investor untuk berusaha di Indonesia. Kalau kita ingat tahun 1960-an, terjadi nasionalisasi perusahaan asing. Hal itu membuat kabur investor. Usaha Pak Fatwa juga setali tiga uang dengan nasionalisasi. ............................................................................ ................................................ Apakah anda punya komentar???? adb --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Visit IAGI Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi ===================================================================== Indonesian Association of Geologists [IAGI] - 31st Annual Convention September 30 - October2, 2002 - Shangri La Hotel, SURABAYA

