Jangan-jangan mereka takut kalau bayar semua, bisa dianggap sebagai 'admission 
of guilt'...
Mungkin mereka juga menganggap bahwa mereka tidak bersalah dan memang belum ada 
'keputusan yang berkekuatan hukum tetap', secara legal mereka tidak punya 
kewajiban membayar gantirugi apapun.
 Apakah seorang pendaki yang menimpukkan batu ke kawah Merapi  perlu merasa 
bertanggung jawab atas punahnya desa Kinahrejo, mungkin kira-kira begitu.
Apa-apa yang sudah dikeluarkan selama ini sudah dikeluarkan bisa jadi hanya 
berupa uang 'kerahiman' saja.

Melanjutkan analogi kecelakaan lalulintas, bisa jadi mobil yang terlibat 
menganggap bahwa kewajiban kemanusiaannya (bukan kewajiban legal) sudah 
ditunaikan dengan melakukan pertolongan pertama (bikin dam, mengungsikan 
sebagian RT yang paling parah dll.) dan membawa korban ke rumah sakit . 
Kewajiban Rumah sakit (baca, pemerintah) untuk merawat korban sampai sembuh 
REGARDLESS of siapa yang bersalah. Setelah korban sembuh atau at least sudah 
tidak kritis, baru rumah sakit bekerja sama dengan LanTas dan Kepolisian untuk 
meneliti apakah pengendara mobil bersalah dan kalau memang terbukti, menagih 
segala biaya perawatan kepadanya.
Jangan pasien yang masih berada di UGD yang disuruh teriak-teriak menuntut hak 
dan biaya pengobatannya langsung ke si pengendara...... yang jangan-jangan 
sudah melanjutkan perjalanannya ke Jalan Merdeka Utara    ; )



O'Sedang menikmati segala diskusi teknik yang sedang terjadi dan coba mencerna 
paper-paper dan dongeng-dongeng yang ada...



 
--- On Tue, 31/5/11, kartiko samodro <[email protected]> wrote:

From: kartiko samodro <[email protected]>
Subject: Re: [iagi-net-l] Andang Protes
To: [email protected]
Received: Tuesday, 31 May, 2011, 9:27 AM

Sepertinya kalau memang tulus hendak membayar lunas sekaligus juga bisa 
deh ...kenapa harus mencicil ? 
Kasihan kan kalau dicicil, mau pindah ke tempat yang baru tidak cukup, mau 
terus ditungguin susah...
padahal kalau sudah lunas , mereka kan bisa cari tempat tinggal baru, memulai 
kehidupan yang baru, sekolah lagi dsb.
 
sebenarnya bottomline dari perdebatan rekan rekan geologist kan bukan murni 
karena science tapi lebih karena keprihatinan akan kondisi korban 
lapindo...coba kalau masalah korban lapindo ini sudah beres, kita akan lebih 
jernih mencari solusi untuk penanganan lumpur ini selanjutnya.

 
jangan sampai seperti kecelakaan di jalan, orang saling ribut menyalahkan siapa 
yang menubruk duluan , sementara korban kecelakaan yang sudah megap megap 
dibiarkan.
 


Kirim email ke