Teman; Dari sisi institusi pemungut retribusi-Pemda, yang ada dalam benak mereka adalah; ada obyek unik di daerah saya yang menyebabkan orang datang sehingga dapat digunakan sebagai penghasil Pendapatan Asli Daerah(PAD) sektor pariwisata. Uangnya bisa digunakan untuk promosi dan perawatan obyek dan pengembangan masyarakat disekitar obyek. (Teorinya)
Dari sisi pengunjung, sabagai konsumen tidak melihat nilai tambah dari uang yang kita bayarkan. Perawatan: tanda tanya, dan informasi ttg tempat wisata, lebih sering tidak kita dapatkan. Plus cara pengumpulannya yang tidak berorientasi pelayanan. Pengunjung cuma dilihat sebagai obyek retribusi penghasil PAD Mungkin masalahnya balik ke PAD, gimana pemda mengukur PAD dari sektor pariwisata. Kalo hanya diukur dari pengumpulan retribusi, ya demikian hasilnya. Dalam situasi pungutan yang tidak logis dan semata berdasar pada aspek legal keputusan birokrat, saya sendiri di biasanya membayar sambil berkata dalam hati; gue gak akan rekomendasikan ke temen untuk datang ke sini dan gak bakal balik lagi kalo gak terpaksa...apakah pengelola tempat wisata merasa kehilangan konsumen? tentu tidak. tabik, puguh --- In [email protected], Janarius Sandy <janarius...@...> wrote: > > Salam,, > > Sedikit ingin menanggapi masalah retribusi, menurut saya juga memang sedikit > mengganggu sih. apalagi misalnya ketika kita sudah sampai ditempat tujuan, > ketika hati ini sudah berbunga-bunga bersiap melakukan hal-hal menyenangkan > ditempat itu, tiba-tiba datang seorang pemuda lokal tanpa baju lokal (saya > akan menghargai jika dia memakai busana lokal, minimal seperti di bali, jadi > kesannya kita disambut gitu) trus menarik retribusi. > Ya memang tidak besar -mungkin karena rada ilegal- paling 2 - 5ribu rupiah. > Namun rasanya kok ada yang kempes di dada ini. Cesss gitu jadi rada males mau > jalan2 lagi ke tempat wisata yang sudah didepan mata. kadang juga saya > bersikap tidak peduli supaya tidak ada yang 'kempes' di dada dan tetap bisa > menikmati suasana. > > Contoh lain waktu juli lalu saya ke titik nol di pulau sabang, mendekati tugu > km nol, ditengah jalan yang diapit hutan belantara, ada seorang pemuda > memakai baju tanpa lengan menagih retribusi. Tidak besar, tapi jelas bikin > kaget. Ditengah suasana sepi dan aga gelap, tiba-tiba motor saya dihentikan. > > Ah indonesiaku sayang. > > janarius sandy > > > > > ________________________________ > From: eddy suswadi <esusw...@...> > To: Indobackpacker Groups <[email protected]> > Sent: Tuesday, July 28, 2009 7:58:20 AM > Subject: [indobackpacker] RETRIBUSI WISATA > > > > Selamat Pagi, > > Berbicara masalah pariwisata di Negara kita tercinta Indonesia, banyak hal > yang mesti kita kritisi dan diskusikan untuk memajukan wisata, salah satu > contoh yang ingin saya sampaikan adalah masalah RETRIBUSI WISATA, > > 1. Minggu lalu, 18 Juli 2009, saya menuju Pelabuhan Ratu melalui jalur > Cikidang, ditengah perjalanan ada pungutan RETRIBUSI, memang tidak besar tapi > bagi saya cukup menggangu. terjadilah dialog : > > Saya : Maaf Pak, Ini Retribusi apa ? > Petugas : Masuk daerah wisata Arung jeram Citarik > Saya : Maaf Pak, saya tidak ingin berarung jeram saya mau ke Bayah > Petugas : Terdiam dan saya melanjutkan perjalanan tanpa bayar. > > 2. Lepas dari Pelabuhan Ratu, sebelum Hotel samudra beach, juga ada RETRIBUSI > kembali, namun karena waktu itu ada rombongan motor, saya ambil jalur kanan > tanpa ditanya petugas. > > 3. Setahun yang lalu, pada saat perjalanan dari Wonosobo arah ke Dieng, > begitu lepas kota WONOSOBO ada RETRIBUSI masuk wilayah wisata, padahal itu > ditengah jalan besar. > > Menurut pendapat saya RETRIBUSI WISATA ditengah jalan ini, yang memang resmi > dari PEMDA (ada karcisnya) sangat mengganggu pekembangan wisata. > > Mohon tanggapan dan pengalaman rekan2. > > Terima kasih >
