wah salut banget sama kompaknya masyarakat n Pemda Bali...Gimana supaya 
kesadaran ini menular ke masing2 masyarakat dengan Pemdanya ya..Satu lagi yang 
saya salut sama Bali..salah satu guide pernah bilang ke saya kalo orang Bali 
udah di didik dari kecil kalo Turis itu "Raja" jadi gak boleh kasar sama 
turis..wah hebat banget memang kalo servis pariwisata kayaknya Bali belum 
tertandingi sama propinsi Indonesia lainnya ya..

--- On Sun, 8/2/09, Made Sutawijaya <[email protected]> wrote:


From: Made Sutawijaya <[email protected]>
Subject: Re: [indobackpacker] Re: RETRIBUSI WISATA
To: "puguh_imanto" <[email protected]>, [email protected]
Date: Sunday, August 2, 2009, 8:34 PM


  



Temans,

Menarik dan ada satu topik lagi tentang Malaysia, yang rame akan komentar dan 
ada satu hal yang selalu jadi perbandingan di negeri kita adalah Bali. Bukan 
saya bermaksud menyombongkan Bali karena saya dari Bali, tidak ada hal seperti 
itu. Bali juga mengalami proses pasang surut pariwisata, jatuh saat bom bali 1, 
jatuh lebih parah lagi saat bom bali 2, belum lagi intrik2 share pariwisata 
antara pusat dan daerah, sampai masalah SARA dan segala macemnya yang bersifat 
kecemburuan. Ini yang membuka wawasan masyarakat Bali terhadap pariwisatanya.

Syukur sekali keberadaan Desa Adat Bali masih diperhitungkan oleh Pemda, dan 
pemda sadar ujung tombak dari pariwisata itu adalah masyrakat desa adat itu. 
Awalnya benturan antara pemda dan masyarakat Adat, tapi kemudian setelah banyak 
komponen urun rembug, hasilnya banyak sekali. Mungkin temans ada yang melihat 
sebuah upacara di Bali atau obyek wisata di Bali yang petugasnya memakai 
pakaian adat Bali, itu salah satunya, tapi yang penting adalah share antara 
masyrakat adat setempat dan pemda itu sendiri, baik dari sisi penugasan, hasil 
dan manfaatnya.. ......... .. memang masih banyak keluhan, hal itu karena 
proses semata, yang mana wawasan tiap kelompok masyarakat itu berbeda. Ada 
sebuah tempat yang protektif terhadap orang luar, tapi ada juga yang acuh akan 
orang luar, semisal Kuta ataupun Sanur. 

Hanya ada satu hal yang saya amati di Bali adalah masih kurang kerjasamanya 
antara para pelaku pariwisata, sehingga mereka bersaing dengan sesamanya, 
padahal ada yang pelu disaingi yaitu pelaku pariwisata dari luar daerah atau 
luar negeri.

Yang saya tahu, kalau dari obyek wisata, banyak yang indah dari Bali. Misalkan 
pesisir selatan Pulau Jawa, Belitung, Dieng, Kota Gede, Raja Ampat dan 
sebagainya.. ........tapi ada yang kurang dibandingkan dengan Bali. Kurang 
kesatuannya antara tempat yang indah itu dengan budaya lokalnya. Banyak budaya 
lokal yang diintervensi atau tanpa proteksi dari intervensi budaya luar, salah 
satunya adalah penyebaran religi tertentu, sehingga secara langsung mengurangi 
wawasan respek mereka terhadap alam mereka sendiri. Saya berharap Kampung Naga 
dan juga Kampung Bena tahan akan cobaan luar, andai intervensi religi dan 
budaya luar berhasil.... . obyek wisata itu akan hilang ketelan bumi, antara 
tempat dan prilaku akan memisahkan diri yagn akhirnya akan menyublim.

Misalkan di Desa Tenganan, Desa Trunyan dan Desa Bugbug, 3 buah contoh desa 
tradisional di Bali yang masih eksis kebudayaan sebelum Hindu masuk. Yogya dan 
Solo mungkin bisa digolongkan karena tradisi kejawennya. Kembali ke Bali, 
setelah retribusi dishare antara pemda dan masyarakat setempat, manfaatnya dan 
tanggungjawabnya jadi lebih jelas, preman jadi berkurang, pedagang acung yang 
maksa2 jadi lebih berkurang, mungkin kedua hal itu masih ada tapi semakin minim.

Oya, promo wisata yang berbasiskan masyarakat adat masih kurang, lebih banyak 
promosi oleh pemda yang notabenenya kurang kreative dan boros...... saya yakin 
suatu saat akan terbentuk dengan sendirinya oleh masyarakat itu sendiri.

Sebaiknya kunjungilah Nusantara ini, daripada harus berkunjung ke negeri orang, 
apapun konsekuensinya. Kita sendiri sebagai wisatawan yang harus sadar akan 
keanekaragaman negeri kita. Ngapain ke negeri Maling kalau kita punya yang 
lebih baik....:-)

salam,
made

----- Original Message ----- 
From: puguh_imanto 
To: indobackpacker@ yahoogroups. com 
Sent: Saturday, August 01, 2009 1:22 AM
Subject: [indobackpacker] Re: RETRIBUSI WISATA

Teman;

Dari sisi institusi pemungut retribusi-Pemda, yang ada dalam benak mereka 
adalah; ada obyek unik di daerah saya yang menyebabkan orang datang sehingga 
dapat digunakan sebagai penghasil Pendapatan Asli Daerah(PAD) sektor 
pariwisata. Uangnya bisa digunakan untuk promosi dan perawatan obyek dan 
pengembangan masyarakat disekitar obyek. (Teorinya)

Dari sisi pengunjung, sabagai konsumen tidak melihat nilai tambah dari uang 
yang kita bayarkan. Perawatan: tanda tanya, dan informasi ttg tempat wisata, 
lebih sering tidak kita dapatkan. Plus cara pengumpulannya yang tidak 
berorientasi pelayanan. Pengunjung cuma dilihat sebagai obyek retribusi 
penghasil PAD

Mungkin masalahnya balik ke PAD, gimana pemda mengukur PAD dari sektor 
pariwisata. Kalo hanya diukur dari pengumpulan retribusi, ya demikian hasilnya. 

Dalam situasi pungutan yang tidak logis dan semata berdasar pada aspek legal 
keputusan birokrat, saya sendiri di biasanya membayar sambil berkata dalam 
hati; gue gak akan rekomendasikan ke temen untuk datang ke sini dan gak bakal 
balik lagi kalo gak terpaksa...apakah pengelola tempat wisata merasa kehilangan 
konsumen? tentu tidak.

tabik,
puguh
















      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke