Bagi seorang penyuka jalan, souvenirs adalah keharusan. Tapi pernahkah
terlintas untuk siapa sebenarnya souvenirs tadi?

Bukahkah hadiah adalah wujud perhatian dan cinta pada teman, kekasih, suami,
istri, orangtua? Really? Memanifestasikan hadiah dari perjalanan kita
mengandung banyak unsur. Oleh-oleh, souvenirs dan buah tangan bisa saja
diwujudkan benda, bisa dimakan ataupun tidak, bisa disimpan atau tidak.

Kawan saya pernah curhat. Ia dihadiahi kawannya sebuah kain cantik ketika
kembali dari India. Tapi begitu hubungan mereka berubah, sang pemberi hadiah
serta merta meminta kain itu kembali. Dalam perspektif saya, esensi
'memberi' adalah ikhlas. Entah barang entah tenaga entah uang. Jadi benda
yang telah kita berikan pada seseorang sebagai oleh-oleh adalah ikhlas
untuknya. Tak usah disesali ketika hubungan itu berubah. Toh mungkin memang
hanya sebatas itu penghargaan orang lain terhadap saya. Toh pada saat itu
saya memang mencintainya.

Disisi lain, sebagai penyuka jalan saya tidak pernah meminta oleh-oleh
tetapi tidak menolak jika ditawari yang berarti bersifat tidak mengikat. Ini
karena saya yakin mereka cukup sibuk dengan perjalanannya dan mungkin tidak
akan sempat membelikan 'pesanan'. Sakit hati? tidak juga. Karena itu tadi,
saya tidak meminta.

Tidak meminta juga mempunyai sisi lain, yakni kita jadi tidak berharap. Itu
juga tidak merubah hubungan saya dengan teman yang sengaja/tidak,  ternyata
lupa sama sekali membawakan oleh-oleh. Toh benda hanyalah benda, sedangkan
bukti persahabatan tidak harus diwujudkan barang. Dalam hal ini saya
menghargai persahabatan lebih tinggi dari sekedar oleh-oleh.

Saya kemudian mulai membeli untuk diri sendiri, sebagai pengingat atau
kenangan mengunjungi sebuah tempat. Kaos, topi, pin, magnet kulkas,
gantungan kunci. You've named it! Tapi pada suatu hari saya tertegun ketika
seseorang meminta untuk dibelikan satu gantungan kunci. Sebuah benda tentang
negara yang tidak ia kunjungi, tidak ia alami dan hanya ia mimpikan. Saya
jadi jatuh kasihan. Saya ternyata menawarkan impian kosong. Dari situlah
saya berhenti membeli oleh2 'pesanan'.

Kosentrasi saya berubah pada benda untuk orang lain menjadi benda untuk
mengingatkan pada sebuah tempat yang pernah saya kunjungi. Yang saya cari
pun adalah benda yang unik, yang tidak bisa saya dapatkan di tempat lain.
Bukannya gantungan kunci Made in China.

Barang itu sepele saja, mungkin sangat tidak berharga jika dibawa. Topi
pandan misalnya. Saya peroleh di Nias yang ternyata diberi tandatangan dan
nama kawan yang saya temui disana. Harganya hanya 5ribu, buatan tangan
seorang ibu yang saya kenal ketika mengajar anak-anak disana. Di Nepal saya
membeli bel (klenthengan) yang tergantung di leher binatang yak di sebuah
warung kecil penjual teh dalam perjalanan trek ke Kala Pattar. Bunyi bel itu
mengingatkan saya pada perjalanan panjang melewati pegunungan berdebu dan
bersalju. Irama dengungnya masih terngiang ketika saya kembali pulang. Ada
moment yang saya ingin simpan di ingatan dan kehidupan sekarang.

***

Tidak ada konsistensi barang apa yang saya simpan. Terkadang kain, di lain
waktu mungkin hanya sebuah mainan anak-anak. Tetapi setiap belahan benda itu
memberikan kenangan dari bagian perjalanan saya.

Ada benda yang membuat saya teringat tentang bayi dan anak perempuan di
pegunungan Sapa, Vietnam. Kisah mereka sangat melekat karena anak-anak
perempuan disana menikah diusia dini. Tak jarang mereka menggendong bayi
padahal masih berusia 14tahun. Karena itu topi bayi adalah simbol kenangan
yang paling berkesan disana. Juga sebuah dompet anyaman dari serat pohon di
Serawak. Saya peroleh ketika selesai trek di Mulu menuju suku Dayak. Polanya
sederhana, dengan warna seadanya. Tapi kenangan tentang pohon tropis
Kalimantan yang makin tipis membuat saya tergerak memperolehnya.

Saya berusaha agar souvenirs itu adalah hasil kerajinan tangan, bukan
produksi massal. Terutama barang itu dihasilkan oleh kalangan/suku yang
merupakan bentukan seni mereka, cara berekpresi dengan sebuah benda. Guratan
di batang, kain dari bahan alami, atau manik-manik dari biji-bijian. Selain
itu, membeli langsung dari mereka sangat disarankan. Bukan melalui toko atau
tangan ketiga keempat yang mungkin membuat harga melambung tinggi karena
mengambil fees perantara. Terkadang usaha membuat oleh2 ini adalah satu2nya
yang membuat suku/budaya itu bertahan.

Menghargai buatan tangan entah itu benda yang bisa disimpan atau tidak,
adalah proses kita menghormati tempat yang kita pernah kunjungi, orang yang
kita temui dan pengalaman yang kita bagi dengan mereka. Sekali lagi cinta
pada orang lain bisa kita wujudkan dari benda itu. Terdengar egois, tapi
mungkin tidak jika kita melihat dari kacamata yang lebih lebar.

Jadi cintakah kita pada benda, orang lain atau tempat kita berkunjung
sebagai manifestasi semata?

Buat saya, itu lebih dari sekedar cinta.




PS: renungan ini diilhami posting Matt Gross di Frugal Traveler disini
http://frugaltraveler.blogs.nytimes.com/2009/11/18/finders-keepers-souvenirs-on-the-road/dan
permintaan seorang reporter tentang koleksi dari perjalanan.



Salam,
ambar


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke