Dear Kawan Backpacker,
Membaca tulisan mbak Ambar mengenai souvenirs dan buah tangan, rasanya saya 
ingin sedikit sekadar ikut share juga...
Jujur, berlibur umumnya bagi sebagian Indonesian bukanlah sesuatu yang 
murah,,mengapa? lihat saja keluarga ( sanak family) tetangga, rekan kerja atau 
sekolah,, mereka semuanya merasa berhak untuk mendapatkan souvenir dari kita 
apabila kita bepergian..walau ujungnya mungkin saja ada kerabat yang kita 
berikan suvenir tadi menunjukan rasa kurang tahu dirinya dengan berharap 
mendapat oleh oleh yang lebih layak ketimbang sebuah gantungan kunci atau 
kaos,,,mungkin berharap tas atau sepatu bermerk sekalian :(, bisa dibanyangkan 
berapa jumlahnya apabila setiap orang merasa berhak mendapat hadiah special
Kebiasaan kita memberi oleh oleh, tanpa sengaja saya terapkan juga ke banyak 
kawan asing saya di UK, beberapa kali saya meminta sahabat yang datang kemari 
atau via post untuk mengirimkan berupa scarf batik, kain batik atau hal hal 
berbau etnik indonesia,, beberapa kawan asing berterima kasih, namun ada juga 
yang menolak dan tidak bisa menerima hanya karena tidak mau merepotkan karena 
mereka berfikir kita mengeluarkan uang untuk membeli itu,,,well orang beda 
beda,, tapi disitu jelas sekali saya bisa rasakan bahwa beberapa dari mereka 
tidak mau kita repot mengeluarkan uang untuk membeli souvenir itu... (beda 
rasanya dengan tulisan saya diatas :) mungkin juga salah satunya soal kebiasaan 
dan kesempatan


Souvenir yang rasanya sangat menyentuh adalah buatan tangan sendiri ( 
personalized gift) , bagi yang mempunyai jiwa kreatif misalnya mungkin sekadar 
post card dan tanda tangan kita sekaligus tanggal dan sedikit kata kata mutiara 
yang menyentuh atau seikit kesan mengenai hal hal yang berhubungan dengan orang 
yang menerima souvenir tersebut bisa kita tuliskan dibelakangnya...kebetulan 
saya dapat menggambar komik /karikatur, maka saya bisa lebih mengirit karena 
saya hanya gambar dan mewarnai saja, jauh lebih personalized mulai dari 
birthday maupun ucapan selamat tinggal, 
namun bukan terbatas kepada post card, special card  atau gambar saja,, apapun 
itu dengan selama cara kita memberinya special pasti akan terasa 
special,,,,,dan yang jelas cukup unik,. mungkin saja kerupuk gurilem dari 
bandung akan lebih menggoda dari pada pisang molen yang harganya lebih mahal 
...disesuaikan dengan siapa kita akan memberi oleh oleh tersebut
Dan benar adanya,,apapun yang kita berikan terhadap seseorang, bukan semata 
gift atau souvenir,, namun wujud bahwa orang tersebut ada di hati kita
Love For All Hatred for None,

OGGI GUNADI MLondon, United KingdomPhone : (+44) 798 346 5298Facebook 
:oggigunadi YM : thisisoggi1Web : http://oggigunadi.wordpress.com          
http://www.youtube.com/oggigunadi


--- On Tue, 1/6/10, Ambar Briastuti <[email protected]> wrote:

From: Ambar Briastuti <[email protected]>
Subject: [indobackpacker] Merefleksi Oleh-oleh, Souvenirs dan Buah Tangan
To: [email protected]
Date: Tuesday, 1 June, 2010, 22:31















 
 



  


    
      
      
      Bagi seorang penyuka jalan, souvenirs adalah keharusan. Tapi pernahkah

terlintas untuk siapa sebenarnya souvenirs tadi?



Bukahkah hadiah adalah wujud perhatian dan cinta pada teman, kekasih, suami,

istri, orangtua? Really? Memanifestasikan hadiah dari perjalanan kita

mengandung banyak unsur. Oleh-oleh, souvenirs dan buah tangan bisa saja

diwujudkan benda, bisa dimakan ataupun tidak, bisa disimpan atau tidak.



Kawan saya pernah curhat. Ia dihadiahi kawannya sebuah kain cantik ketika

kembali dari India. Tapi begitu hubungan mereka berubah, sang pemberi hadiah

serta merta meminta kain itu kembali. Dalam perspektif saya, esensi

'memberi' adalah ikhlas. Entah barang entah tenaga entah uang. Jadi benda

yang telah kita berikan pada seseorang sebagai oleh-oleh adalah ikhlas

untuknya. Tak usah disesali ketika hubungan itu berubah. Toh mungkin memang

hanya sebatas itu penghargaan orang lain terhadap saya. Toh pada saat itu

saya memang mencintainya.



Disisi lain, sebagai penyuka jalan saya tidak pernah meminta oleh-oleh

tetapi tidak menolak jika ditawari yang berarti bersifat tidak mengikat. Ini

karena saya yakin mereka cukup sibuk dengan perjalanannya dan mungkin tidak

akan sempat membelikan 'pesanan'. Sakit hati? tidak juga. Karena itu tadi,

saya tidak meminta.



Tidak meminta juga mempunyai sisi lain, yakni kita jadi tidak berharap. Itu

juga tidak merubah hubungan saya dengan teman yang sengaja/tidak,  ternyata

lupa sama sekali membawakan oleh-oleh. Toh benda hanyalah benda, sedangkan

bukti persahabatan tidak harus diwujudkan barang. Dalam hal ini saya

menghargai persahabatan lebih tinggi dari sekedar oleh-oleh.



Saya kemudian mulai membeli untuk diri sendiri, sebagai pengingat atau

kenangan mengunjungi sebuah tempat. Kaos, topi, pin, magnet kulkas,

gantungan kunci. You've named it! Tapi pada suatu hari saya tertegun ketika

seseorang meminta untuk dibelikan satu gantungan kunci. Sebuah benda tentang

negara yang tidak ia kunjungi, tidak ia alami dan hanya ia mimpikan. Saya

jadi jatuh kasihan. Saya ternyata menawarkan impian kosong. Dari situlah

saya berhenti membeli oleh2 'pesanan'.



Kosentrasi saya berubah pada benda untuk orang lain menjadi benda untuk

mengingatkan pada sebuah tempat yang pernah saya kunjungi. Yang saya cari

pun adalah benda yang unik, yang tidak bisa saya dapatkan di tempat lain.

Bukannya gantungan kunci Made in China.



Barang itu sepele saja, mungkin sangat tidak berharga jika dibawa. Topi

pandan misalnya. Saya peroleh di Nias yang ternyata diberi tandatangan dan

nama kawan yang saya temui disana. Harganya hanya 5ribu, buatan tangan

seorang ibu yang saya kenal ketika mengajar anak-anak disana. Di Nepal saya

membeli bel (klenthengan) yang tergantung di leher binatang yak di sebuah

warung kecil penjual teh dalam perjalanan trek ke Kala Pattar. Bunyi bel itu

mengingatkan saya pada perjalanan panjang melewati pegunungan berdebu dan

bersalju. Irama dengungnya masih terngiang ketika saya kembali pulang. Ada

moment yang saya ingin simpan di ingatan dan kehidupan sekarang.



***



Tidak ada konsistensi barang apa yang saya simpan. Terkadang kain, di lain

waktu mungkin hanya sebuah mainan anak-anak. Tetapi setiap belahan benda itu

memberikan kenangan dari bagian perjalanan saya.



Ada benda yang membuat saya teringat tentang bayi dan anak perempuan di

pegunungan Sapa, Vietnam. Kisah mereka sangat melekat karena anak-anak

perempuan disana menikah diusia dini. Tak jarang mereka menggendong bayi

padahal masih berusia 14tahun. Karena itu topi bayi adalah simbol kenangan

yang paling berkesan disana. Juga sebuah dompet anyaman dari serat pohon di

Serawak. Saya peroleh ketika selesai trek di Mulu menuju suku Dayak. Polanya

sederhana, dengan warna seadanya. Tapi kenangan tentang pohon tropis

Kalimantan yang makin tipis membuat saya tergerak memperolehnya.



Saya berusaha agar souvenirs itu adalah hasil kerajinan tangan, bukan

produksi massal. Terutama barang itu dihasilkan oleh kalangan/suku yang

merupakan bentukan seni mereka, cara berekpresi dengan sebuah benda. Guratan

di batang, kain dari bahan alami, atau manik-manik dari biji-bijian. Selain

itu, membeli langsung dari mereka sangat disarankan. Bukan melalui toko atau

tangan ketiga keempat yang mungkin membuat harga melambung tinggi karena

mengambil fees perantara. Terkadang usaha membuat oleh2 ini adalah satu2nya

yang membuat suku/budaya itu bertahan.



Menghargai buatan tangan entah itu benda yang bisa disimpan atau tidak,

adalah proses kita menghormati tempat yang kita pernah kunjungi, orang yang

kita temui dan pengalaman yang kita bagi dengan mereka. Sekali lagi cinta

pada orang lain bisa kita wujudkan dari benda itu. Terdengar egois, tapi

mungkin tidak jika kita melihat dari kacamata yang lebih lebar.



Jadi cintakah kita pada benda, orang lain atau tempat kita berkunjung

sebagai manifestasi semata?



Buat saya, itu lebih dari sekedar cinta.



PS: renungan ini diilhami posting Matt Gross di Frugal Traveler disini

http://frugaltraveler.blogs.nytimes.com/2009/11/18/finders-keepers-souvenirs-on-the-road/dan

permintaan seorang reporter tentang koleksi dari perjalanan.



Salam,

ambar



[Non-text portions of this message have been removed]





    
     

    
    


 



  











      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke