Sharing yang menarik mbak Ambar. Boleh ya saya ikut nanggapi (meski nggak 
diminta hehe..)

Kalau saya sendiri, seperti kebanyakan orang Jawa,  seperti mengharuskan diri 
untuk membawa oleh2, entah makanan atau souvenir, setidaknya untuk bbrp 
tetangga dan kawan2 dekat di kantor. Terutama  jika saya travelling karena 
tugas kantor. Hehe iyalah, semua2 dibayarin, jadi masih punya cukup uang untuk 
beli oleh-oleh. 

Membeli oleh2 benar2 saya lakukan atas dasar sukarela, hanya oleh-oleh kecil 
seperti makanan yang bisa dibagi2 ke tetangga atau teman se ruangan, souvenir 
kecil murah meriah utk teman2 yang "menagih" atau kadang oleh2 yg sedikit agak 
mahal seperti kaos untuk suami, tas unik untuk adik dan kakak, topi lucu untuk 
anak dan lain-lain.

Akibatnya bisa ditebak: pulang selalu membawa tas tambahan untuk menampung 
oleh-oleh. Saya juga pernah iseng2 menghitung pengeluaran, ternyata cost untuk 
membeli oleh2 seringkali jauh lebih besar dr biaya akomodasi atau makan selama 
perjalanan.. :-)

Ketika melakukan perjalanan dg biaya sendiri, seperti yg akhir2 ini saya 
lakukan ke luar negeri, saya tetap membeli oleh2 (susah sekali menghilangkan 
kebiasaan ini meski sudah sering baca di milis IBP), tapi dengan pengurangan 
jumlah dan biaya. Dan tergantung juga sih di negara mana. Seperti di Vietnam 
saya hanya beli beberapa kaos dan dompet lucu utk keluarga dan temen2, di night 
market Luang Prabang, Laos, saya beli buanyaaak oleh2 karena harganya super 
murah, di Seamreap saya beli banyak scarf seharga @ 1 dolar... Dan semuanya 
saya bagi2 ke teman dn tetangga. Di Srilanka karena kebetulan tdk menemukan 
pasar yg murah, saya hanya membeli bbrp kaus utk suami dan anak. Di Malaysia, 
entah mengapa bbrp kali ke sana saya hanya beli coklat dan bbrp buku (karena 
kebetulan lagi diskon gede).

Nah, bagi saya, oleh2 kok masih terasa wajib! Saya tahu kadang ini menyulitkan 
dan berat, tapi pulang tanpa membawa apa2 rasanya kok aneh. Saya selalu 
teringat ekspresi teman, tetangga dan keluarga saya waktu menerima oleh2 kecil 
itu. Kelihatannya sangat gembira, meskipun itu hanya magnet di kulkas. Binar 
mata itulah yg membuat saya selalu tidak enak jika kelupaan membawa buah 
tangan. 

Terlalu berlebihanlah kalau saya sebut itu pertanda cinta, karena cinta bisa 
diwujudkan dengan banyak cara selain memberi oleh2. Tapi buat saya, dengan 
memberi oleh2 setidaknya mereka tahu "saya mengingatnya."

Saya kurang setuju dengan mb ambar tentang "harapan kosong" ketika memberi 
oleh2 semisal manet, gantungan kunci dll dari tempat2 yg belum dikunjungi oleh 
si teman. Jujur saja mbak ambar, salah satu yg mendorong saya travelling salah 
satunya adalah magnet2 cantik di kulkas oleh2 dari kawan2 yg sudah lebih dulu 
pergi. Saya percaya "the secret", magnet itu menjadi semacam dorongan, saya 
harus ke sana! Bermimpilah dulu, dan wujudkan pelan2 sesuai kemampuan. 

Saya sendiri tidak pernah mengharapkan diberi oleh2, karena sebagai orang yang 
suka jalan, tahu persis tidak selalu mudah mencari oleh2. Dan lagi saya bukan 
orang yang well documented, bisa2 oleh2 tsb hilang, ketlingsut dsb. Tapiiii, 
sampai sekarang saya tidak pernah pulang dari backpacking tanpa membawa 
oleh-oleh utk keluarga, teman dan tetangga (ada anak kecil tetangga lucu yang 
selalu melompat2 setiap menerima oleh2 hehehe....)

Dan anehnya, sampai di rumah saya selalu baru sadar bahwa saya ternyata TIDAK 
MEMBELI UNTUK DIRI SENDIRI.

Whuaaaaa!! Makanya saya jarang sekali mengenakan barang2 dari luar daerah atau 
luar negeri. Meski agak menyesal, tapi saya sering menghibur, "sudahlah, toh 
kamu sudah melihat dan mengalami sendiri betapa serunya perjalanan itu, tak 
penting membawa oleh2 utk diri sdr. Cukuplah foto2 sebangai kenangan" Hiks....

Begitu share dari saya mbak. Maaf kalo tidak berkenan.

Ade
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Ambar Briastuti <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Tue, 1 Jun 2010 14:31:05 
To: <[email protected]>
Subject: [indobackpacker] Merefleksi Oleh-oleh, Souvenirs dan Buah Tangan

Bagi seorang penyuka jalan, souvenirs adalah keharusan. Tapi pernahkah
terlintas untuk siapa sebenarnya souvenirs tadi?

Bukahkah hadiah adalah wujud perhatian dan cinta pada teman, kekasih, suami,
istri, orangtua? Really? Memanifestasikan hadiah dari perjalanan kita
mengandung banyak unsur. Oleh-oleh, souvenirs dan buah tangan bisa saja
diwujudkan benda, bisa dimakan ataupun tidak, bisa disimpan atau tidak.

Kawan saya pernah curhat. Ia dihadiahi kawannya sebuah kain cantik ketika
kembali dari India. Tapi begitu hubungan mereka berubah, sang pemberi hadiah
serta merta meminta kain itu kembali. Dalam perspektif saya, esensi
'memberi' adalah ikhlas. Entah barang entah tenaga entah uang. Jadi benda
yang telah kita berikan pada seseorang sebagai oleh-oleh adalah ikhlas
untuknya. Tak usah disesali ketika hubungan itu berubah. Toh mungkin memang
hanya sebatas itu penghargaan orang lain terhadap saya. Toh pada saat itu
saya memang mencintainya.

Disisi lain, sebagai penyuka jalan saya tidak pernah meminta oleh-oleh
tetapi tidak menolak jika ditawari yang berarti bersifat tidak mengikat. Ini
karena saya yakin mereka cukup sibuk dengan perjalanannya dan mungkin tidak
akan sempat membelikan 'pesanan'. Sakit hati? tidak juga. Karena itu tadi,
saya tidak meminta.

Tidak meminta juga mempunyai sisi lain, yakni kita jadi tidak berharap. Itu
juga tidak merubah hubungan saya dengan teman yang sengaja/tidak,  ternyata
lupa sama sekali membawakan oleh-oleh. Toh benda hanyalah benda, sedangkan
bukti persahabatan tidak harus diwujudkan barang. Dalam hal ini saya
menghargai persahabatan lebih tinggi dari sekedar oleh-oleh.

Saya kemudian mulai membeli untuk diri sendiri, sebagai pengingat atau
kenangan mengunjungi sebuah tempat. Kaos, topi, pin, magnet kulkas,
gantungan kunci. You've named it! Tapi pada suatu hari saya tertegun ketika
seseorang meminta untuk dibelikan satu gantungan kunci. Sebuah benda tentang
negara yang tidak ia kunjungi, tidak ia alami dan hanya ia mimpikan. Saya
jadi jatuh kasihan. Saya ternyata menawarkan impian kosong. Dari situlah
saya berhenti membeli oleh2 'pesanan'.

Kosentrasi saya berubah pada benda untuk orang lain menjadi benda untuk
mengingatkan pada sebuah tempat yang pernah saya kunjungi. Yang saya cari
pun adalah benda yang unik, yang tidak bisa saya dapatkan di tempat lain.
Bukannya gantungan kunci Made in China.

Barang itu sepele saja, mungkin sangat tidak berharga jika dibawa. Topi
pandan misalnya. Saya peroleh di Nias yang ternyata diberi tandatangan dan
nama kawan yang saya temui disana. Harganya hanya 5ribu, buatan tangan
seorang ibu yang saya kenal ketika mengajar anak-anak disana. Di Nepal saya
membeli bel (klenthengan) yang tergantung di leher binatang yak di sebuah
warung kecil penjual teh dalam perjalanan trek ke Kala Pattar. Bunyi bel itu
mengingatkan saya pada perjalanan panjang melewati pegunungan berdebu dan
bersalju. Irama dengungnya masih terngiang ketika saya kembali pulang. Ada
moment yang saya ingin simpan di ingatan dan kehidupan sekarang.

***

Tidak ada konsistensi barang apa yang saya simpan. Terkadang kain, di lain
waktu mungkin hanya sebuah mainan anak-anak. Tetapi setiap belahan benda itu
memberikan kenangan dari bagian perjalanan saya.

Ada benda yang membuat saya teringat tentang bayi dan anak perempuan di
pegunungan Sapa, Vietnam. Kisah mereka sangat melekat karena anak-anak
perempuan disana menikah diusia dini. Tak jarang mereka menggendong bayi
padahal masih berusia 14tahun. Karena itu topi bayi adalah simbol kenangan
yang paling berkesan disana. Juga sebuah dompet anyaman dari serat pohon di
Serawak. Saya peroleh ketika selesai trek di Mulu menuju suku Dayak. Polanya
sederhana, dengan warna seadanya. Tapi kenangan tentang pohon tropis
Kalimantan yang makin tipis membuat saya tergerak memperolehnya.

Saya berusaha agar souvenirs itu adalah hasil kerajinan tangan, bukan
produksi massal. Terutama barang itu dihasilkan oleh kalangan/suku yang
merupakan bentukan seni mereka, cara berekpresi dengan sebuah benda. Guratan
di batang, kain dari bahan alami, atau manik-manik dari biji-bijian. Selain
itu, membeli langsung dari mereka sangat disarankan. Bukan melalui toko atau
tangan ketiga keempat yang mungkin membuat harga melambung tinggi karena
mengambil fees perantara. Terkadang usaha membuat oleh2 ini adalah satu2nya
yang membuat suku/budaya itu bertahan.

Menghargai buatan tangan entah itu benda yang bisa disimpan atau tidak,
adalah proses kita menghormati tempat yang kita pernah kunjungi, orang yang
kita temui dan pengalaman yang kita bagi dengan mereka. Sekali lagi cinta
pada orang lain bisa kita wujudkan dari benda itu. Terdengar egois, tapi
mungkin tidak jika kita melihat dari kacamata yang lebih lebar.

Jadi cintakah kita pada benda, orang lain atau tempat kita berkunjung
sebagai manifestasi semata?

Buat saya, itu lebih dari sekedar cinta.




PS: renungan ini diilhami posting Matt Gross di Frugal Traveler disini
http://frugaltraveler.blogs.nytimes.com/2009/11/18/finders-keepers-souvenirs-on-the-road/dan
permintaan seorang reporter tentang koleksi dari perjalanan.



Salam,
ambar


[Non-text portions of this message have been removed]




[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Indonesian Backpacker Community 
visit our website at http://www.indobackpacker.com 

Silakan membuka arsip milis http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/   
untuk melihat bahasan dan informasi yang anda butuhkan.

No SPAMMING or forwarding unrelated messages.
Silakan beriklan sesuai tema backpacking di hari JUMAT. 

Sebelum membalas email, mohon potong bagian yang tidak perlu dan kutip bagian 
yang perlu saja. 

Milis Indobackpacker menerima ATTACHMENT baik gambar ataupun photo, tetapi 
mohon indahkan tentang hak cipta dan ukuran file. 

Cara mengatur keanggotaan di milis ini :

Mengirim email ke grup : [email protected] (moderasi penuh)
Mengirim email kepada para Moderator/Owner: [email protected]
Satu email perhari: [email protected]
No-email/web only: [email protected]
Berhenti dari milist kirim email kosong : 
[email protected]
Bergabung kembali ke milist kirim email kosong : 
[email protected]

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke