Pendapat saya agak mirip dgn (mb) Nirwana. Karena saya tipe org yang bepergian 
bukan utk sekedar membeli oleh2 atau lihat2 tempat wisata, tapi ingin mengenal 
lbh lanjut suatu daerah termasuk penduduk setempat dimanapun itu untuk bahan 
novel saya, saya jarang membeli oleh2 apalagi yg bentuknya gantungan kunci atau 
miniatur bangunan (kecuali poster lukisan dari museum seni, yg ini HARUS untuk 
koleksi pribadi). Beda dgn kakak saya yg kebetulan budget jalan2 nya besar (dan 
gaya jalan2an ala koper), biasanya dia membeli banyak oleh2, bisa puluhan 
jumlahnya untuk teman2 sekantor. 

kalau pun saya membeli oleh2 biasanya hanya untuk orang tua dan sahabat-sahabat 
saya. Agak ga enak juga sih kalau misalnya rekan ktr "kecewa" ngga dapat apa2 
dari perjalanan saya, apalagi dgn konotasi seolah2 liburan ke LN adalah hal 
yang wah, masa ngga bisa sih beli oleh2 buat rekan sekantor?? hehehe untuk yg 
ini biasanya saya cuma membelikan coklat beberapa batang untuk dibagi ke teman 
satu departemen. 

Memang susah menghilangkan kebiasaan ucapan "Oleh-oleh ya". karena itu menurut 
saya sudah budaya Indonesia. Rekan-rekan kerja expat sempat memperhatikan hal 
ini, kenapa setiap ada kolega yg pergi jalan si traveler harus menggelar oleh2 
nya untuk teman2nya :-)) kalau mereka kan setiap ada yg pergi jalan akan 
mengucapkan "Have a nice and safe trip!" 

Saya lebih suka menulis cerita perjalanan & upload foto2 ke blog saya dan dgn 
demikian banyak org yang bisa merasakan perjalanan itu, selain untuk pengingat 
jika suatu waktu saya ingin menulis cerpen/ novel dgn latar belakang tempat 
negara2 yg sudah saya kunjungi. 


Salam,

 

Sh

 

Voir la vie en rose

 

http://oceanebleue.multipy.com

http://www.facebook.com/sari.musdar 

 




To: [email protected]; [email protected]
From: [email protected]
Date: Wed, 2 Jun 2010 00:13:57 +0000
Subject: Re: [indobackpacker] Merefleksi Oleh-oleh, Souvenirs dan Buah Tangan


















 



  


    
      
      
      Mmm..

Kadang saya sendiri merasa terbebani oleh pertanyaan, "oleh-olehnya mana?". 
Seringpula itu jadi pernyataan krn di negeri ini hal itu biasa.



Tp kadang kita bkn hanya tidak pny uang utk itu, tp jg krn tdk punya cukup 
waktu utk membelinya, bahkan untuk memilahnya.. Yg ini dibelikan apa, yg itu 
dibelikan apa.. dan macam2 pertimbangan.

Beberapa kali saya melihat oleh2 yg saya berikan utk teman-teman tsb cm 
disiakan. Mungkin tidak atau kurang berkenan dgn harapan mereka.



Melalui pengalaman, saya mulai menyetop diri sendiri utk melakukan hal yg sama 
tsb, yaitu meminta oleh-oleh, dan menggantinya dengan meminta dibagi cerita 
pengalaman (plus foto) teman2 yg melakukan perjalanan tsb. Umumnya mereka 
sangat senang untuk menceritakannya.. Wajahnya berubah cerah, beda kalo 
ditodong oleh-oleh berupa barang.



Jadi.. Brenti degh nanyain oleh-oleh kalo teman/kenalan/ sodara pulang dr 
bepergian (kecuali nitip duit n berharap yg dititipi ada waktu utk itu).. Atau 
mengucapkannya sebagai salam perpisahan.



Alih-alih mengucapkan "Jangan lupa oleh-olehnya, ya..!", sebaiknya kita 
mengucapkan, "Selamat jalan! Semoga perjalanan/liburan selamat dan 
menyenangkan, ya.."



Sekedar berbagi!



Sent from VieBerry® on 3
                                          
_________________________________________________________________
Hotmail : une messagerie fiable avec une protection anti-spam performante
https://signup.live.com/signup.aspx?id=60969

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke