Mmm.. Kadang saya sendiri merasa terbebani oleh pertanyaan, "oleh-olehnya mana?". Seringpula itu jadi pernyataan krn di negeri ini hal itu biasa.
Tp kadang kita bkn hanya tidak pny uang utk itu, tp jg krn tdk punya cukup waktu utk membelinya, bahkan untuk memilahnya.. Yg ini dibelikan apa, yg itu dibelikan apa.. dan macam2 pertimbangan. Beberapa kali saya melihat oleh2 yg saya berikan utk teman-teman tsb cm disiakan. Mungkin tidak atau kurang berkenan dgn harapan mereka. Melalui pengalaman, saya mulai menyetop diri sendiri utk melakukan hal yg sama tsb, yaitu meminta oleh-oleh, dan menggantinya dengan meminta dibagi cerita pengalaman (plus foto) teman2 yg melakukan perjalanan tsb. Umumnya mereka sangat senang untuk menceritakannya.. Wajahnya berubah cerah, beda kalo ditodong oleh-oleh berupa barang. Jadi.. Brenti degh nanyain oleh-oleh kalo teman/kenalan/ sodara pulang dr bepergian (kecuali nitip duit n berharap yg dititipi ada waktu utk itu).. Atau mengucapkannya sebagai salam perpisahan. Alih-alih mengucapkan "Jangan lupa oleh-olehnya, ya..!", sebaiknya kita mengucapkan, "Selamat jalan! Semoga perjalanan/liburan selamat dan menyenangkan, ya.." Sekedar berbagi! Sent from VieBerry® on 3 -----Original Message----- From: edith suganda <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Tue, 1 Jun 2010 16:43:47 To: Indobackpack<[email protected]> Subject: Re: [indobackpacker] Merefleksi Oleh-oleh, Souvenirs dan Buah Tangan Hi Fren backpack, Betul sekali. Saya pernah dipesani kaos T shirt. Walah, di LN khan moahal dan lagi itu buatan China. Kalau asli, moahal bianget.Waktu saya belikan yg buatan China, raut wajahnya keliahatan kurang senang. Akhirnya, lain kali aku belikan aja microwave popcorn utk anaknya, malah dia seneng banget. karena anaknya yg bahagia, ortu nya ikut bahagia. Murah meriah, kletuk kletukkkk, tok !!! Tapi ada juga teman yg pesan, tempelan kulkas, yah itu gampang, jd selalu saya belikan dgn senang hati dan sy ingat. Kalau coklat, berat bawanya, agak mahal, kadang di Indo juga ada.Jd pasti saya tolak dengan jawaban : mana sangunya????? wkwkkkkk Kemarin teman2 sy belikan permen, dimakan bareng2 waktu ngumpul. Pemerataannnnnnnnnnn, semua kebagian. Mumer lage................ Abiz, duit cekak, teman banyak..................... dikit2 asal rataaaaa. Setuju khan???? Itulah pengalaman saya. Mbak Edith ________________________________ From: Oggi Gunadi Mawahiburahman <[email protected]> To: [email protected] Sent: Wed, June 2, 2010 5:42:35 AM Subject: Re: [indobackpacker] Merefleksi Oleh-oleh, Souvenirs dan Buah Tangan Dear Kawan Backpacker, Membaca tulisan mbak Ambar mengenai souvenirs dan buah tangan, rasanya saya ingin sedikit sekadar ikut share juga... Jujur, berlibur umumnya bagi sebagian Indonesian bukanlah sesuatu yang murah,,mengapa? lihat saja keluarga ( sanak family) tetangga, rekan kerja atau sekolah,, mereka semuanya merasa berhak untuk mendapatkan souvenir dari kita apabila kita bepergian..walau ujungnya mungkin saja ada kerabat yang kita berikan suvenir tadi menunjukan rasa kurang tahu dirinya dengan berharap mendapat oleh oleh yang lebih layak ketimbang sebuah gantungan kunci atau kaos,,,mungkin berharap tas atau sepatu bermerk sekalian :(, bisa dibanyangkan berapa jumlahnya apabila setiap orang merasa berhak mendapat hadiah special Kebiasaan kita memberi oleh oleh, tanpa sengaja saya terapkan juga ke banyak kawan asing saya di UK, beberapa kali saya meminta sahabat yang datang kemari atau via post untuk mengirimkan berupa scarf batik, kain batik atau hal hal berbau etnik indonesia,, beberapa kawan asing berterima kasih, namun ada juga yang menolak dan tidak bisa menerima hanya karena tidak mau merepotkan karena mereka berfikir kita mengeluarkan uang untuk membeli itu,,,well orang beda beda,, tapi disitu jelas sekali saya bisa rasakan bahwa beberapa dari mereka tidak mau kita repot mengeluarkan uang untuk membeli souvenir itu... (beda rasanya dengan tulisan saya diatas :) mungkin juga salah satunya soal kebiasaan dan kesempatan Souvenir yang rasanya sangat menyentuh adalah buatan tangan sendiri ( personalized gift) , bagi yang mempunyai jiwa kreatif misalnya mungkin sekadar post card dan tanda tangan kita sekaligus tanggal dan sedikit kata kata mutiara yang menyentuh atau seikit kesan mengenai hal hal yang berhubungan dengan orang yang menerima souvenir tersebut bisa kita tuliskan dibelakangnya...kebetulan saya dapat menggambar komik /karikatur, maka saya bisa lebih mengirit karena saya hanya gambar dan mewarnai saja, jauh lebih personalized mulai dari birthday maupun ucapan selamat tinggal, namun bukan terbatas kepada post card, special card atau gambar saja,, apapun itu dengan selama cara kita memberinya special pasti akan terasa special,,,,,dan yang jelas cukup unik,. mungkin saja kerupuk gurilem dari bandung akan lebih menggoda dari pada pisang molen yang harganya lebih mahal ...disesuaikan dengan siapa kita akan memberi oleh oleh tersebut Dan benar adanya,,apapun yang kita berikan terhadap seseorang, bukan semata gift atau souvenir,, namun wujud bahwa orang tersebut ada di hati kita Love For All Hatred for None, OGGI GUNADI MLondon, United KingdomPhone : (+44) 798 346 5298Facebook :oggigunadi YM : thisisoggi1Web : http://oggigunadi.wordpress.com http://www.youtube.com/oggigunadi --- On Tue, 1/6/10, Ambar Briastuti <[email protected]> wrote: From: Ambar Briastuti <[email protected]> Subject: [indobackpacker] Merefleksi Oleh-oleh, Souvenirs dan Buah Tangan To: [email protected] Date: Tuesday, 1 June, 2010, 22:31 Bagi seorang penyuka jalan, souvenirs adalah keharusan. Tapi pernahkah terlintas untuk siapa sebenarnya souvenirs tadi? B
