Mbak Ambar dan mbak Ade,
Dikeluarga saya, dari awalnya memang tidak dibiasakan utk bawa / beli oleh2 
bila bepergian, pun juga seperti mbak Ade, nggak well documented. Ajaran Ortu 
lebih mengedepankan pada 'pelajaran batin' dg bersosialisasi dg banyak orang 
lain dari berbagai suku bangsa, terutama utk lebih mengerti ttg makna utk apa 
mereka menjalani kehidupannya. Ya..semacam spiritual travelling, kalaupun ada 
yg membedakan adalah 'tambahan' wisata kulinernya. Alhamdulillahnya, semakin 
mempertebal keimanan kami sekeluarga. 

Bila harus travelling karena tugas kantorpun, awalnya memang agak risih dg 
permintaan oleh2 dari teman2 sekantor, tapi lama kelamaan mereka juga mengerti 
dg ketidak biasaan aku utk bawa oleh2 - karena lebih sering aku kirim via paket 
drpd dibawa tangan. 

Anak2 sendiri sdh biasa kalau bapaknya pulang dari bepergian, jumlah tasnya 
malah berkurang. 

Ya begitulah cara kami dalam menikmati travelling, yg selalu kami jaga 
silaturahmi kami dg teman2 kami di berbagai suku bangsa via surat maupun email. 

Semoga perbedaan cara ini bisa memperkaya wawasan kita.  
Salam,
Estiadi 

 
sent by Sotilberry®

-----Original Message-----
From: "ade nastiti" <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Wed, 2 Jun 2010 00:06:01 
To: Ambar Briastuti<[email protected]>; <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [indobackpacker] Merefleksi Oleh-oleh, Souvenirs dan Buah Tangan

Sharing yang menarik mbak Ambar. Boleh ya saya ikut nanggapi (meski nggak 
diminta hehe..)

Kalau saya sendiri, seperti kebanyakan orang Jawa,  seperti mengharuskan diri 
untuk membawa oleh2, entah makanan atau souvenir, setidaknya untuk bbrp 
tetangga dan kawan2 dekat di kantor. Terutama  jika saya travelling karena 
tugas kantor. Hehe iyalah, semua2 dibayarin, jadi masih punya cukup uang untuk 
beli oleh-oleh. 

Membeli oleh2 benar2 saya lakukan atas dasar sukarela, hanya oleh-oleh kecil 
seperti makanan yang bisa dibagi2 ke tetangga atau teman se ruangan, souvenir 
kecil murah meriah utk teman2 yang "menagih" atau kadang oleh2 yg sedikit agak 
mahal seperti kaos untuk suami, tas unik untuk adik dan kakak, topi lucu untuk 
anak dan lain-lain.

Akibatnya bisa ditebak: pulang selalu membawa tas tambahan untuk menampung 
oleh-oleh. Saya juga pernah iseng2 menghitung pengeluaran, ternyata cost untuk 
membeli oleh2 seringkali jauh lebih besar dr biaya akomodasi atau makan selama 
perjalanan.. :-)

Ketika melakukan perjalanan dg biaya sendiri, seperti yg akhir2 ini saya 
lakukan ke luar negeri, saya tetap membeli oleh2 (susah sekali menghilangkan 
kebiasaan ini meski sudah sering baca di milis IBP), tapi dengan pengurangan 
jumlah dan biaya. Dan tergantung juga sih di negara mana. Seperti di Vietnam 
saya hanya beli beberapa kaos dan dompet lucu utk keluarga dan temen2, di night 
market Luang Prabang, Laos, saya beli buanyaaak oleh2 karena harganya super 
murah, di Seamreap saya beli banyak scarf seharga @ 1 dolar... Dan semuanya 
saya bagi2 ke teman dn tetangga. Di Srilanka karena kebetulan tdk menemukan 
pasar yg murah, saya hanya membeli bbrp kaus utk suami dan anak. Di Malaysia, 
entah mengapa bbrp kali ke sana saya hanya beli coklat dan bbrp buku (karena 
kebetulan lagi diskon gede).

Nah, bagi saya, oleh2 kok masih terasa wajib! Saya tahu kadang ini menyulitkan 
dan berat, tapi pulang tanpa membawa apa2 rasanya kok aneh. Saya selalu 
teringat ekspresi teman, tetangga dan keluarga saya waktu menerima oleh2 kecil 
itu. Kelihatannya sangat gembira, meskipun itu hanya magnet di kulkas. Binar 
mata itulah yg membuat saya selalu tidak enak jika kelupaan membawa buah 
tangan. 

Terlalu berlebihanlah kalau saya sebut itu pertanda cinta, karena cinta bisa 
diwujudkan dengan banyak cara selain memberi oleh2. Tapi buat saya, dengan 
memberi oleh2 setidaknya mereka tahu "saya mengingatnya."

Saya kurang setuju dengan mb ambar tentang "harapan kosong" ketika memberi 
oleh2 semisal manet, gantungan kunci dll dari tempat2 yg belum dikunjungi oleh 
si teman. Jujur saja mbak ambar, salah satu yg mendorong saya travelling salah 
satunya adalah magnet2 cantik di kulkas oleh2 dari kawan2 yg sudah lebih dulu 
pergi. Saya percaya "the secret", magnet itu menjadi semacam dorongan, saya 
harus ke sana! Bermimpilah dulu, dan wujudkan pelan2 sesuai kemampuan. 

Saya sendiri tidak pernah mengharapkan diberi oleh2, karena sebagai orang yang 
suka jalan, tahu persis tidak selalu mudah mencari oleh2. Dan lagi saya bukan 
orang yang well documented, bisa2 oleh2 tsb hilang, ketlingsut dsb. Tapiiii, 
sampai sekarang saya tidak pernah pulang dari backpacking tanpa membawa 
oleh-oleh utk keluarga, teman dan tetangga (ada anak kecil tetangga lucu yang 
selalu melompat2 setiap menerima oleh2 hehehe....)

Dan anehnya, sampai di rumah saya selalu baru sadar bahwa saya ternyata TIDAK 
MEMBELI UNTUK DIRI SENDIRI.

Whuaaaaa!! Makanya saya jarang sekali mengenakan barang2 dari luar daerah atau 
luar negeri. Meski agak menyesal, tapi saya sering menghibur, "sudahlah, toh 
kamu sudah melihat dan mengalami sendiri betapa serunya perjalanan itu, tak 
penting membawa oleh2 utk diri sdr. Cukuplah foto2 sebangai kenangan" Hiks....

Begitu share dari saya mbak. Maaf kalo tidak berkenan.

Ade

Powered by Telkomsel BlackBerry®



-----Original Message-----

From: Ambar Briastuti <[email protected]>

Sender: [email protected]

Date: Tue, 1 Jun 2010 14:31:05 

To: <[email protected]>

Subject: [indobackpacker] Merefleksi Oleh-oleh, Souvenirs dan Buah Tangan



------------------------------------

Indonesian Backpacker Community 
visit our website at http://www.indobackpacker.com 

Silakan membuka arsip milis http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/   
untuk melihat bahasan dan informasi yang anda butuhkan.

No SPAMMING or forwarding unrelated messages.
Silakan beriklan sesuai tema backpacking di hari JUMAT. 

Sebelum membalas email, mohon potong bagian yang tidak perlu dan kutip bagian 
yang perlu saja. 

Milis Indobackpacker menerima ATTACHMENT baik gambar ataupun photo, tetapi 
mohon indahkan tentang hak cipta dan ukuran file. 

Cara mengatur keanggotaan di milis ini :

Mengirim email ke grup : [email protected] (moderasi penuh)
Mengirim email kepada para Moderator/Owner: [email protected]
Satu email perhari: [email protected]
No-email/web only: [email protected]
Berhenti dari milist kirim email kosong : 
[email protected]
Bergabung kembali ke milist kirim email kosong : 
[email protected]

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke