Halo, Saya juga mau ikutan partisipasi wacana ini.
Mungkin Saya salah satu dari orang-orang yang tidak terlalu suka membeli oleh jika travelling. Hal ini mungkin di sebabkan Saya tidak mau repot menambah barang bawaan dan juga karena orang tua Saya juga tidak terbiasa membeli oleh2 jika travelling - hal ini membentuk mind set jika oleh2 tidaklah terlalu penting. Bahkan jika Saya travelling ke daerah atau negara lain, barang2 yang Saya beli seperti baju, sepatu, pakaian lain - Saya gunakan saat Saya travelling tsb..hehe. Tapi Saya setuju bila kita hendak beli oleh2 untuk orang lain, Saya lebih prefer untuk membeli makanan, karena terasa lebih berguna dibanding barang. Hey, tp itu hanya pendapat Saya karena pada kenyataannya jika ada kerabat datang dari luar negeri dan memberi oleh2 gantungan kunci, Saya pun tidak menolak..hehe. Terima kasih. Yudha. Sent from my BlackBerry® smartphone -----Original Message----- From: Mutia Muliasih <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Tue, 1 Jun 2010 20:07:05 To: <[email protected]> Cc: <[email protected]> Subject: Re: [indobackpacker] Merefleksi Oleh-oleh, Souvenirs dan Buah Tangan Teman-teman dan Mbak Ambar, Setiap kali hendak bepergian, saya tidak pernah meniatkan untuk membeli oleh-oleh, karena barang bawaan seperti dokumen pekerjaan (perjalanan dinas), maupun perlengkapan pribadi telah dibuat seringkas mungkin. Tapi, ini biasanya cuma teori. Setiap perjalanan dinas, lebih dari pada 90 persen kesempatan saya dioleh-olehi pihak tuan rumah dengan makanan khas tempat yang dikunjungi. Padahal di awal kunjungan saya secara halus mengingatkan tuan rumah agar tidak repot berbelanja untuk kami. Mau terus menolak, kurang sreg juga karena itu bagian dari hospitality mereka. Jika telah mendapatkan 1 kardus makanan oleh-oleh, biasanya saya tergoda untuk menambah lagi belanjaan dari kantong pribadi karena teringat dengan rekan-rekan yang banyak di kantor (kebetulan, saya berada di lingkungan kerja yang sering bepergian dinas). Dan kebiasaan kami adalah selalu membawa oleh-oleh sepulang kunjungan dan memakannya ramai-ramai. Sedangkan untuk perjalanan pribadi, saya selalu mengalokasikan 10-15% overhead dari biaya perjalanan untuk buah tangan. Ya, semacam "upeti" untuk orang tua yang telah mengijinkan saya untuk jalan-jalan (kebetulan saya masih tinggal dengan mereka). Untuk teman-teman terdekat yang juga frequent traveller, jika ada dana lebih, makanan adalah yang paling pas karena bisa dimakan saat ngumpul. Selebihnya adalah berbagi kesan dan pengalaman pas perjalanan. Saya tidak mau lagi membelikan buah tangan berupa baju atau gantungan kunci karena pengalaman lalu sering kali mengecewakan: orang yang diberi tersebut tidak suka. Mungkin saya yang kurang jeli membaca seleranya. Akhirnya, makanan khaslah yang menjadi menu rutin, yang selalu diterima dengan senang hati oleh orang-orang.� Mengharapkan orang yang bepergian untuk membawa buah tangan, bukanlah kebiasaan saya. Kecuali pada orang-orang yang sangat dekat, itupun sering kali tidak saya utarakan atau jika mereka bertanya langsung ke saya. Karena saya tahu�barang bawaan pada sebuah perjalanan telah diatur agar ringkas dan tidak menghalangi mobilitas yang bersangkutan. Salam, Mutia Muliasih --- On Wed, 6/2/10, Ambar Briastuti <[email protected]> wrote: From: Ambar Briastuti <[email protected]> Subject: [indobackpacker] Merefleksi Oleh-oleh, Souvenirs dan Buah Tangan To: [email protected] Date: Wednesday, June 2, 2010, 4:31 AM Bagi seorang penyuka jalan, souvenirs adalah keharusan. Tapi pernahkah terlintas untuk siapa sebenarnya souvenirs tadi? Bukahkah hadiah adalah wujud perhatian dan cinta pada teman, kekasih, suami, istri, orangtua? Really? Memanifestasikan hadiah dari perjalanan kita mengandung banyak unsur. Oleh-oleh, souvenirs dan buah tangan bisa saja diwujudkan benda, bisa dimakan ataupun tidak, bisa disimpan atau tidak. Kawan saya pernah curhat. Ia dihadiahi kawannya sebuah kain cantik ketika kembali dari India. Tapi begitu hubungan mereka berubah, sang pemberi hadiah serta merta meminta kain itu kembali. Dalam perspektif saya, esensi 'memberi' adalah ikhlas. Entah barang entah tenaga entah uang. Jadi benda yang telah kita berikan pada seseorang sebagai oleh-oleh adalah ikhlas untuknya. Tak usah disesali ketika hubungan itu berubah. Toh mungkin memang hanya sebatas itu penghargaan orang lain terhadap saya. Toh pada saat itu saya memang mencintainya. [Non-text portions of this message have been removed]
