Teman-teman dan Mbak Ambar,

Setiap kali hendak bepergian, saya tidak pernah meniatkan untuk membeli 
oleh-oleh, karena barang bawaan seperti dokumen pekerjaan (perjalanan dinas), 
maupun perlengkapan pribadi telah dibuat seringkas mungkin.

Tapi, ini biasanya cuma teori. Setiap perjalanan dinas, lebih dari pada 90 
persen kesempatan saya dioleh-olehi pihak tuan rumah dengan makanan khas tempat 
yang dikunjungi. Padahal di awal kunjungan saya secara halus mengingatkan tuan 
rumah agar tidak repot berbelanja untuk kami. Mau terus menolak, kurang sreg 
juga karena itu bagian dari hospitality mereka. Jika telah mendapatkan 1 kardus 
makanan oleh-oleh, biasanya saya tergoda untuk menambah lagi belanjaan dari 
kantong pribadi karena teringat dengan rekan-rekan yang banyak di kantor 
(kebetulan, saya berada di lingkungan kerja yang sering bepergian dinas). Dan 
kebiasaan kami adalah selalu membawa oleh-oleh sepulang kunjungan dan 
memakannya ramai-ramai.

Sedangkan untuk perjalanan pribadi, saya selalu mengalokasikan 10-15% overhead 
dari biaya perjalanan untuk buah tangan. Ya, semacam "upeti" untuk orang tua 
yang telah mengijinkan saya untuk jalan-jalan (kebetulan saya masih tinggal 
dengan mereka). Untuk teman-teman terdekat yang juga frequent traveller, jika 
ada dana lebih, makanan adalah yang paling pas karena bisa dimakan saat 
ngumpul. Selebihnya adalah berbagi kesan dan pengalaman pas perjalanan.

Saya tidak mau lagi membelikan buah tangan berupa baju atau gantungan kunci 
karena pengalaman lalu sering kali mengecewakan: orang yang diberi tersebut 
tidak suka. Mungkin saya yang kurang jeli membaca seleranya. Akhirnya, makanan 
khaslah yang menjadi menu rutin, yang selalu diterima dengan senang hati oleh 
orang-orang.�
Mengharapkan orang yang bepergian untuk membawa buah tangan, bukanlah kebiasaan 
saya. Kecuali pada orang-orang yang sangat dekat, itupun sering kali tidak saya 
utarakan atau jika mereka bertanya langsung ke saya. Karena saya tahu�barang 
bawaan pada sebuah perjalanan telah diatur agar ringkas dan tidak menghalangi 
mobilitas yang bersangkutan.


Salam,
Mutia Muliasih

--- On Wed, 6/2/10, Ambar Briastuti <[email protected]> wrote:

From: Ambar Briastuti <[email protected]>
Subject: [indobackpacker] Merefleksi Oleh-oleh, Souvenirs dan Buah Tangan
To: [email protected]
Date: Wednesday, June 2, 2010, 4:31 AM
















      Bagi seorang penyuka jalan, souvenirs adalah keharusan. Tapi pernahkah

terlintas untuk siapa sebenarnya souvenirs tadi?



Bukahkah hadiah adalah wujud perhatian dan cinta pada teman, kekasih, suami,

istri, orangtua? Really? Memanifestasikan hadiah dari perjalanan kita

mengandung banyak unsur. Oleh-oleh, souvenirs dan buah tangan bisa saja

diwujudkan benda, bisa dimakan ataupun tidak, bisa disimpan atau tidak.



Kawan saya pernah curhat. Ia dihadiahi kawannya sebuah kain cantik ketika

kembali dari India. Tapi begitu hubungan mereka berubah, sang pemberi hadiah

serta merta meminta kain itu kembali. Dalam perspektif saya, esensi

'memberi' adalah ikhlas. Entah barang entah tenaga entah uang. Jadi benda

yang telah kita berikan pada seseorang sebagai oleh-oleh adalah ikhlas

untuknya. Tak usah disesali ketika hubungan itu berubah. Toh mungkin memang

hanya sebatas itu penghargaan orang lain terhadap saya. Toh pada saat itu

saya memang mencintainya.


Kirim email ke