ralat sedikit, 
di dalam resensinya ditulis, afghanistan belum pernah dreview oleh konco2 di 
lonely planet, sini salah, karena lonely planet edisi afghanistan sudah beredar 
sejak 2007, 
yang belum pernah direview oleh lonely planet adalah pakistan, dalam laman 
lonely planet malah diberi travel advice, intinya : kami tidak menyarankan 
plesiran ke daerah pakistan
ini rada aneh menurut saya, karena sejak 2007 afghanistan sudah dilanda perang 
terus menerus en situasi keamanannya jauh lebih buruk (menurut saya) dibanding 
Pakistan, 
perang di afghanistan berlangsung di seluruh kota besar, sementara di pakistan 
perang hanya terjadi di kawasan FATA maupun NWFP yang keduanya terletak di 
sebelah barat negeri, 
tapi memang soal bom mobil atau bom sepeda, pakistan rajanya, hampir tiap hari 
ada bom di karachi-rawalpindi-lahore-islamabad-peshawar

terlepas dari buku mana yang sudah dterbitkan oleh LP, menurut saya si agus ini 
bener2 sableng, berpetualang di daerah konflik, saya salut sama dia!




________________________________
From: Tari <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Sat, June 19, 2010 7:35:24 AM
Subject: Re: [indobackpacker] Resensi Buku Selimut Debu oleh Agustinus Wibowo

   
Dalam perenungan yang sesekali muncul dalam aktivitas kerja sehari-hari 
diantara duduk, berdiri, beranalisa, mondar-mandir dan sedikit hahahihi, saya 
kemudian tiba pada kesimpulan yang lalu saya jadikan  postulat : 

"An explorer is naturally a learner & a philosopher. He seeks for
discovery in order to understand, not to judge. Being an independent
thinker, he rips off the world's stereotyping & collective beliefs"

Selimut Debu. Agustinus Wibowo, atau Gus Weng, adalah seorang pengelana dan 
penjelajah (explorer) yang matang tanpa kamera besar funky menyangkut di leher, 
menikmati tiap kejutan di perjalanannya dengan indra yang terasah halus dan 
kedalaman pemahaman seorang philosopher yang mencoba memahami tiap kejutan di 
perjalanannya. Kadang "paham" pun hampir tidak sempat terjadi, tinggallah 
seorang philosopher yang takjub. Buku ini merupakan perjalanannya dalam mencari 
negeri utopia. Entah kapan negeri itu dia temukan. Kepingin juga rasanya 
membeli bukunya, membandingkannya dengan draft yg dikirimkannya ke saya, apakah 
diksusi kecil mengenai sepenggal baris di bagian akhir bukunya tertulis

Salam, 

Tari

YM ID : [email protected]
http://kuntarini.multiply.com
http://profiles.friendster.com/kuntarini

--- On Sat, 6/19/10, Ambar Briastuti <[email protected]> wrote:

> From: Ambar Briastuti <[email protected]>
> Subject: [indobackpacker] Resensi Buku Selimut Debu oleh Agustinus Wibowo
> To: [email protected]
> Date: Saturday, June 19, 2010, 5:33 AM
> Sekedar kilas balik:
> 
> Agustinus Wibowo dan milis Indobackpacker seperti pararel.
> Ia bergabung
> dengan milis beberapa minggu setelah dibentuknya komunitas
> ini pada bulan
> September 2004 oleh tiga orang pendiri Aris Kunlun, Erwin
> Yulianto dan
> Santoso.
> 
> Dalam email perkenalannya ia menulis, "Nama saya Agustinus
> Wibowo, masih 23
> tahun, masih pemula sekali, baik dalam fotografi maupun
> travelling. Dalam
> travelling saya lebih suka untuk melakukan perjalanan ke
> daerah-daerah
> eksotis, yang pada umumnya, tidak dikunjungi turis. Budget
> perjalanan saya
> juga sangat minim, maklum masih mahasiswa. Jadi biasanya
> menggunakan alat
> transportasi yang sangat merakyat, tinggal di losmen yang
> paling murah,
> makan di pasar, dll."
> 
> Saat itu walau baru 23 tahun dan mengaku pemula,  ia
> sebenarnya telah
> menjelajahi Mongolia, Laos, Vietnam, Kamboja, Pakistan,
> Afghanistan,
> Kyrgyzstan, Uzbekistan, Kazakhstan, dan beberapa daerah di
> Cina seorang
> diri. Ia bersedia menjadi kontributor di indobackpacker.com
> yang dibuat
> sebagai media untuk menulis cat-per sebelum meluncurkan
> situs pribadi
> ditahun 2005.
> 
> 
> Salam,
> Ambar
> 
> 
> =====================
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Judul Buku: Selimut Debu
> 
> Penulis: Agustinus Wibowo
> 
> Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
> 
> Tebal: xii + 461 halaman
> 
> Cetakan: I, Januari 2010
> 
> ISBN: 978-979-22-5285-9
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Kedai teh adalah universitas kehidupan.  (halaman
> 184)
> 
> 
> 
> 
> 
> Apa yang membuat seorang backpacker mengunjungi negara yang
> belum diulas
> oleh *Lonely Planet* –kitab suci pengelana
> independen?  Bagi Agustinus
> Wibowo mungkin terasa klise. Ia melihat Afghanistan sebagai
> seorang
> perempuan  nan cantik di balik *burqa*. Tertutup.
> Misterius.  Penuh selidik dan
> prasangka.  Hanya sepasang mata biru yang terlihat. Ia
> memutuskan untuk
> mengenalnya lebih dekat.  Tak diduga, ia jatuh cinta
> pada negeri bercadar
> itu.
> 
> 
> 
> Buku Selimut Debu ini hadir buah dari perjalanannya
> mengunjungi Afghanistan
> di tahun 2006. Kunjungan kedua setelah sempat bersinggungan
> dengan sisa-sisa
> Taliban  di tahun 2003.  Ia mengandalkan buku
> lusuh *An Historical Guide To
> Afghanistan* tulisan Nancy Dupree terbitan tahun
> 1970-an.  Meski hanya
> berbekal buku dan uang seadanya,  namun semangat
> menelusuri sudut negeri itu
> membara sejak pertemuan dengan seorang pencari karpet di
> kedai teh di
> wilayah Bamiyan.
> 
> 
> 
> Ada semangat eksplorasi yang ingin dibawa Agustinus untuk
> pembaca Selimut
> Debu. Sejarah Afghanistan bagi kita mungkin diawali ketika
> Rusia menginvasi
> negeri ini, melahirkan gerakan Mujahiddin. Hingga sekarang
> pun rentas waktu
> Afghanistan adalah misteri.  Bukankah di sana
> perempuan adalah kelas kedua,
> atau bukankah harga sebuah nyawa tak lebih mahal dari
> seekor domba.  Negeri
> porak-poranda. Negeri perang. Berbahaya, dan makin tak
> bersahabat jika tak
> mampu menggaulinya.
> 
> 
> 
> Mengurai demografi negeri ini, melacak hingga sejauh
> mungkin lorong waktu
> negeri *khaak *(debu) hingga era kerajaan dan dinasti
> *Mullah*. Ada etnis
> Tajik. Hazara, Farsiwan,  Pasthun yang menciptakan
> mozaik indah Afghanistan.
> Kecantikannya tertafsir sebagai sebuah godaan untuk
> dijarah, diambil alih,
> dirombak dan bahkan dikangkangi oleh banyak kepentingan:
> Romawi, Alexander
> Agung, Rusia, Amerika. Namun, Agustinus tetap mengagumi
> kegigihan dan harga
> diri bangsa Afghan yang diwakili berbagai etnis.
> 
> 

 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke