Terima kasih resensinya mbak Ambar. Resensi yang tak kalah hebatnya dengan 
"Selimut Debu" sendiri. Saya tergoda juga untuk ikutan sharing.

Bagi saya buku karya Agustinus ini sangat fenomenal. Saya membacanya dengan 
nyaris tanpa jeda. Saya sengaja membaca pada saat weekend dan sudah wanti2 ke 
keluarga supaya tdk diganggu. Saya hanya meletakkan buku ini pada saat shalat 
atau ke kamar kecil. Sebelum selesai saya tak merasakan lapar sama sekali. 
Sebaliknya, buku ini membuat saya terus hauuusss. Haus akan informasi yg pengen 
terus saya gali dari membuka lembaran-lembaran buku ini. (Serius!  Nggak 
bermaksud lebay... :)


Ada beberapa pengalaman agustinus yang membuat saya menangis dengan dada sesak, 
memejamkan mata dan merenung sejenak. Ada ya negeri seperti itu? Negeri yang 
hanya kita kenal dari jenggot, purdah, bom, anak2 tanpa masa depan dan puing2 
kehancuran, tetapi di "mata hati" agustinus ternyata menyimpan banyak keindahan.

Fenomena tentang Bacha, lelaki mungil, halus tanpa jenggot, --yg menyemarakkan 
dunia lain di Afghan selama ribuan tahun membuat saya terperanjat tak alang 
kepalang. Juga tentang reaksi polos wanita Afghan ketika ditunjukkan foto2 
perempuan lain di luar negerinya yang memiliki kebebasan utk bekerja dn 
beraktufitas keluar rumah, "oh kasian sekali perempuan2 itu harus bekerja 
keras, memangnya kemana suaminya?"

Hiks... Saya meringis. Saya teringat beberapa bulan lalu saya ikut kursus 
feminisme dan dlm beberapa sesi dikupas ttg betapa menderitanya wanita afghan 
di mata kita. Dan itu membuat saya marah sekali. Saat itu rasanya saya pengen 
"berjihad" membebaskan wanita2 afghan agar bisa keluar dari penjara rumahnya. 
Ternyata mereka malah mengasihani saya yg bekerja mencari nafkah... :D

Buku Agustinus membuat saya merasa sangat malu. "Apa yg kamu ketahui tentang 
kebahagiaan mereka?" Apa ukuran kebahagiaan? Siapa yang menentukan ukuran 
kebahagiaan? Saya ingat ulasan Agustinus ttg wanita afghan yg anonim. Ia bisa 
leluasa melihat keluar, menatap laki-laki yang berlalu lalang, menatap dunia 
dari celah purdahnya, tapi orang di luar dirinya (terlebih laki-laki) sama 
sekali tak bisa melongok sedikitpun dibalik purdahnya. Ia begitu misterius.  
Itulah yg dilihat Agustinus. Sesuatu yg menurut kita "belenggu" ternyata bagi 
mereka adalah pagar zona aman.

Sungguh banyak pengetahuan baru yg menyentak, menggugah kesadaran, menampar 
rasa malu, juga rasa penasaran yg menggelegak utk bisa mengunjunginya.

Saya rasa saya jatuh cinta pada ketiganya: agustinus, selimut debu dan 
Afganistan.  

Ade


Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Ambar Briastuti <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Fri, 18 Jun 2010 15:33:53 
To: <[email protected]>
Subject: [indobackpacker] Resensi Buku Selimut Debu oleh Agustinus Wibowo

Sekedar kilas balik:

Agustinus Wibowo dan milis Indobackpacker seperti pararel. Ia bergabung
dengan milis beberapa minggu setelah dibentuknya komunitas ini pada bulan
September 2004 oleh tiga orang pendiri Aris Kunlun, Erwin Yulianto dan
Santoso.

Dalam email perkenalannya ia menulis, "Nama saya Agustinus Wibowo, masih 23
tahun, masih pemula sekali, baik dalam fotografi maupun travelling. Dalam
travelling saya lebih suka untuk melakukan perjalanan ke daerah-daerah
eksotis, yang pada umumnya, tidak dikunjungi turis. Budget perjalanan saya
juga sangat minim, maklum masih mahasiswa. Jadi biasanya menggunakan alat
transportasi yang sangat merakyat, tinggal di losmen yang paling murah,
makan di pasar, dll."

Saat itu walau baru 23 tahun dan mengaku pemula,  ia sebenarnya telah
menjelajahi Mongolia, Laos, Vietnam, Kamboja, Pakistan, Afghanistan,
Kyrgyzstan, Uzbekistan, Kazakhstan, dan beberapa daerah di Cina seorang
diri. Ia bersedia menjadi kontributor di indobackpacker.com yang dibuat
sebagai media untuk menulis cat-per sebelum meluncurkan situs pribadi
ditahun 2005.


Salam,
Ambar


=====================







Judul Buku: Selimut Debu

Penulis: Agustinus Wibowo

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tebal: xii + 461 halaman

Cetakan: I, Januari 2010

ISBN: 978-979-22-5285-9






Kedai teh adalah universitas kehidupan.  (halaman 184)





Apa yang membuat seorang backpacker mengunjungi negara yang belum diulas
oleh *Lonely Planet* –kitab suci pengelana independen?  Bagi Agustinus
Wibowo mungkin terasa klise. Ia melihat Afghanistan sebagai seorang
perempuan  nan cantik di balik *burqa*. Tertutup. Misterius.  Penuh selidik dan
prasangka.  Hanya sepasang mata biru yang terlihat. Ia memutuskan untuk
mengenalnya lebih dekat.  Tak diduga, ia jatuh cinta pada negeri bercadar
itu.



Buku Selimut Debu ini hadir buah dari perjalanannya mengunjungi Afghanistan
di tahun 2006. Kunjungan kedua setelah sempat bersinggungan dengan sisa-sisa
Taliban  di tahun 2003.  Ia mengandalkan buku lusuh *An Historical Guide To
Afghanistan* tulisan Nancy Dupree terbitan tahun 1970-an.  Meski hanya
berbekal buku dan uang seadanya,  namun semangat menelusuri sudut negeri itu
membara sejak pertemuan dengan seorang pencari karpet di kedai teh di
wilayah Bamiyan.



Ada semangat eksplorasi yang ingin dibawa Agustinus untuk pembaca Selimut
Debu. Sejarah Afghanistan bagi kita mungkin diawali ketika Rusia menginvasi
negeri ini, melahirkan gerakan Mujahiddin. Hingga sekarang pun rentas waktu
Afghanistan adalah misteri.  Bukankah di sana perempuan adalah kelas kedua,
atau bukankah harga sebuah nyawa tak lebih mahal dari seekor domba.  Negeri
porak-poranda. Negeri perang. Berbahaya, dan makin tak bersahabat jika tak
mampu menggaulinya.



Mengurai demografi negeri ini, melacak hingga sejauh mungkin lorong waktu
negeri *khaak *(debu) hingga era kerajaan dan dinasti *Mullah*. Ada etnis
Tajik. Hazara, Farsiwan,  Pasthun yang menciptakan mozaik indah Afghanistan.
Kecantikannya tertafsir sebagai sebuah godaan untuk dijarah, diambil alih,
dirombak dan bahkan dikangkangi oleh banyak kepentingan: Romawi, Alexander
Agung, Rusia, Amerika. Namun, Agustinus tetap mengagumi kegigihan dan harga
diri bangsa Afghan yang diwakili berbagai etnis.



“Menjadi ‘Afghan’ berarti menjadi berani, tahan banting dan pantang mundur.
Itulah benang merah yang menyatukan berbagai suku bangsa yang mendiami
Afganistan”. (halaman 330)



Meskipun perjalanan di buku ini adalah tentang negeri Afghanistan, ternyata
Agustinus berusaha melihat dari perspektif luar. Membandingkannya dengan
Tajikistan yang sempat dikunjungi dalam perjalanan menuju koridor Wakhan
ataupun saat menyeberang hingga ke Iran. Sebuah kejutan budaya yang diakui
menjatuhkan kepercayaan dirinya sebagai “Afghan”.



Identitas adalah sebuah deretan pertanyaan tanpa henti. Anda muslim? Anda
Pasthun? Anda Ismaili, Sunni, Syiah?  Ini menandakan bagaimana negeri ini
terbangun dari  berbagai rumpun. Negeri yang dulunya bagian dari peradaban
tinggi tiga ribu tahun yang silam. Jauh sebelum Kristus, agama kuno Yunani,
Romawi, Zoroaster, Buddha, Islam dan Komunis.



Toh Agustinus berani menyelipkan ironi dan absurditas di tengah
perjalanannya. Tentang membanjirnya produk barat seperti Coca Cola misalnya,
atau betapa ia tak bisa memahami saat melihat semua lelaki di
*samovar *-warung
teh terduduk *ta’zim *menonton sinetron Hindustan. Ia juga membenturkan
pergulatan perempuan di Afghanistan untuk mendapatkan tempat di ruang
publik, mempertanyakan efektifitas bantuan asing untuk penduduk pasca perang
* dan juga esensi  konsep kebangsaan  ‘satu bangsa satu bahasa’ di tengah
keanekaragaman budaya.



Buku Selimut Debu memang memaparkan perjalanan panjang penuh suka duka
melewati Pass di pegunungan bersalju, desa-desa dengan sistem transportasi
seadanya.  Menerobos titik utara di Kandahar, melintasi koridor Wakhan,
hingga kembali ke Bamiyan dan bersinggungan dengan ibukota Kabul.  Agustinus
memutuskan untuk mengenal lebih  dalam negeri  ini melalui bahasa. Ia
dikaruniai talenta penguasaan bahasa, termasuk bahasa Farsi, ataupun Dari -
*lingua franca*  bahasa Persia yang dipakai secara luas di daratan Asia
Tengah. Mengerti bahasa membuat karakter-karakter yang ditemuinya adalah
mewakili pemikiran dan konsep mereka.



Agustinus tidak berusaha membuat sebuah penilaian absolut terhadap karakter
karena agama, budaya, opini ataupun keberpihakan politik. Ia memilih
mengabsorsi, mengolah dan memahami. Sebuah proses panjang dari seorang
backpacker menjadi eksplorer hingga seperti layaknya seorang observer.
Baginya, seorang pengelana adalah merekam, mencatat, menguntai kisah negeri
Afghanistan. Tentang manusia di dalamnya, tentang budaya yang membentuknya
dan pergulatan politik tanpa henti.



Buku ini mengingatkan kisah serupa dari mantan diplomat Inggris, Rory
Stewart –*The Places in Between.*  Berbeda dengan Stewart yang sudah
mempunyai *prejudice*, Agustinus memilih melihat Afghanistan seperti dengan
kamera. Ada keindahan tersembunyi. Ada momen yang tak bisa dilihat dengan
telanjang. Melihat negeri ini adalah melihat dengan hati. Termasuk
isu-isu kontroversial
seperti ladang opium dan *bachabazi *–hubungan seksualitas sesama lelaki.
Seperti halnya  *burq*a, bachabazi adalah masalah budaya dan pergulatan
kekuatan antara satu gender dengan subordinatnya.



Bagi penikmat setia blog dan hasil fotographinya di
*http://avgustin.net*<http://avgustin.net/>
, kisah Afghanistan ini adalah detail perjalanan yang sebelumnya muncul
dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Nampaknya ini dipilih untuk memberikan
napas baru bagi para pembaca serial Titik Nol di harian Kompas yang
mengisahkan perjalanannya menyusuri negeri-negeri bekas Uni Soviet, hingga
India dan Nepal. Ada perbedaan yang jelas antara tiga media ini dengan buku.




Selimut Debu terasa lambat untuk pembaca yang terbiasa dengan travel writing
hedonis. Selera humor yang terasa reflektif nyaris kering, namun sarat
dengan simbolik dan makna. Sebuah gaya penulisan yang mengingatkan padapenulis
*travel literature* seperti Paul Theroux. Nonfiksi tetapi mewakili romans
sebuah novela; yang direfleksikannya dengan tidak mencantumkan daftar isi.



Buku ini bukan saja bertutur mendalam tentang sebuah negeri, tetapi
pergumulan dengan orang-orang yang ditemuinya. Sudah saatnya Indonesia
menghasilkan buku traveling seperti ini.


Oleh Ambar Briastuti.




------------------------------

* ia pernah menjadi sukarelawan gempa di Kashmir Pakistan, bekerja untuk
beberapa projek PBB seperti UNDP di bidang kesamaan gender (gender
equality).


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Indonesian Backpacker Community 
visit our website at http://www.indobackpacker.com 

Silakan membuka arsip milis http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/   
untuk melihat bahasan dan informasi yang anda butuhkan.

No SPAMMING or forwarding unrelated messages.
Silakan beriklan sesuai tema backpacking di hari JUMAT. 

Sebelum membalas email, mohon potong bagian yang tidak perlu dan kutip bagian 
yang perlu saja. 

Milis Indobackpacker menerima ATTACHMENT baik gambar ataupun photo, tetapi 
mohon indahkan tentang hak cipta dan ukuran file. 

Cara mengatur keanggotaan di milis ini :

Mengirim email ke grup : [email protected] (moderasi penuh)
Mengirim email kepada para Moderator/Owner: [email protected]
Satu email perhari: [email protected]
No-email/web only: [email protected]
Berhenti dari milist kirim email kosong : 
[email protected]
Bergabung kembali ke milist kirim email kosong : 
[email protected]

Yahoo! Groups Links





------------------------------------

Indonesian Backpacker Community 
visit our website at http://www.indobackpacker.com 

Silakan membuka arsip milis http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/   
untuk melihat bahasan dan informasi yang anda butuhkan.

No SPAMMING or forwarding unrelated messages.
Silakan beriklan sesuai tema backpacking di hari JUMAT. 

Sebelum membalas email, mohon potong bagian yang tidak perlu dan kutip bagian 
yang perlu saja. 

Milis Indobackpacker menerima ATTACHMENT baik gambar ataupun photo, tetapi 
mohon indahkan tentang hak cipta dan ukuran file. 

Cara mengatur keanggotaan di milis ini :

Mengirim email ke grup : [email protected] (moderasi penuh)
Mengirim email kepada para Moderator/Owner: [email protected]
Satu email perhari: [email protected]
No-email/web only: [email protected]
Berhenti dari milist kirim email kosong : 
[email protected]
Bergabung kembali ke milist kirim email kosong : 
[email protected]

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke