Ketika selesai membaca buku ini,

Ada rasa iri sebenarnya kepada Agustinus. Iri pada keberanian dan keputusannya 
untuk menjelajahi tempat-tempat yang sebagian besar orang tidak ingin 
mendatanginya. Tetapi rasa terima kasih saya jauh lebih besar, karena banyaknya 
informasi dan cerita yang saya dapat mengenai negara, bangsa, sejarah, budaya, 
dan kehidupan masyarakat Afghan. Di mana sebeleumnya saya menganggap bahwa 
latar budaya Afghan yang diceritakan dalam Novel "The Kite Runner" sebagai 
karangan belaka, ternyata memang begitulah kenyataan yang sebenarnya. Yang 
dialami sendiri oleh Agustinus.

Sama seperti yang Agustinus pikirkan ketika bertemu dengan turis jepang dengan 
Shalwar-Qamiz yang lusuh ketika pertama kali memasuki Afghanistan. Inilah tipe 
lelaki idaman saya.

Cheers,
Takbir


--- On Sat, 19/6/10, ade nastiti <[email protected]> wrote:

From: ade nastiti <[email protected]>
Subject: Re: [indobackpacker] Resensi Buku Selimut Debu oleh Agustinus Wibowo
To: "Ambar Briastuti" <[email protected]>, 
[email protected]
Date: Saturday, 19 June, 2010, 10:12

Terima kasih resensinya mbak Ambar. Resensi yang tak kalah hebatnya dengan 
"Selimut Debu" sendiri. Saya tergoda juga untuk ikutan sharing.

Bagi saya buku karya Agustinus ini sangat fenomenal. Saya membacanya dengan 
nyaris tanpa jeda. Saya sengaja membaca pada saat weekend dan sudah wanti2 ke 
keluarga supaya tdk diganggu. Saya hanya meletakkan buku ini pada saat shalat 
atau ke kamar kecil. Sebelum selesai saya tak merasakan lapar sama sekali. 
Sebaliknya, buku ini membuat saya terus hauuusss. Haus akan informasi yg pengen 
terus saya gali dari membuka lembaran-lembaran buku ini. (Serius!  Nggak 
bermaksud lebay... :)


Ada beberapa pengalaman agustinus yang membuat saya menangis dengan dada sesak, 
memejamkan mata dan merenung sejenak. Ada ya negeri seperti itu? Negeri yang 
hanya kita kenal dari jenggot, purdah, bom, anak2 tanpa masa depan dan puing2 
kehancuran, tetapi di "mata hati" agustinus ternyata menyimpan banyak keindahan.

Fenomena tentang Bacha, lelaki mungil, halus tanpa jenggot, --yg menyemarakkan 
dunia lain di Afghan selama ribuan tahun membuat saya terperanjat tak alang 
kepalang. Juga tentang reaksi polos wanita Afghan ketika ditunjukkan foto2 
perempuan lain di luar negerinya yang memiliki kebebasan utk bekerja dn 
beraktufitas keluar rumah, "oh kasian sekali perempuan2 itu harus bekerja 
keras, memangnya kemana suaminya?"

Hiks... Saya meringis. Saya teringat beberapa bulan lalu saya ikut kursus 
feminisme dan dlm beberapa sesi dikupas ttg betapa menderitanya wanita afghan 
di mata kita. Dan itu membuat saya marah sekali. Saat itu rasanya saya pengen 
"berjihad" membebaskan wanita2 afghan agar bisa keluar dari penjara rumahnya. 
Ternyata mereka malah mengasihani saya yg bekerja mencari nafkah... :D

Buku Agustinus membuat saya merasa sangat malu. "Apa yg kamu ketahui tentang 
kebahagiaan mereka?" Apa ukuran kebahagiaan? Siapa yang menentukan ukuran 
kebahagiaan? Saya ingat ulasan Agustinus ttg wanita afghan yg anonim. Ia bisa 
leluasa melihat keluar, menatap laki-laki yang berlalu lalang, menatap dunia 
dari celah purdahnya, tapi orang di luar dirinya (terlebih laki-laki) sama 
sekali tak bisa melongok sedikitpun dibalik purdahnya. Ia begitu misterius.  
Itulah yg dilihat Agustinus. Sesuatu yg menurut kita "belenggu" ternyata bagi 
mereka adalah pagar zona aman.

Sungguh banyak pengetahuan baru yg menyentak, menggugah kesadaran, menampar 
rasa malu, juga rasa penasaran yg menggelegak utk bisa mengunjunginya.

Saya rasa saya jatuh cinta pada ketiganya: agustinus, selimut debu dan 
Afganistan. 

Ade


Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Ambar Briastuti <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Fri, 18 Jun 2010 15:33:53
To: <[email protected]>
Subject: [indobackpacker] Resensi Buku Selimut Debu oleh Agustinus Wibowo

Sekedar kilas balik:

Agustinus Wibowo dan milis Indobackpacker seperti pararel. Ia bergabung
dengan milis beberapa minggu setelah dibentuknya komunitas ini pada bulan
September 2004 oleh tiga orang pendiri Aris Kunlun, Erwin Yulianto dan
Santoso.

Dalam email perkenalannya ia menulis, "Nama saya Agustinus Wibowo, masih 23
tahun, masih pemula sekali, baik dalam fotografi maupun travelling. Dalam
travelling saya lebih suka untuk melakukan perjalanan ke daerah-daerah
eksotis, yang pada umumnya, tidak dikunjungi turis. Budget perjalanan saya
juga sangat minim, maklum masih mahasiswa. Jadi biasanya menggunakan alat
transportasi yang sangat merakyat, tinggal di losmen yang paling murah,
makan di pasar, dll."

Saat itu walau baru 23 tahun dan mengaku pemula,  ia sebenarnya telah
menjelajahi Mongolia, Laos, Vietnam, Kamboja, Pakistan, Afghanistan,
Kyrgyzstan, Uzbekistan, Kazakhstan, dan beberapa daerah di Cina seorang
diri. Ia bersedia menjadi kontributor di indobackpacker.com yang dibuat
sebagai media untuk menulis cat-per sebelum meluncurkan situs pribadi
ditahun 2005.


Salam,
Ambar


=====================







Judul Buku: Selimut Debu

Penulis: Agustinus Wibowo

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tebal: xii + 461 halaman

Cetakan: I, Januari 2010

ISBN: 978-979-22-5285-9






Kedai teh adalah universitas kehidupan.  (halaman 184)





Apa yang membuat seorang backpacker mengunjungi negara yang belum diulas
oleh *Lonely Planet* –kitab suci pengelana independen?  Bagi Agustinus
Wibowo mungkin terasa klise. Ia melihat Afghanistan sebagai seorang
perempuan  nan cantik di balik *burqa*. Tertutup. Misterius.  Penuh selidik dan
prasangka.  Hanya sepasang mata biru yang terlihat. Ia memutuskan untuk
mengenalnya lebih dekat.  Tak diduga, ia jatuh cinta pada negeri bercadar
itu.



Buku Selimut Debu ini hadir buah dari perjalanannya mengunjungi Afghanistan
di tahun 2006. Kunjungan kedua setelah sempat bersinggungan dengan sisa-sisa
Taliban  di tahun 2003.  Ia mengandalkan buku lusuh *An Historical Guide To
Afghanistan* tulisan Nancy Dupree terbitan tahun 1970-an.  Meski hanya
berbekal buku dan uang seadanya,  namun semangat menelusuri sudut negeri itu
membara sejak pertemuan dengan seorang pencari karpet di kedai teh di
wilayah Bamiyan.



Ada semangat eksplorasi yang ingin dibawa Agustinus untuk pembaca Selimut
Debu. Sejarah Afghanistan bagi kita mungkin diawali ketika Rusia menginvasi
negeri ini, melahirkan gerakan Mujahiddin. Hingga sekarang pun rentas waktu
Afghanistan adalah misteri.  Bukankah di sana perempuan adalah kelas kedua,
atau bukankah harga sebuah nyawa tak lebih mahal dari seekor domba.  Negeri
porak-poranda. Negeri perang. Berbahaya, dan makin tak bersahabat jika tak
mampu menggaulinya.


Kirim email ke