Selalu ada jarak antara berita dan realita. Boleh saja seorang reporter 
memberikan laporan langsung sambil merendam dirinya didalam air ditengah hujan 
untuk meyakinkan pemirsanya tentang pengalaman tangan pertama tentang musim 
banjir, tetap saja ada jarak dengan apa yang dialami dan dirasakan oleh warga 
yang rumahnya terkena banjir. 

Demikian juga jarak antara berita dan Agus Weng waktu Agus melihat tayangan 
tentang Afganistan di Dunia Dalam Berita - TVRI. Buku Selimut Debu ini adalah 
tentang perjalanan Agus Weng yang ingin memperkecil jarak antara berita dan 
realita Afganistan. 

Dibagian tertentu kota Kabul, pesta berjalan terus bagi mereka yang ingin 
melupakan beratnya penugasan di Kabul. Mereka adalah pekerja-pekerja badan 
dunia, individu yang mungkin secara finansial paling diuntungkan dengan adanya 
perang di Afganistan. 

Ada dari mereka yang benar-benar datang atas panggilan kemanusiaan, ada yang 
datang karena ingin memiliki sesuatu yang bersinar dalam daftar riwayat 
pekerjaan mereka. Program-program kerja diciptakan, konsultan didatangkan, yang 
terkadang tanpa mempertimbangkan kebijaksanaan lokal.

Sewaktu memulai membaca buku ini, saya bersiap untuk mendengar pendapat penulis 
yang hitam-putih tentang Rezim Taliban. Tapi yang binari hanya ada dalam teori.

Ketika patung Budha di Bamiyan dihancurkan oleh Taliban, banyak orang yang 
mengutuk tindakan tersebut sebagai sebuah tindakan tak berbudaya. Dari sisi 
Taliban, selain tidak sesuai dengan pengertian mereka terhadap kepercayaan yang 
dianut, mereka juga muak ketika manusia masih disibukkan dengan upaya bertahan 
hidup, orang asing malah datang ke tanah mereka dan sibuk mengurusi benda mati.

Bagi perempuan yang melakukan perjalanan, umumnya yang menjadi perhatian utama 
adalah keselamatan dari gangguan yang bersifat susila. Di Afganistan, 
sebaliknya kaum lelaki juga perlu waspada untuk tidak memberi sinyal yang salah 
kepada sejenis. Homoseksualitas adalah sesuatu yang bisa diterima secara 
budaya. Saat Taliban berkuasa mereka memberi hukuman yang berat bagi yang 
melakukan praktek ini. 

Buku ini menjadi seperti paralel dengan Indonesia ketika berbicara tentang 
bagaimana rakyat Afganistan dengan berbagai kesulitan hidupnya memandang negara 
tetangganya Iran atau Tajikistan yang hanya diseberang sungai. Walaupun ketika 
mereka berhasil melampaui perbatasan seringkali mendapat perlakuan yang tidak 
layak dari sang tuan rumah.

Salah dua paragraf yang memberikan "A-ha" moment untuk saya adalah;

"Tidak salah memang, diantara kelima komponen kebangsaan- wilayah, negara, 
bahasa, kebudayaan, dan sejarah-bahasa adalah unsur terkuat pembentuk 
identitas. Bahasa, alat terpenting komunikasi antara manusia, adalah senjata 
paling ampuh untuk mempersatukan atau memecah belah sebuah bangsa. Komunitas 
imajinasi dapat diciptakan dengan bahasa, dimana para warga bangsa dipersatukan 
dengan warga bangsa lainnya yang berbeda kultur dan etnik, dan bahkan sama 
sekali tidak pernah mereka temui, kenal, atau bayangkan"(hal 222)

Bahasa punya kekuatan magis. Mampu menciptakan dimensi ruang, waktu, dan imaji 
bagi setiap pemakainya. Sebuah ikatan kebangsaan, yang wujudnya melayang-layang 
dikeliling garis batas Negara, tercipta dalam alam pikir semua manusia yang 
hidup dalam teritorinya.(hal xxx)

Dengan lincah, Agus Weng mampu menangkap fakta masa kini, sejarah masa lalu, 
dan menarik benang merahnya. Tentu hal ini hanya bisa dilakukan jika si penulis 
melakukan studi yang cukup.

Membaca buku ini dibutuhkan konsentrasi yang cukup mengingat alurnya yang 
linier. Di beberapa tempat memang diberikan ilustrasi sketsa peta, namun buat 
orang yang visual seperti saya, perlu beberapa kali kembali ke halaman peta 
untuk dapat membayangkan alur perjalanannya.

Bahasa, suku, dan sekte, ditengah buruknya fasilitas umum akibat perang 
berkepanjangan, telah membentuk sekat-sekat imajiner diantara warga Afganistan. 

Adalah satu yang menyamakan sekat-sekat itu: Selimut Debu.


--- In [email protected], Ambar Briastuti <ambar.briast...@...> 
wrote:
>
> Sekedar kilas balik:
> 
> Agustinus Wibowo dan milis Indobackpacker seperti pararel. Ia bergabung
> dengan milis beberapa minggu setelah dibentuknya komunitas ini pada bulan
> September 2004 oleh tiga orang pendiri Aris Kunlun, Erwin Yulianto dan
> Santoso.
> 
> Dalam email perkenalannya ia menulis, "Nama saya Agustinus Wibowo, masih 23
> tahun, masih pemula sekali, baik dalam fotografi maupun travelling. Dalam
> travelling saya lebih suka untuk melakukan perjalanan ke daerah-daerah
> eksotis, yang pada umumnya, tidak dikunjungi turis. Budget perjalanan saya
> juga sangat minim, maklum masih mahasiswa. Jadi biasanya menggunakan alat
> transportasi yang sangat merakyat, tinggal di losmen yang paling murah,
> makan di pasar, dll."
> 
> Saat itu walau baru 23 tahun dan mengaku pemula,  ia sebenarnya telah
> menjelajahi Mongolia, Laos, Vietnam, Kamboja, Pakistan, Afghanistan,
> Kyrgyzstan, Uzbekistan, Kazakhstan, dan beberapa daerah di Cina seorang
> diri. Ia bersedia menjadi kontributor di indobackpacker.com yang dibuat
> sebagai media untuk menulis cat-per sebelum meluncurkan situs pribadi
> ditahun 2005.
> 
> 
> Salam,
> Ambar
> 
> 
> =====================
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Judul Buku: Selimut Debu
> 
> Penulis: Agustinus Wibowo
> 
> Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
> 
> Tebal: xii + 461 halaman
> 
> Cetakan: I, Januari 2010
> 
> ISBN: 978-979-22-5285-9
> 
> 
> 
> 

Kirim email ke