Di awal tahun 2000 an, saya bertemu dan bercakap2 dengan seseorang dibandara Frankfurt : yang menyatakan buat apa berkali-kali ke Eropa. Kalau mau melihat pemandangan bagus dan luar biasa : pergilah ke perbatasan Pakistan dan Uzbekistan/ Kirgistan...tan-tan lah dan disana juga ada salju. Asia Tengah, Timur adalah tempat luar biasa. saya hanya bengong, diam dan tertunduk malu. ( *ticket ke Eropa itu gratis- dapat dua kali lagi*)
Dulu juga, saya adalah pembaca nomor wahid. Bisa nggak mau kerja'an lain sebelum novel/bacaan selesai. Waktu berlalu, sekarang malahan tidak membaca sama sekali. kecuali koran. Bacaan terakhir beberapa tahun lalu : Davinci code tak selesai ( 3/4 aja, lalu baca ujungnya) illuminati hanya sampai setengah ( 4 bulan )bukunya lenyap. Masih sering ke toko buku : tapi selalu bertanya : masih adakah yang seperti Hemingway, Du Mauriers, Forsyth atau Grisham. ( Grisham pun hanya the Firtm ) juga banyak buku perjalanan : saya hanya lihat judulnya; buka beberapa lembar, lalu taruh di rak kembali. Sebuah buku yang ditulis hanya sekali berjalan dan alangkah naivenya. Bacaan terakhir dan baca ulang lagi : adalah kisah anak2 perempuan di pulau terluar dengan fasilitas sederhana, mereka begitu bercita-cita untuk masa depan dan bisa menguasai beberapa bahasa. oh ya saya membaca juga; karena mencari nafkah dengan membaca : dan membaca membuat saya 'update' terus. spesial buat Gus Weng ( sok akrab), adalah menulis sebuah cerita perjalanan bukan hanya sekali berkunjung di salah satu negeri eksotis. dan harus pergi lagi dan menetap sementara untuk menuntaskan penulisan bukunya. Tentu, dengan berjalannya waktu, dan pak Agustinus berkunjung kesana lagi, bisa merevisi ( maksudnya ada yang berubah di Afghanistan) dan (mungkin) menambah jumlah halamannya. Proficiat Gus Weng pmm On 6/30/10, Puguh <[email protected]> wrote: > > > Buku ini menjadi seperti paralel dengan Indonesia ketika berbicara tentang > bagaimana rakyat Afganistan dengan berbagai kesulitan hidupnya memandang > negara tetangganya Iran atau Tajikistan yang hanya diseberang sungai. > Walaupun ketika mereka berhasil melampaui perbatasan seringkali mendapat > perlakuan yang tidak layak dari sang tuan rumah. > > Salah dua paragraf yang memberikan "A-ha" moment untuk saya adalah; > > "Tidak salah memang, diantara kelima komponen kebangsaan- wilayah, negara, > bahasa, kebudayaan, dan sejarah-bahasa adalah unsur terkuat pembentuk > identitas. Bahasa, alat terpenting komunikasi antara manusia, adalah senjata > paling ampuh untuk mempersatukan atau memecah belah sebuah bangsa. Komunitas > imajinasi dapat diciptakan dengan bahasa, dimana para warga bangsa > dipersatukan dengan warga bangsa lainnya yang berbeda kultur dan etnik, dan > bahkan sama sekali tidak pernah mereka temui, kenal, atau bayangkan"(hal > 222) > > Bahasa punya kekuatan magis. Mampu menciptakan dimensi ruang, waktu, dan > imaji bagi setiap pemakainya. Sebuah ikatan kebangsaan, yang wujudnya > melayang-layang dikeliling garis batas Negara, tercipta dalam alam pikir > semua manusia yang hidup dalam teritorinya.(hal xxx) > > Dengan lincah, Agus Weng mampu menangkap fakta masa kini, sejarah masa > lalu, dan menarik benang merahnya. Tentu hal ini hanya bisa dilakukan jika > si penulis melakukan studi yang cukup. > > Membaca buku ini dibutuhkan konsentrasi yang cukup mengingat alurnya yang > linier. Di beberapa tempat memang diberikan ilustrasi sketsa peta, namun > buat orang yang visual seperti saya, perlu beberapa kali kembali ke halaman > peta untuk dapat membayangkan alur perjalanannya. > > Bahasa, suku, dan sekte, ditengah buruknya fasilitas umum akibat perang > berkepanjangan, telah membentuk sekat-sekat imajiner diantara warga > Afganistan. > > Adalah satu yang menyamakan sekat-sekat itu: Selimut Debu. >
