> > Nah, kawan-kawan marilah kita renungkan,
> > bagaimana diskusi untuk solusi terbaik bagi perselisihan di Ambon, 
> > bagaimana cara menangkap sang konseptor itu,
> > Kalau abri punya intelijen, kalau rakyat apa punya intelijen?, sebab
> yang dipunyai oleh rakyat biasanya dicap sebagai isu provokasi, 
> > kasihan juga orang-orang yang tertangkap karena cuma-cuma ikutan
> saling melempar batu,
> 
> betul juga kang pudjo,
> saya yakin kalau tujuan rekan2 indoznet dalam mengetengahkan segala
> permasalahan 'ambon' adalah dalam rangka mencari solusi, meskipun
> kadang ada juga yang sempat terbawa emosi.

amat:

dalam peristiwa ambon kebanyakan dari kita, kecuali yang berasal dari 
ambon dan secara langsung menjadi korban atau mengorban orang 
lain, kita sebenarnya 'pengamat', pengamat yang tidak sepenuhnya 
secara emosional bebas dari peristiwa yang terjadi di ambon. 
karena itu, komentar kita adalah komentar pengamat. tentang 
pengamat ini, orang jawa punya pepatah: keplok ora tombok 
[bertepuk tangan tanpa biaya]. sebaliknya 'pengamat' liga 
sepakbola indonesia, karena semangatnya, bisa merusak dan membuat 
takut seluruh kota. 

posisi kita sebagai 'pengamat' akan sangat menentukan pilihan-pilihan 
tawaran solusi perkara ambon.

> saya setuju dengan saran kang pudjo tsb, marilah kita pahami uneg2
> yang ada di benak dan hati kita dalam rangka mecari proses
> penyelesaiannya. paling tidak kita tidak berbuat sesuatu yang malah
> akan menghancurkan saudara2 kita.

amat:
untuk 'berproses', mungkin kita perlu menjawab pertanyaan ini: 
perkara ambon ini perkaranya orang ambon, apapun agama dan sukunya, 
atau juga perkara kita? jelas jawabannya tidak either... or, tetapi 
setidak-tidaknya dengan pertanyaan di atas kita bisa menentukan  
prioritas perhatian.

kalau prioritasnya adalah: perkara itu perkara ambon, perlukah kita, 
sesama 'pengamat', saling membakar emosi kita dengan memperluas arena 
pertentangan? kalau perkara ambon ini merupakan letupan dari perkara 
kita, pertentangan islam vs.kristen misalnya, marilah kita 
bersama-sama mengidentifikasi perkara kita dan membicarakannya dengan 
mulut eh kata eh tulisan.
 
> semoga dengan ini pula tidak akan terulang kasus2 semacam ketapang,
> kupang, ambon dll. lebih baik segala uneg2 dan emosi terlampiaskan
> dalam kata2 dari pada dengan clurit, bom molotov, atau bedil  

bagi saya, ambon, ketapang, kupang dan semacamnya adalah perkara 
kriminal, yang pelakunya berlindung di balik bendera agama, entah 
itu kristen atau islam. orang yang beragama dan beriman tidak akan 
melakukan tindakan kriminal. sebaliknya orang yang melakukan tindakan 
kriminal selalu bisa membawa-bawa agama.  

> sebenarnya saya juga sangat sedih, bagaimanapun kita sebagai manusia
> adalah bersaudara, tapi mengapa bisa saling membunuh atau merusak?

amat:
ya karena kita tidak dididik, tidak disosialisasikan pada 'keadilan 
pelepasan'. keadilan yang kita akrabi adalah 'keadilan kemaruk 
pendapatan' [see my posting: keadilan adalah ..., 5 maret 1999]. 

saya yakin tuhan akan lebih sedih kalau kita sedih tapi tidak juga 
berbalik, melakukan 'pertobatan'. kalau saya, misalnya, sedih dan 
tahu yang menyebabkan kesedihan saya adalah pemahaman 'keadilan 
kemaruk pendapatan' saya, dan saya tak juga belajar mencari pemahaman 
keadilan yang lain, saya merasa pasti tuhan akan lebih sedih. 

> bahkan rasanya malu juga kalau lihat mahluk yang namanya 'semut',
> meskipun mereka binatang yang jauh lebih lemah dan tidak berakal
> pula daripada  manusia tapi mampu bekerja sama untuk membawa
> 'makanannya' yang jauh lebih besar dari tubuhnya. 

amat:
ya.... manusia juga lebih mampu!


> > Marilah kita ngobrol berdiskusi dengan baik
> 
> 
> terimakasih atas ajakannya. namun demikian kalau ada yang sempat
> emosipun hendaknya bisa kita pahami juga, mungkin dengan 'emosi'
> maka akan nampaklah keinginan yang mendasar dari kita, yang kadang
> 'keinginan tertekan' tsb tidak akan terucapkan kalau kita dalam
> keadaan mental/mood yang prima. mungkin juga itu justru bagai 'api
> dalam sekam' yang kalau ada angin sedikit aja bisa membakar akal
> sehat kita. biarlah kita saling berdebat, berargumen, beremosi dan
> berkomunikasi di internet daripada main bakar2an, bunuh2an di darat.
> 
 
amat:
kalau kita selalu mau melatih akal sehat kita, tidak perlu kita 
membakar 'emosi'. tapi memang sulit melatih akal sehat. kadang kita 
merasa tengah melatih akal sehat, ternyata yang kita lakukan adalah 
menuruti nafsu yang kita akalsehatkan [baca: rasionalising our lusts, 
desires].

Kirim email ke