dihapus
> berhubung saya dalam hal ini
> hanya sempat sebagai pengamat indoznet yang cukup lama maka mencoba
> mencari relevansinya antara kasus satu dengan lainnya, yang mungkin
> bisa ditarik benang merah buat dipahami.
amat:
please explain.
> rasanya terlalu berat kalao
> semua yang kita tulis harus memberikan suatu solusi, tapi paling
> tidak bisa memberi pemahaman orang lain bahwa mungkin 'emosi2' dari
> netters adalah cerminan dari emosi2 kita2 didarat. dengan kata lain,
> bagi saya tiada yang sia2 apapun yang tertulis di indoznet.
amat:
akur.
> > > saya setuju dengan saran kang pudjo tsb, marilah kita pahami uneg2
> > > yang ada di benak dan hati kita dalam rangka mecari proses
> > > penyelesaiannya. paling tidak kita tidak berbuat sesuatu yang malah
> > > akan menghancurkan saudara2 kita.
> >
> > amat:
> > untuk 'berproses', mungkin kita perlu menjawab pertanyaan ini:
> > perkara ambon ini perkaranya orang ambon, apapun agama dan sukunya,
> > atau juga perkara kita? jelas jawabannya tidak either... or, tetapi
> > setidak-tidaknya dengan pertanyaan di atas kita bisa menentukan
> > prioritas perhatian.
>
> kalau saya memandangnya dalam konteks yang luas. itu adalah perkara
> kita bersama sebagai sesama umat. saya kurang suka memandangnya
> sebagai masalah orang ambon, orang islam atau orang kristen dan
> biarlah yang menentukan prioritas adalah para netters masing2.
>
amat:
maksud saya dengan 'perkaranya orang ambon' adalah limitasi
konteksnya 'entitas ambon'. dan batasan 'entitas' ini pun sifatnya
'cair' [fluid], hanya biar perkaranya tidak [terlalu jauh] keluar
dari 'entitas'. [ah.... jadi kangen sama blih putu dan yusak]
> > kalau prioritasnya adalah: perkara itu perkara ambon, perlukah kita,
> > sesama 'pengamat', saling membakar emosi kita dengan memperluas arena
> > pertentangan? kalau perkara ambon ini merupakan letupan dari perkara
> > kita, pertentangan islam vs.kristen misalnya, marilah kita
> > bersama-sama mengidentifikasi perkara kita dan membicarakannya dengan
> > mulut eh kata eh tulisan.
>
> betul juga, tapi bukankah tulisan adalah cermin dari jiwa dan
> keinginan kita yang sebenarnya terhadap situasi?
amat:
dan bukankah 'entitas situasi' ini perlu disauhkan [to be anchored]
dulu sebelum perkaranya ditulis dan dibicarakan? [pilihan disauhkan
atau tidak disauhkan, masing-masing punya konsekuensinya sendiri].
dihapus
> >
> > amat:
> > kalau kita selalu mau melatih akal sehat kita, tidak perlu kita
> > membakar 'emosi'. tapi memang sulit melatih akal sehat. kadang kita
> > merasa tengah melatih akal sehat, ternyata yang kita lakukan adalah
> > menuruti nafsu yang kita akalsehatkan [baca: rasionalising our lusts,
> > desires].
> >
>
> yah..tapi itu menurutku manusiawi sekali dan kenyataannya memang
> masih seperti itulah kita sebagai bangsa.
amat:
manusiawi dan 'manusiawi' bisa berbeda. adalah 'manusiawi' kalau kita
emosional [baca: mudah 'meledak', 'sumbu pendek', akrab dengan
kekerasan]. tetapi tidak manusiawi kalau atas nama kemanusiawian,
kita emosional.
dihapus