---amat <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> amat:
> bagi saya, tetap juga ini kriminil alias penjahat yang membawa-bawa
> agama.
>
> menurut pemahaman saya, spiritualitas agama ibaratnya matahari. dia
> memberikan kehidupan tanpa sendiri sadar [menyadari] bahwa telah
> memberikan kehidupan.
>
> perbuatan maling, meskipun dia juga mendapatkan kehidupan
> dari matahari, tidak bisa ditimpakan kepada matahari.
nah, kalo kita semua sudah bisa seperti sampeyan ini pasti kasus2 mei,
ketapang, kupang, ambon ini tidak perlu terjadi dengan membawa
sentimen agama. tapi toh kenyataannya masih banyak orang menggunakan
sentimen itu ketimbang melihat bagaimana pokok permasalahannya.
mungkin dengan seringnya saling berbicara dan mendengarkan diantara
kita, bisa meredam hal2 yang lebih memperparah suasana.
> amat:
> pada hemat saya, perkaranya adalah ketidak mampuan sebagaian besar
> dari kita memahami tindakan kriminal, karena kita dikondisikan dalam
> lingkungan 'kriminal'. orang yang lingkungan kriminalnya kental,
> tidak lagi merasa melakukan tindakan kriminal. orang yang
> lingkungan kriminalnya tipis [misalnya cuma denger-denger dari
> gossip, cerita en koran], bingung karena dia masih mengenali tindakan
> kriminal dari yang tidak kriminal tapi tidak mampu melakukan
> discernment: "sakjane eh sebetulnya hal kayak gini ini kriminal atau
> bukan toh? bareng dikategorikan kriminal jangan-jangan ini bukan
> kriminal". karena lemahnya discernement itu, saya maklum kalau orang
> lalu bingung dan bertanya-tanya kayak yang sampeyan haturken di bawah
> ini:
lha, kalo dibilang kriminal ya memang kriminal. tapi penyebabnya itu
lho, apa sih sebenarnya? karena selama ini memang suka tidak jelas.
kalo itu kriminil, kok tidak pernah diselesaikan dengan hukum secara
tuntas?
jadi sebenarnya apa sih tindakan yang dikatagorikan kriminil itu? nah,
kalo kasus2 seperti ambon, kupang, ketapang dll dikatagorikan
kriminil, trus berapa jumlahnya orang yang akan diadili? dan siapakah
yang akan diadili? apakah rakyat yang saling membakar? yang
menyebarkan berita provokasi? abri yang tidak becus? atau netters yang
suka ngompori suasana kriminil?
> amat:
> menurut saya, ketidakidealan dunia bukan alasan untuk tidak
> menetapkan suatu idealisme dan melakukan peretasan jalan menuju ke
> sana. kehidupan menyajikan kemungkinan yang tidak terbatas. perkara
> umat manusia adalah bagaimana mengelola kemungkinan itu agar tidak
> menghancurkan mereka sendiri.
justru itulah yang sekarang ini menjadi permasalahannya. 'bagaimana
mengelola kemungkinan itu agar tidak menghacurkan kita sendiri?'
bisakah masing2 dari kita menjawab pertanyaan tsb?
> amat:
> lho saya tidak melarang orang bicara sesuai dengan keinginannya. biar
> mereka bicara apa yang mau mereka bicarakan. yang saya lemparkan
> adalah alternatif, yang insya allah, make sense alias masup akal.
> kalau alternatif yang saya tawarken laku, ya sokur. kalau nggak ya
> .. kebangeten. eh maksud saya, kalau enggak, ya enggak apa-apa.
>
> wah gek konkesuwen eh konsekuen itu ya apa toh ya?
maksud saya itu, kalo kita berani berbicara dan bertindak ya mbok
berani juga menanggung akibatnya.
kita berani berbicara tapi hendaknya kita juga mau mendengarkan orang
lain. kalao kita berani mencubit orang lain, ya harus bersiap2 buat
dicubit. tapi bukan berarti saling mencubit itu baik (kecuali kalo
lagi pacaran ya?). tapi paling tidak kita bisa memahami betapa
sakitnya dicubit itu, sehingga tidak akan lagi mencubit.
> amat:
> lho yang sampeyan hiupus itu? itu yang saya komentari.
>
oo..gitu to..
mbok bilang dari kemaren..:-)
_________________________________________________________
DO YOU YAHOO!?
Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com