---amat <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> dihapus
>
>
> > berhubung saya dalam hal ini
> > hanya sempat sebagai pengamat indoznet yang cukup lama maka mencoba
> > mencari relevansinya antara kasus satu dengan lainnya, yang mungkin
> > bisa ditarik benang merah buat dipahami.
>
> amat:
> please explain.
nggih pak guru..
wah, aku kok malah bingun ya kalo suruh nerangin lagi?
mungkin maksud saya tadi sbb:
dulu kan di indoznet juga sempat 'ramai' dengan kisah si vivi yang di
perkosa oleh pemerkosa yang menyebutkan kalimat suci dalam suatu
agama. saya memandang kasus tsb menyinggung2 sara. dan sekarang
berkobar lagi kasus yang serupa tapi tidak sama juga menyangkut
masalah sara. nah, dari kasus2 tsb bisa kah kita bicara secara terbuka
'jan-jane' (sebenarnya) apa to yang menjadi permasalahan kita ini? kok
ada kasus2 sedikit saja agama dikait2 kan. betulkah ini masalah agama
atau hanya masalah sentimen saja sebagai ungkapan ketidak mampuan
untuk menjelaskan permasalahan2 yang lebih mendasar, misalnya rasa
ketidak adilan, tidak demokrasi, beratnya beban ekonomi dll yang
sebenarnya bersifat universal.
>
> amat:
> akur.
mbok jangan akur...
enak je kalo pakai eyel2an..:-)
> amat:
> dan bukankah 'entitas situasi' ini perlu disauhkan [to be anchored]
> dulu sebelum perkaranya ditulis dan dibicarakan? [pilihan disauhkan
> atau tidak disauhkan, masing-masing punya konsekuensinya sendiri].
betul kang. itu kan idealnya dan harapannya kang amat.
tetapi didunia ini kan tidak semuanya ideal dan seperti harapan kita.
jadi ya mbok biar to kalo mereka pada ingin bicara sesuai dengan
keinginannya. yang penting konsekwen (wah saya kok jadi ikut2an
lagaknya yu senik ya?)
>
> dihapus
>
lho? ini tadi apa to yang dihapus?
wah, saya ini suka lupa dengan apa yang saya tulis. maklum habis nulis
pikiran saya harus diputer lagi buat 'tune in' kerja di lab. jadi ya
maklum aja kadang tanggpannya banyak yang 'ngalor-ngidul'
(kesana-kemari)
> manusiawi dan 'manusiawi' bisa berbeda. adalah 'manusiawi' kalau kita
> emosional [baca: mudah 'meledak', 'sumbu pendek', akrab dengan
> kekerasan]. tetapi tidak manusiawi kalau atas nama kemanusiawian,
> kita emosional.
weleh aku kok jadi bingun nih.
tingkatannya terlalu tinggi kang. lagian siapa sih yang mengatas
namakan 'kemanusiawan' dengan emosional?
sebut saja kang biar jelas. soalnya di jaman keterbukaan rasanya lebih
baik kita bisa memberikan contoh yang dimaksud tsb biar menjadi
perhatian. kalaupun itu saya ya sebut saja. kalau pakai gaya orang
'jawa' dengan 'sindiran' rasanya kok kayak jamannya orba aja.
>
> dihapus
>
yo wis hapusen kabeh kono.
_________________________________________________________
DO YOU YAHOO!?
Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com