---amat <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
 

> amat:
> 
> dalam peristiwa ambon kebanyakan dari kita, kecuali yang berasal dari 
> ambon dan secara langsung menjadi korban atau mengorban orang 
> lain, kita sebenarnya 'pengamat', pengamat yang tidak sepenuhnya 
> secara emosional bebas dari peristiwa yang terjadi di ambon. 
> karena itu, komentar kita adalah komentar pengamat. tentang 
> pengamat ini, orang jawa punya pepatah: keplok ora tombok 
> [bertepuk tangan tanpa biaya]. sebaliknya 'pengamat' liga 
> sepakbola indonesia, karena semangatnya, bisa merusak dan membuat 
> takut seluruh kota. 
> 
> posisi kita sebagai 'pengamat' akan sangat menentukan pilihan-pilihan 
> tawaran solusi perkara ambon.
> 

hmm...bukankah emosi itu bermacam-macam, ada yang sedih, bingung,
marah, kesal tertawa dll. apa salahnya kita sebagai pengamat terbawa
emosi? terus terang saya terbawa emosi sedih, prihatin dan kesal
karena tidak bisa berbuat apa2...ya nulislah puisi sebagai tumpahan
perasaan. mungkin juga itu tiada artinya, tapi paling tidak  ada suatu
yang menggores di perasaan saya. berhubung saya dalam hal ini hanya
sempat sebagai pengamat indoznet yang cukup lama maka mencoba mencari
relevansinya antara kasus satu dengan lainnya, yang mungkin bisa
ditarik benang merah buat dipahami. 
rasanya terlalu berat kalao semua yang kita tulis harus memberikan
suatu solusi, tapi paling tidak bisa memberi pemahaman orang lain
bahwa mungkin 'emosi2' dari netters adalah cerminan dari emosi2 kita2
didarat.
dengan kata lain, bagi saya tiada yang sia2 apapun yang tertulis di
indoznet.

> > saya setuju dengan saran kang pudjo tsb, marilah kita pahami uneg2
> > yang ada di benak dan hati kita dalam rangka mecari proses
> > penyelesaiannya. paling tidak kita tidak berbuat sesuatu yang malah
> > akan menghancurkan saudara2 kita.
> 
> amat:
> untuk 'berproses', mungkin kita perlu menjawab pertanyaan ini: 
> perkara ambon ini perkaranya orang ambon, apapun agama dan sukunya, 
> atau juga perkara kita? jelas jawabannya tidak either... or, tetapi 
> setidak-tidaknya dengan pertanyaan di atas kita bisa menentukan  
> prioritas perhatian.

kalau saya memandangnya dalam konteks yang luas. itu adalah perkara
kita bersama sebagai sesama umat. saya kurang suka memandangnya
sebagai masalah orang ambon, orang islam atau orang kristen dan
biarlah yang menentukan prioritas adalah para netters masing2.

> 
> kalau prioritasnya adalah: perkara itu perkara ambon, perlukah kita, 
> sesama 'pengamat', saling membakar emosi kita dengan memperluas arena 
> pertentangan? kalau perkara ambon ini merupakan letupan dari perkara 
> kita, pertentangan islam vs.kristen misalnya, marilah kita 
> bersama-sama mengidentifikasi perkara kita dan membicarakannya dengan 
> mulut eh kata eh tulisan.

betul juga, tapi bukankah tulisan adalah cermin dari jiwa dan
keinginan kita yang sebenarnya terhadap situasi? dan ini bisa sangat
bervariasi di masing2 netters. saya sendiri terus terang belajar cukup
banyak dari indoznet, bahkan dari postingnya netters yang menghujat
saya sekalipun. ingatkan, dulu saya suka sekali 'marah2' karena
terpancing tulisan di indoznet, apalagi yang menyangkut tentang diri
saya. tapi rasanya kini saya lebih bisa mentolerir emosi tsb dan
belajar banyak untuk bisa memahami orang lain yang tidak
seide/sekeinginan dengan saya. inilah bagi saya pentingnya berbicara
dan mendengarkan orang lain, apapun bentuknya.  


>  
> > semoga dengan ini pula tidak akan terulang kasus2 semacam ketapang,
> > kupang, ambon dll. lebih baik segala uneg2 dan emosi terlampiaskan
> > dalam kata2 dari pada dengan clurit, bom molotov, atau bedil  
pa bisa saling membunuh atau merusak?
> 
> amat:
> ya karena kita tidak dididik, tidak disosialisasikan pada 'keadilan 
> pelepasan'. keadilan yang kita akrabi adalah 'keadilan kemaruk 
> pendapatan' [see my posting: keadilan adalah ..., 5 maret 1999]. 
> 
> saya yakin tuhan akan lebih sedih kalau kita sedih tapi tidak juga 
> berbalik, melakukan 'pertobatan'. kalau saya, misalnya, sedih dan 
> tahu yang menyebabkan kesedihan saya adalah pemahaman 'keadilan 
> kemaruk pendapatan' saya, dan saya tak juga belajar mencari pemahaman 
> keadilan yang lain, saya merasa pasti tuhan akan lebih sedih. 


hmm..saya masih takut memprediksi apa yang menjadi rencana Tuhan. saya
lebih suka belajar dari kesalahan bersama dan bertobat dengan cara
tidak mengulangi hal yang sama...semoga.


>  
> amat:
> kalau kita selalu mau melatih akal sehat kita, tidak perlu kita 
> membakar 'emosi'. tapi memang sulit melatih akal sehat. kadang kita 
> merasa tengah melatih akal sehat, ternyata yang kita lakukan adalah 
> menuruti nafsu yang kita akalsehatkan [baca: rasionalising our lusts, 
> desires].
> 

yah..tapi itu menurutku manusiawi sekali dan kenyataannya memang masih
seperti itulah kita sebagai bangsa. mampukah kita merombak orang agar
berbuat sesuai dengan keinginan kita? mungkin ada baiknya kalau kita
juga belajar tidak mudah terpancing dengan sesuatu yang memang kurang
cocok bagi kita. 
saya yakin, kalau semakin banyak orang yang tidak mudah terpancing
dengan 'provokasi' maka semakin stabillah kita.jadi kalau di indoznet
ini masih banyak netters yang suka saling menghujat dan menyerang
berarti memang  jiwa kita ini masih labil. dan itu kenyataannya.  
_________________________________________________________
DO YOU YAHOO!?
Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com

Kirim email ke