tambahan sedikit,
mengkaji masalah taqdir yg sdh tertulis ini, jgn melihat goresan taqdir diri 
itu hanya sepihak 
seputar rencana 'pro-aktif' diri sendiri. kita hidup di alam ini mustahil akan 
selalu berencana 
lalu berkonsekuensi gagal/berhasil. pasti ada yg tak terduga, yg juga jadi 
bencana/karunia.
saya kira itu yg terlupakan shg membuat kajian ini spt berputar-putar saja.

digagalkanNya rencana jahat kaum dhalim/bencana thd diri pun bagian taqdir. 
hanya 
kadang/sering manusia itu sisihkan kalau keselamatan dirinya itu bagian dr 
tulisan Allah SWT. 
malah mem-pahlawan-kan 'perantara'-Nya scr berlebihan.

'untung ada hansip yg patroli, kalo tidak pasti habis rumah fulan dilalap si 
merah ... " 

kalau org mengerti taqdir, insya Allah kalimat spontanitasnya yg keluar adlh 
syukur pd 
Allah SWT karena masih dilindungi. 

demikian halnya dgn karunia, sbgian/byk org khawatirkan bayi hidup dari 
kalangan miskin, 
akan kekurangan gizi, pdhl masa bayi itu sangat penting utk pertumbuhan menurut 
ahli gizi, 
ahli nutrisi, kesehatan ... mungkin demikian yakinnya penelitian itu, lupalah 
pd ketentuan taqdir.

andai setiap pandangan manusia dipresumsikan selalu benar, tidak ada ketetapan 
taqdir, 
tentu semua kaum masakiin pasti binasa menurut logika manusia dgn presumsi itu. 
boleh jadi
pengetahuan kesehatan itu sampai pd mereka, tapi mau ikuti saran ahli gizi tapi 
gak punya 
duit. ternyata byk juga bocah2 yg encer otaknya dr kalangan menengah kebawah. 

maha Suci Allah, 
yg maha tinggi lagi maha bijaksana.



salam,
Fahru


________________________________
From: AFR <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Sunday, December 7, 2008 11:20:50 PM
Subject: Re: [is-lam] Jabariyah & Qadariyah --c10|


1. ya begitulah unique sifat Allah SWT, tak ada yg menyamaiNya. apa-apa 
yg akan dilakukan manusia dgn berbagai pertimbangannya, melalui pilihan2 
yg ada + resikonya, seolah-olah pemilihan itu pilihan manusia, setiap perbuatan 
seolah dirinya yg berbuat, kebebasannya seolah bagai tak berhamba ... dstnya

mungkin teramat halus itu utk dipahami ... begitulah Allah SWT. seolah ada 
pesan 
'membebaskan tapi mengikat, mengikat tapi membebaskan'.

a'udzubillahimin syathaani rajiim,

Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah 
yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, 
tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan 
mereka) 
dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mu'min, dengan kemenangan 
yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Pendengar lagi Maha Mengetahui. 
(al-Anfaal:17)


2. Dzalika Allahu Malikul Quddus Salaamul Mu'minuul Muhayminul Aziizul Jabbarul 
Mutakabbir. Subahanallahu ammaa yusrikuun ... Dia memag maha raja yg punya 
kewenangan tak terbatas. apa yg sdh Dia tuliskan adlh janjiNya, sunatullah adlh 
janjiNya, setiap firmanNya adlh juga janjiNya. tak ada yang berubah ttg itu. 

konotasi kata diktator itu boleh buruk buat manusia, tapi kalo disandang pd yg 
Maha Pemurah, maha Penyayang, maha Pengampun ... 


Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana 
tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat 
sebuah kitab yang dijumpainya terbuka. (al-Israa':13)

Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya 
kamu 
ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil. (al-Anfaal:68)

Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih. Kalau 
tidaklah 
karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulu, pastilah telah 
diberi 
keputusan di antara mereka, tentang apa yang mereka perselisihkan itu. 
(Yunus:19)
...

ayat2 serupa yg menyiratkan bhw sdh ada ketetapan sblm semua itu byk sekali 
(Huud 110, Thaahaa 129, As-Sajdah 28 ...), bahkan ada penegasan bahwa Dia 
tak akan pernah merubah apa2 yg sdh Dia tentukan itu. 


salam,
Fahru


________________________________
From: Tejosuroso <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Sunday, December 7, 2008 4:49:15 PM
Subject: Re: [is-lam] Jabariyah & Qadariyah --c9|

 
Kata Kang Fahru:
 
1.
amanah memang tidak ditodongkan, tapi ditawarkan (al-Ahzab:72) 
dan itu sdh ditetapkanNya bhw yg mewarisi amanat itu adlh manusia. 
penetapan
itu sdh masuk blue print sblm penciptaan manusia itu sendiri. 
 
------------------
Lhaiya, Kang. Kenapa kok masih mas’ul??? Kalau memang SPK-nya
sudah dibagi-bagi??? 
Mas’uliyah itu kan, kata saya tadi, konotasinya lebih ke konsekuensi.
Resiko atas pilihan-pilihan...



2. gagal atw berhasilnya dlm suatu urusan itu term menurut pandangan 
manusia. taqdir tidak peduli itu melainkan apapun yg sdh nyata terjadi & 
dilakoni manusia itulah yg terbaik, bukan hal buruk & bukan hal yg sia2. 

----------------
Kenapa Gusti Allah, amitsewu ini...., sampeyan gambarkan seperti
raja diktator begitu???
 
 
ambil
selintas peristiwa 'buruk' dlm sejarah manusia, mulai dari Hiroshima 
& Nagasaki hingga .. bom Mumbai yg baru saja terjadi. bencana, menurut 
Islam itu tidak ada yg buruk. apa yg mesti terjadi itulah yg terbaik sekalipun 
menimpa org2 mu'min.
-------------------
Ngambil contohnya seperti peristiwa al-Muaisim, Mina. Itu pan sodara
mukmin kita semua??? Dari sudut sensus kependudukan saja kita sudah kalah
banyak lagi sama yang bukan mukmin. Belum lagi dari sudut ekonomi, pukulan
telak akan sangat terasa bagi keluarga yang ditinggalkan (kebanyakan calhaj
kita adalah para penopang ekonomi keluarganya). 



 
a'udzubillahi
min asyiathaanirajiim,

Sesungguhnya dalam penciptaan langit langit dan bumi, dan silih bergantinya
malam dan siang 
terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang
mengingat Allah 
sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan
tentang penciptaan 
langit dan bumi (seraya berkata):"Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau
menciptakan ini dengan sia-sia 
Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. Ya Tuhan kami,
sesungguhnya 
barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau
hinakan ia, dan 
tidak ada
bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun. Ya Tuhan kami, sesungguhnya
kami 
mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu):"Berimanlah kamu
kepada Tuhanmu"; 
maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan
hapuskanlah dari 
kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang
berbakti. 
Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan
perantaraan 
rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat.
Sesungguhnya Engkau tidak 
menyalahi janji". (Ali 'Imran:190-194)
-------------------------
“Innaka laa Tuhliful Mii’aad” dalam ayat ini kan
mengharap janji-janji balasan. Balasan baik menjadi stimulan agar kita terus
berbuat baik dan balasan buruk menjadi ancaman agar kita menjauh dari maksiat. 
Stimulan
dan ancaman itu mestinya selalu tertuju pada obyek aktif lho.....



 
Nuwun;
Tejosuroso
 
p/s: whueii..... liyane do turu....???


      
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke