Saya ingin menambahkan,...

Mari kita ambil contoh berikut,
Siklus molekul air.
Air itu keluar dari hembusan nafas anda,
Kemudian ia menguap terbawa angin, entah kemana, kadang ia melekat di kulit 
pohon, kadang ia bergabung dengan partikel lainnya,
Pada ahirnya ia terangkat juga ke atas membentuk awan,
Hujan,..
Ia terserap tanah, dan terminum kembali kedalam tubuh anda,...
teruapkan kembali,..
dan begitu terus menerus,

Mari berandai-andai kata,..
Kita adalah air itu,.. bedanya siklus kita hanya 1 kali.
Terlahir, hidup, belajar, menjalani hidup dan mati dan ahirat....
Itu adalah rangkumannya, tetapi dalam detainya bisa bermacam-macam.
Satu contoh lagi,
ALLAH mentaktdirkan anda mati pada jam 12 malam ini.
Lantas anda diberitahui oleh malaikat maut 1 jam sebelumnya,.. dan ditawari : 
silahkan anda lari...
jika,..
Anda lari ke jalan, anda mati disana,
anda lari kamar, anda akan mati disana,
anda lari ke lapangan, anda kan mati disana,
anda lari kemanapun anda akan mati dimanapun anda berada.

atau anda memutuskan untuk pasrah dan berzikir sehingga anda mati dalam keadaan 
berzikir. Pada ahirnya anda tetap akan mati pada jam 12 malam.
Semuanya sama,... MATI pada jam 12 malam.

Jika pada kenyataannya kemudian anda memilih mati sambil berzikir. Anda telah 
memilih jalan kematian dengan baik.

Padahal ALLAH mengutus Malaikat tadi hanya untuk memeberikan ujian saja, mana 
yang akan anda pilih,
Padahal apapun pilihan anda, itulah pilihan ALLAH untuk anda,..
Lantas apa perbedannya dengan anda memutuskan sendiri atau ALLAH yang 
memutuskannya.
Jika anda yang memutuskan maka anda melakukannya dengan sengaja dan terencana.
Jika ALLAH yang memutuskannya, maka, anda melakukannya dengan spontan dan 
alamiah tampa tahu akan berahir bagaimana tampa sadar.

Tetapi keduanya adalah sama-sama terjadi.
Begitulah kesimpulan saya dari diskusi ini.
Nah, pasti teman2 semua bisa menarik kesimpulan sendiri-sendiri.
Jadi 

sukron
SH
Nah, pasti teman2 semua bisa menarik kesimpulan sendiri-sendiri.
Jadi 
  ----- Original Message ----- 
  From: AFR 
  To: [email protected] 
  Sent: Monday, December 08, 2008 9:09 PM
  Subject: Re: [is-lam] Jabariyah & Qadariyah --c10| ext


  tambahan sedikit,
  mengkaji masalah taqdir yg sdh tertulis ini, jgn melihat goresan taqdir diri 
itu hanya sepihak 
  seputar rencana 'pro-aktif' diri sendiri. kita hidup di alam ini mustahil 
akan selalu berencana 
  lalu berkonsekuensi gagal/berhasil. pasti ada yg tak terduga, yg juga jadi 
bencana/karunia.
  saya kira itu yg terlupakan shg membuat kajian ini spt berputar-putar saja.

  digagalkanNya rencana jahat kaum dhalim/bencana thd diri pun bagian taqdir. 
hanya 
  kadang/sering manusia itu sisihkan kalau keselamatan dirinya itu bagian dr 
tulisan Allah SWT. 
  malah mem-pahlawan-kan 'perantara'-Nya scr berlebihan.

  'untung ada hansip yg patroli, kalo tidak pasti habis rumah fulan dilalap si 
merah ... " 

  kalau org mengerti taqdir, insya Allah kalimat spontanitasnya yg keluar adlh 
syukur pd 
  Allah SWT karena masih dilindungi. 

  demikian halnya dgn karunia, sbgian/byk org khawatirkan bayi hidup dari 
kalangan miskin, 
  akan kekurangan gizi, pdhl masa bayi itu sangat penting utk pertumbuhan 
menurut ahli gizi, 
  ahli nutrisi, kesehatan ... mungkin demikian yakinnya penelitian itu, lupalah 
pd ketentuan taqdir.

  andai setiap pandangan manusia dipresumsikan selalu benar, tidak ada 
ketetapan taqdir, 
  tentu semua kaum masakiin pasti binasa menurut logika manusia dgn presumsi 
itu. boleh jadi
  pengetahuan kesehatan itu sampai pd mereka, tapi mau ikuti saran ahli gizi 
tapi gak punya 
  duit. ternyata byk juga bocah2 yg encer otaknya dr kalangan menengah kebawah. 

  maha Suci Allah, 
  yg maha tinggi lagi maha bijaksana.



  salam,
  Fahru


------------------------------------------------------------------------------
  From: AFR <[EMAIL PROTECTED]>
  To: [email protected]
  Sent: Sunday, December 7, 2008 11:20:50 PM
  Subject: Re: [is-lam] Jabariyah & Qadariyah --c10|


  1. ya begitulah unique sifat Allah SWT, tak ada yg menyamaiNya. apa-apa 
  yg akan dilakukan manusia dgn berbagai pertimbangannya, melalui pilihan2 
  yg ada + resikonya, seolah-olah pemilihan itu pilihan manusia, setiap 
perbuatan 
  seolah dirinya yg berbuat, kebebasannya seolah bagai tak berhamba ... dstnya

  mungkin teramat halus itu utk dipahami ... begitulah Allah SWT. seolah ada 
pesan 
  'membebaskan tapi mengikat, mengikat tapi membebaskan'.

  a'udzubillahimin syathaani rajiim,

  Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah 
  yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, 
  tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan 
mereka) 
  dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mu'min, dengan kemenangan 
  yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Pendengar lagi Maha Mengetahui. 
(al-Anfaal:17)


  2. Dzalika Allahu Malikul Quddus Salaamul Mu'minuul Muhayminul Aziizul 
Jabbarul 
  Mutakabbir. Subahanallahu ammaa yusrikuun ... Dia memag maha raja yg punya 
  kewenangan tak terbatas. apa yg sdh Dia tuliskan adlh janjiNya, sunatullah 
adlh 
  janjiNya, setiap firmanNya adlh juga janjiNya. tak ada yang berubah ttg itu. 

  konotasi kata diktator itu boleh buruk buat manusia, tapi kalo disandang pd 
yg 
  Maha Pemurah, maha Penyayang, maha Pengampun ... 


  Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana 
  tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat 
  sebuah kitab yang dijumpainya terbuka. (al-Israa':13)

  Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya 
kamu 
  ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil. (al-Anfaal:68)

  Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih. Kalau 
tidaklah 
  karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulu, pastilah telah 
diberi 
  keputusan di antara mereka, tentang apa yang mereka perselisihkan itu. 
(Yunus:19)
  ...

  ayat2 serupa yg menyiratkan bhw sdh ada ketetapan sblm semua itu byk sekali 
  (Huud 110, Thaahaa 129, As-Sajdah 28 ...), bahkan ada penegasan bahwa Dia 
  tak akan pernah merubah apa2 yg sdh Dia tentukan itu. 


  salam,
  Fahru


------------------------------------------------------------------------------
  From: Tejosuroso <[EMAIL PROTECTED]>
  To: [email protected]
  Sent: Sunday, December 7, 2008 4:49:15 PM
  Subject: Re: [is-lam] Jabariyah & Qadariyah --c9|


  Kata Kang Fahru:



  1. amanah memang tidak ditodongkan, tapi ditawarkan (al-Ahzab:72) 
  dan itu sdh ditetapkanNya bhw yg mewarisi amanat itu adlh manusia. 
  penetapan itu sdh masuk blue print sblm penciptaan manusia itu sendiri. 



  ------------------
  Lhaiya, Kang. Kenapa kok masih mas’ul??? Kalau memang SPK-nya sudah 
dibagi-bagi??? 

  Mas’uliyah itu kan, kata saya tadi, konotasinya lebih ke konsekuensi. Resiko 
atas pilihan-pilihan...






  2. gagal atw berhasilnya dlm suatu urusan itu term menurut pandangan 
  manusia. taqdir tidak peduli itu melainkan apapun yg sdh nyata terjadi & 
  dilakoni manusia itulah yg terbaik, bukan hal buruk & bukan hal yg sia2. 

  ----------------

  Kenapa Gusti Allah, amitsewu ini...., sampeyan gambarkan seperti raja 
diktator begitu???





  ambil selintas peristiwa 'buruk' dlm sejarah manusia, mulai dari Hiroshima 
  & Nagasaki hingga .. bom Mumbai yg baru saja terjadi. bencana, menurut 
  Islam itu tidak ada yg buruk. apa yg mesti terjadi itulah yg terbaik 
sekalipun 
  menimpa org2 mu'min.

  -------------------

  Ngambil contohnya seperti peristiwa al-Muaisim, Mina. Itu pan sodara mukmin 
kita semua??? Dari sudut sensus kependudukan saja kita sudah kalah banyak lagi 
sama yang bukan mukmin. Belum lagi dari sudut ekonomi, pukulan telak akan 
sangat terasa bagi keluarga yang ditinggalkan (kebanyakan calhaj kita adalah 
para penopang ekonomi keluarganya). 






  a'udzubillahi min asyiathaanirajiim,

  Sesungguhnya dalam penciptaan langit langit dan bumi, dan silih bergantinya 
malam dan siang 
  terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang 
mengingat Allah 
  sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan 
tentang penciptaan 
  langit dan bumi (seraya berkata):"Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan 
ini dengan sia-sia 
  Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. Ya Tuhan kami, 
sesungguhnya 
  barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau 
hinakan ia, dan 
  tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun. Ya Tuhan kami, 
sesungguhnya kami 
  mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu):"Berimanlah kamu kepada 
Tuhanmu"; 
  maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan 
hapuskanlah dari 
  kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang 
berbakti. 
  Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan 
perantaraan 
  rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. 
Sesungguhnya Engkau tidak 
  menyalahi janji". (Ali 'Imran:190-194)
  -------------------------
  “Innaka laa Tuhliful Mii’aad” dalam ayat ini kan mengharap janji-janji 
balasan. Balasan baik menjadi stimulan agar kita terus berbuat baik dan balasan 
buruk menjadi ancaman agar kita menjauh dari maksiat. Stimulan dan ancaman itu 
mestinya selalu tertuju pada obyek aktif lho.....






  Nuwun;

  Tejosuroso



  p/s: whueii..... liyane do turu....???









------------------------------------------------------------------------------


  _______________________________________________
  Is-lam mailing list
  [email protected]
  http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke