Tberft{
font-family:Verdana;font-size:77%;padding:15px 0;}
#ygrp-ft{
font-family:verdana;font-size:77%;border-top:1px solid #666;
padding:5px 0;
}
#ygrp-mlmsg #logo{
padding-bottom:10px;} #ygrp-reco {
margin-bottom:20px;padding:0px;}
#ygrp-reco #reco-head {
font-weight:bold;color:#ff7900;} #reco-grpname{
font-weight:bold;margin-top:10px;}
#reco-category{
font-size:77%;}
#reco-desc{
font-size:77%;} #ygrp-vital{
background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;padding:2px 0 8px 8px;}
#ygrp-vital #vithd{
font-size:77%;font-family:Verdana;font-weight:bold;color:#333;text-transform:uppercase;}
#ygrp-vital ul{
padding:0;margin:2px 0;}
#ygrp-vital ul li{
list-style-type:none;clear:both;border:1px solid #e0ecee;
}
#ygrp-vital ul li .ct{
font-weight:bold;color:#ff7900;float:right;width:2em;text-align:right;padding-right:.5em;}
#ygrp-vital ul li .cat{
font-weight:bold;}
#ygrp-vital a{
text-decoration:none;} #ygrp-vital a:hover{
text-decoration:underline;} #ygrp-sponsor #hd{
color:#999;font-size:77%;}
#ygrp-sponsor #ov{
padding:6px 13px;background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;}
#ygrp-sponsor #ov ul{
padding:0Tabe0 0 8px;margin:0;}
#ygrp-sponsor #ov li{
list-style-type:square;padding:6px 0;font-size:77%;}
#ygrp-sponsor #ov li a{
text-decoration:none;font-size:130%;}
#ygrp-sponsor #nc{
background-color:#eee;margin-bottom:20px;padding:0 8px;}
#ygrp-sponsor .ad{
padding:8px 0;}
#ygrp-sponsor .ad #hd1{
font-family:Arial;font-weight:bold;color:#628c2a;font-size:100%;line-height:122%;}
#ygrp-sponsor .ad a{
text-decoration:none;}
#ygrp-sponsor .ad a:hover{
text-decoration:underline;}
#ygrp-sponsor .ad p{
margin:0;}
o{font-size:0;}
..MsoNormal{
margin:0 0 0 0;}
#ygrp-text tt{
font-size:120%;}
blockquote{margin:0 0 0 4px;}
..replbq{margin:4;}
-
Tabe Pun Sampurasun,


Topik enggal nu ku pribados hoyong ditaroskeun deui :
1. Aya sawatara pamendak, dina kaitan sareng aya dua kondisi masyarakat agraris 
anu sifat tatanena nomaden atanapi ladang berpindah sarng anu sedenter atanapi 
menetap. Pakait sareng hal anu nembe, aya rerencangan dosen antropologi 
nyaurkeun (duka hipotesa atanapi hasil riset) yen kapercayaan masyarakat Sunda 
khususna atanapi masyarakat di Indonesia anu menjadikan Dewi Sri sebagai Dewi 
yang "dikultuskan" atau disakralkan, adalah hanya ada atau berawal dari 
masyarakat agraris yang sudah menetap. dasar alasannya adalah bahwa kalau 
masyarakat agraris mah karena mereka sudah bertani menetap, maka kesuburan 
tanah tentunya hanya ditentukan oleh kemampuan manusia dalam mengelola atau 
mengolah alam dan cenderung akan "aus" zat-zat hara kalau tidak dikelola dengan 
baik. maka dari itu untuk menjaga agar kesuburan tanahnya juga tetap, maka 
selain mereka berusaha mengelola tanah atau lahan garapan (sawahnya) tersebut, 
maka mereka juga (kaum petani sedenter) meminta
 pertolongan "Dewi Sri" sebagai Dewi Kesuburan agar memberikan kesuburan pada 
lahan garapannya dan menghasilkan hasil bumi yang baik. berbeda halnya dengan 
masyakat petani nomaden atau ladang berpindah. mereka ketergantungan akan 
kesuburan tanah sudah "termenej" sedemikian rupa dengan pengetahuan akan 
tingkat "keausan unsur hara" di lahan garapannya. jadi "tidak mempercayai" atau 
tidak begitu "mengkultuskan" Dewi Sri" untuk kemudian memohon "berkah untuk 
kesuburan lahan garapannya". karena kesuburan alam sudah jelas diukur dengan 
pengalamannya dari ladang berpindah tersebut. misalnya dari satu tempat ke 
tempat lain secara silkus mereka berpindah selama masing-masing 5 (lima tahun). 
jadi logikanya, hanya alam di lahan garapan baru akan selalu subur untuk 
dijadikan lahan bercocok tanam, kemudian ketika kembali pada lahan garapan lama 
yang sudah ditinggalkan maka kondisi sudah subur kembali.  jadi  kesimpulannya 
: "Bahwa Kepercayaan masyarakat agraris
 petani terhadap Dewi Sri berawal dari lingkungan atau sistem kepercayaan 
masyarakat agraris petnai yang sedenter atu menetap atau bersawah". 
kalau demikian halnya---berarti kepercayaan masyarakat Sunda yang umumnya hirup 
ngahuma atau ladang berpindah yang percaya kepada Nyi Pwah Aci atau Dewi Sri 
itu berasal dari masyarakat Jawa yang mereka sudah lebih dulu mengenal 
pertanian bersawah atau menetap---
? : Manawi aya argumentasi anu tiasa nyanggah atanapi pamendak sanes secara 
argumentatif oge faktual kanggo menangapi pamendak di luhur. mung duka 
hipotesis atanapi hasil riset. mung samentawis secara argumentatif selintas 
tiasa kahartos. ari leres teuna mah tangtosna peryogi aya arguemntasi dan data 
pendukung anu valid.


sakitu heula,
tabe pun. cag
rampes

RKK



      

Kirim email ke