Keraton Kasepuhan Cirebon & Pluralisme Membaca artikel Pikiran Rakyat yang berjudul "Warga Jabar Intoleran, Apa Sebabnya?" (Pikiran Rakyat, 11 Januari 2011) mengingatkan penulis untuk mengajak kita semua mencoba melihat kepada kearifan leluhur kita dulu khususnya dalam hal "pluralisme". Salah satu bukti yang masih dapat kita kaji adalah melalui beragam artefak dan situs yang diwariskan kepada generasi sekarang.
Cirebon adalah salah satu kota di Jawa Barat yang masih menyimpan beragam artefak khususnya di Keraton Kasepuhan, di mana keraton tersebut sudah berusia ratusan tahun. Bahkan Keraton Kasepuhan merupakan cikal bakal perkembangan Islam di wilayah Jawa Barat. Beragam artefak yang terdapat di situ dapat memberikan inspirasi bagi masyarakat modern tentang pluralisme. Sejarah Kota Cirebon Jika dilihat dari sejarah kota Cirebon, istilah "Cirebon" berasal dari kata "Caruban" yang berarti madani atau campuran. Sesuai dengan artinya Kota Cirebon bertumbuh dengan beragam budaya yang berkembang di sana. Letak Cirebon di pesisir pantai utara Jawa menjadikan kota tersebut sebagai kota pelabuhan yang sangat maju pada abad XIV. Bahkan beberapa catatan sejarah memberikan keterangan tentang peranan Cirebon sebagai yang dilalui pelayaran "Jalur Sutra". Sebagai tempat persimpangan ataupun persinggahan kapal-kapal asing tentu memberikan pengaruh terhadap masyarakatnya. Selain sebagai jalur internasional, secara geografis Cirebon berada di antara Jawa Tengah dan Jawa Barat sehingga memungkinkan terciptanya suatu kebudayaan yang khas, di mana Cirebon berperan sebagai jembatan antara kebudayaan Jawa dan Sunda. Pengaruh-pengaruh tersebut memungkinkan terjadinya akulturasi budaya, baik budaya luar terhadap budaya setempat maupun sebaliknya. Akulturasi menghasilkan budaya baru di mana jika dibandingkan dengan budaya asalnya sudah mengalami perubahan. Hal ini menunjukkan keragaman budaya yang ada di Cirebon. Sebagai contoh yakni beragam bangunan yang berkembang di Cirebon seperti: keraton, kelenteng, masjid, dan beragam bangunan kuno lainnya memperlihatkan adanya akulturasi budaya tersebut. Keraton Kasepuhan Memasuki area keraton, mulai dari Sitihinggil hingga patilasan Sunan Gunung Jati (Keraton Pakungwati) berdiri tembok benteng dan gapura Bentar yang tersusun dari bahan batu bata. Susunan tembok bata ini mengingatkan pada bentuk-bentuk candi di Jawa Timur. Selain itu terdapat juga ornamen di gapura berupa relief dengan gambar banteng yang merupakan "candrasengkala" penanda tahun didirikannya bangunan tersebut sekitar 1451 M. Hal ini merupakan pengaruh arsitektur zaman pra-Islam atau klasik akhir khususnya zaman Kerajaan Majapahit. Termasuk juga di dalamnya bentuk-bentuk arsitektur bangsal di sekitar area Sitihinggil yang menggunakan konstruksi utama tiang kayu dan lantai batu bata. Dan terdapat juga lingga-yoni yang sangat kental dengan budaya Hindu. Sedangkan di Keraton Kasepuhan (keraton yang baru) bentuk arsitekturnya sangat berbeda, tetapi merupakan bentuk kesinambungan dari arsitektur keraton sebelumnya. Di mana diawali dari bentuk arsitektur zaman klasik akhir ke arsitektur zaman Islam dan diakhiri pengaruh arsitektur Eropa (arsitektur Indis). Pada keraton yang baru ini lebih tertutup dan gaya Eropa ataupun ekletik ikut memengaruhi pada bentuk arsitekturnya. Pada beberapa bagian dindingnya dihias dengan beragam keramik zaman Dinasti Ming yang divariasi dengan beberapa keramik buatan Eropa. Keramik-keramik buatan Cina umumnya berupa piring dengan gambar-gambar ciri khas budaya Cina, sedangkan keramik Eropa bergambar situasi pelayaran mereka dan kisah-kisah yang diambil dari Alkitab (Perjanjian Lama - Perjanjian Baru). Keberagaman budaya dapat dilihat juga pada koleksi Museum Keraton Kasepuhan, seperti pada kereta kencana Singa Barong. Kereta kerajaan yang sudah berusia ratusan tahun ini mempunyai hiasan berupa Paksi Naga Liman. Hiasan tersebut merupakan perpaduan dari tiga binatang yang berbeda. Paksi sendiri adalah garuda, kemudian ular naga, dan liman yakni binatang gajah. Tiga jenis binatang yang menyimbolkan dunia yang berbeda. Paksi melambangkan langit (dunia atas), sedangkan naga melambangkan air (dunia bawah). Sementara liman melambangkan bumi (dunia tengah). Jikalau dilihat dari mana asal binatang ini: paksi berasal dari Mesir, naga adalah Cina, dan liman dari India. Ketiga negara ini memang sangat erat hubungannya dengan Keraton Kasepuhan saat itu khususnya dalam perniagaan dan pertukaran budaya. Keraton Kasepuhan Cirebon merupakan salah satu bukti nyata bagaimana pluralisme tumbuh dan berkembang melalui suatu dialog budaya. Dan hal ini pun juga dialami di beberapa daerah lain di Indonesia. Dari dialog tersebut menghasilkan suatu kesatuan yang harmonis dan akan memperkaya perbendaharaan budaya setempat. Dan nantinya kekayaan budaya diharapkan menjadi kekuatan bangsa untuk menghadapi globalisasi yang semakin gencar saat ini. Masyarakat modern yang dibilang sudah beradab harusnya lebih toleran dengan perbedaan dan keragaman yang ada sekarang. Isu berbau SARA yang cepat sekali menyulut permusuhan hingga berkembang menjadi kerusuhan seharusnya dapat diredam. Namun jika belum, ada baiknya bercermin kepada sejarah, sehingga kita akan disadarkan bahwa para leluhur sudah memberikan teladan yang baik tentang perbedaan dan keberagaman. Agus Dody Purnomo, staf pengajar Sekolah Tinggi Desain Indonesia (STDI) Bandung. http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=172699
