Oh enya didieu aya nu miluan kongres basa sunda? Basa panganteurna sunda teu 
nya? Hehehehe....

Sent from my BlackBerry®
powered by | Ki  Runa Inawan™ |
Twitter: @runainawan Fb: Runa Inawan
www.lipi.go.id www.biologi.lipi.go.id

-----Original Message-----
From: MRachmat Rawyani <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Fri, 15 Jul 2011 04:02:16 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: Bls: [kisunda] Re: Kongres Bahasa Sunda IX

Jigana wae, kuring jeung kang JP, generasi "gagal ngigelan jaman"

mrachmatrawyani





________________________________
From: Jalak Pakuan <[email protected]>
To: "[email protected]" <[email protected]>
Sent: Fri, July 15, 2011 12:29:57 AM
Subject: Bls: [kisunda] Re: Kongres Bahasa Sunda IX

  
Jadi kenging teu mun ku abdi distempel "gagal ngigelan jaman?"

 
JP

Dari: MRachmat Rawyani <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Dikirim: Jumat, 15 Juli 2011 9:13
Judul: Re: [kisunda] Re: Kongres Bahasa Sunda IX
 
  
Asana teh baheula jaman kuring sakola SMP teu pati "mempersoalkan" kurikulum 
jeung metode pangajaran. Tapi babaturan jadi barisa ngomong basa sunda lancar. 
mrachmatrawyani 




From: Ki Hasan <[email protected]>
To: Ki Sunda <[email protected]>
Cc: Baraya Sunda <[email protected]>
Sent: Thu, July 14, 2011 3:24:19 PM
Subject: [kisunda] Re: Kongres Bahasa Sunda IX
  

 
  
Bahasa Sunda di Ujung Tanduk 
Ditulis oleh Arief Sujatmoko pada 2011-07-13 14:11:48 
 
Remaja di kota besar di Jawa Barat mulai meninggalkan bahasa Sunda sebagai 
bahasa sehari-hari. Hal ini dikarenakan kurikulum bahasa Sunda yang diajarkan 
di 
sekolah menekankan pada metode hafalan. Pernyataan tersebut diungkapkan oleh 
Rektor Universitas Padjadjaran Ganjar Kurnia dalam Kongres Basa Sunda IX di 
Bogor, selasa (12/7).

Kurikulum bahasa Sunda di sekolah-sekolah sekarang terkesan memberatkan siswa 
karena metode hafalan yang digunakan tidak membuat siswa menggunakannya dalam 
komunikasi sehari-hari. Selain itu, masuknya budaya luar juga menjadi salah 
satu 
faktor berkurangnya minat remaja untuk menggunakan bahasa daerah.

Ganjar menambahkan, dalam ranah sastra Sunda, dia tidak melihat adanya 
wajah-wajah baru. "Hadiah sastra diisi oleh wajah yang sama, belum ada 
regenerasi," ungkapnya. Selain itu, aksara Sunda yang juga sudah ditinggalkan.

Menurut Ganjar, ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk melestarikan bahasa 
daerah  tersebut, di antaranya adalah mengubah metode pengajaran bahasa Sunda. 


Sekarang, hanya pesantren yang mewajibkan anak muridnya berbahasa sunda dalam 
kegiatan sehari-hari. Ganjar mengatakan bahwa pesantren adalah benteng terakhir 
dalam pelestarian bahasa Sunda.
 
http://nationalgeographic.co.id/lihat/berita/1527/bahasa-sunda-di-ujung-tanduk

 

Kirim email ke