Sri Asdianwati, "Asa Disalingkuhan ku Salaki" 13 Jul 2011 Sri Asdianwati, "Asa Disalingkuhan ku Salaki
"MENGAJAR itu mengu pah jiwa." Itulah pernyataan yang disampaikan Sri Asdianwati (42). guru SD Re-gol 13 Garut seusai pleno Kongres Basa Sunda di Cipayung, Bogor. Sri adalah guru honorer SD sejak 1990 dan baru diangkat pada 2008 lalu. Pada kongres ini. Sri tercatat sebagai peserta yang pernyataannya sempat mencuri perhatian peserta kongres saat Ir. Ganjar Kurnia menyampaikan pendapat tentang tumpang tindihnya kurikulum pendidikan bahasa Sunda. "Pokok-na, abdi mah asa disa-lingkuhan ku salaki," ujarnya pilu menekan hati. Sri mengajar bahasa Sunda untuk murid SD. Cara mengajar Sri berbeda dengan guru lain pada umumnya. Ia mengajarkan bahasa Sunda melalui kawih dan dongeng. Dengan cara itu, anak-anak bukan hanya tertarik terhadap bahasa Sunda, tetapi juga dapat menyerap budi pekerti yang tertuang dalam kawih dan dongeng. "Jadi sanes pengaweruhna tapi kaparigelannana. Habab, pikeun abdi mah mengajar bahasa itu intinya komunikasi," ujar Sri dalam logat Sunda yang khas. Proses mengajar seperti ini, kata Sri, sangat disukai anak-anak. Bahkan ia pun enjoy karena bahasa Sunda tidak lagi menjadi bahasa yang sulit bagi anak-anak. Bahasa Sunda adalah bahasa yang menyenangkan dan dipiwanoh dalam kehidupan sehari-hari mereka. "Saya senang, anak-anak juga senang," katanya penuh bahagia. Namun apa dinyana, kreativitas Sri dalam mengajar ini ternyata "diruntuhkan" oleh tuntutan kurikulum yang kaku. Ia lebih senang mengevaluasi anak dengan cara dialog dan menangkap perubahan perilaku. Sebaliknya, kurikulum justru memaksa anak menjawab soal-soal. Parahnya, soal-soal itu sebagian besar justru tentang pangaweruh. "Di situlah saya merasa disalingkuhan ku salaki. Salat rasanya semua yang sudah saya sampaikan kepada anak-anak menjadi buntu karena anak-anak tidak bisa menjawab soal-soal itu dengan baik," ujar Sri. Menurutnya, materi pangaweruh bahasa itu bukan tidak penting, malah dapat memperkaya wawasan anak. Bukan saatnya anak-anak mendapatkan materi seperti itu. Akan tetapi, bagaimana anak-anak dapat menyimak, membaca, dan mau berbicara dengan berani tanpa merasa takut bersalah. "Tapi karena tuntutannya seperti itu, biasanya saya hanya ngupahan barudak bahwa suatu ketika mereka pun akan bisa mengerjakan soal-soal seperti itu," ujar Sri menahan sesalnya. Sri pernah meraih hadiah Hardja Pamekas Tahun 2008. Hadiah Hardja Pamekas diberikan kepada guru yang telahmendedikasikan dirinya dalam dunia pendidikan. (Eriyan-ti/"PR")*" http://bataviase.co.id/node/737562
