Jumat, 15 Juli 2011Bahasa Sunda Tergusur Bagi sebagian orang bahasa sunda sudah tidak akrab lagi karena tergantikan bahasa lainnya, khususnya bahasa Indonesia. *Bandung, Pelita* -- Perkembangan bahasa sunda kini berada dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan. Boleh juga dibilang *hirup teu*, *paeh teu hos (*mati enggan dan hidup pun tak mau). Betapa tidak, bahasa ini sudah banyak ditinggalkan, bagi sebagian orang bahasa sunda sudah tidak akrab lagi karena tergantikan bahasa lainnya, khususnya bahasa Indonesia.
Kondisi ini pun sebenarnya tidak terlalu salah, namun kekeliruan penempatannya telah menggusur peran bahasa sunda sebagai bahasa ibu. Demikian Walikota Bandung Dada Rosada ketika menjadi pembicara pada kongres basa sunda IX di Bogor, Selasa (12/07). "Kondisi ini cukup memprihatinkan, perlu pembinaan bahasa sunda secara revolusioner dalam arti serentak, massal dan berkelanjutan. Upaya tentu saja bukan untuk menumbuhkan semangat kedaerahan dalam makna yang sempit, tetapi justru menjadikan sebagai bagian dari identitas bangsa dalam kerangka NKRI," ujar Dada. Karena itu, tambah Dada, pengembangan bahasa sunda dan seni budaya daerah telah menjadi bagian dari tujuh agenda prioritas pembangunan Kota Bandung. Secara lebih khusus, pemeliharaan, pembinaan, dan pengembangan bahasa daerah merupakan realisasi dari amanah UU No. 24 tahun 2009, dan Perda Provinsi Jawa Barat No. 5 tahun 2003 tentang pemeliharaan bahasa, sastra dan aksara daerah. Terhadap tuntutan tersebut Pemkot Bandung telah menetapkan muatan lokal bahasa sunda di sekolah-sekolah, anjuran menggunakan bahasa sunda bagi aparat pemerintah setiap hari rabu, penyediaan lahan seluas 6 hektar di kawasan Ujungberung sebagai pusat pengembangan seni budya daerah, dan terakhir memfasilitasi deklarasi kandaga sunda. "Berbagai upaya ini pada hakekatnya adalah untuk meningkatkan pemahaman dan kemampuan masyarakat dalam menggunakan bahasa daerah," jelasnya. Dada juga berharap program-program pengembangan bahasa sunda ke depan lebih membumi, diawali dengan pemasangan papan-papan pengumuman, petunjuk arah, papan reklame, dan fasilitas komunikasi publik lainnya dengan bahasa sunda. "Selain meningkatkan keakraban masyarakat dengan bahasa sunda, upaya ini juga untuk menjamin kelestarian dan pewarisan nilai-nilai budya daerah bagi generasi selanjutnya," ujarnya. Namun Dada juga mengungkapkan upaya ini tidak semudah membalikan telapak tangan, karena terkait dengan perubahan sikap dan perilaku orang sunda sendiri yang biasanya membutuhkan waktu dan proses yang relatif panjang. "Kata kuncinya adalah komitmen disertai kemampuan menjaga konsistensi dan keberlanjutan program tersebut," pungkasnya. (id) Harian Pelita http://www.pelitaonline.com/read-nusantara/3520/bahasa-sunda-tergusur-/
