Baraya, Hadena mah keun wae elmu (sains) sina maju, sabab memang Gn Sadahurip teh rada "aheng", dina harti henteu gampang dijelakeun kitu wae salaku fenomena gn api purba atawa dome piroklastik. Salian ti eta, anu kabandungan ku kuring, IAGi sacara formal tacan ngumumkeun sikep atawa pamadeganana (naha bentukan alam atawa aya unsur man-made) boh pikeun Gn Sadahurip atawa Gn Padang. Lamun sabagean anggota IAGI atawa Pengda IAGI (khususna anu di Jabar) mungkin enya geus netepkeun statusna eta dua gunung.
Di handap ieu sababaraha postingan ti kang Danny (DHN, emailna: [email protected]) & p Awang (emailna: [email protected]) anu diposting ku aranjeunna ka milis IAGI dina thread ngeunaan Gn Sadahurip & Gn Padang. Duana aoge, henteu siga kuring, lain ahli geologi jore-jore. Duana peneliti kahot di bidang geologi. Tina eusining email aranjeunna (dibandingkeun jeung pamadegan sabalikna) katingal kumaha henteu sederhanana "tangtungan" Gn Sadahurip teh (catetan: si kuring tos kenging izin ti aranjeunn kanggo posting/fwd eta postingan aranjeunna ka ieu milist). Jadi, keun wae sina hirup diskusi ilmiahna, saha anu nyaho engke bakal tumuwuh elmu anyar anu ngajelaskeun fenomena Gunungapi Sadahurip - atawa - sabalikna, aya papangihan nu sejenna (si kuring moal waka nyebut piramid, bisi nyalahan). Oge, wacana ieu hade pikeun ngamasyaratkeun yen elmu teh mimitina diwangun ku pendapat2 anu berbeda, jadi kaasah: ------------------ #Kutipan ka hiji, tina email kang Danny, ngeunaan ajakan kang Danny ka IAGI supaya aya forum anu ngabahas hal eta (Kg Danny cs mempresentasikan hasil2 penemuannya di eta forum): Selamat pagi, Benar, tentu sukar kalau diskusi hanya berdasarkan "tebak-tebak buah manggis", termasuk argumen bahwa volcanic stratigrafi itu sangat kompleks, jadi apapun hasil interpretasi data geologi-geofisikanya divonis pasti salah kecuali fenomena yang sudah dikenal seperti lava dome, cinder cone, dsb. Di bangku kuliah geologi kita memang tidak pernah diajarkan untuk menginterpretasikan bentukan non-geologi. Data, processing dan interpretasi dari masing-masing pendapat harus dipresentasikan dalam seminar sehingga jelas apa tebak-tebakannya. Silahkan IAGI memprakarsai ini. Hampir tidak ada Data yang bisa mengatakan satu kebenaran (ilmiah). Yang ada adalah pemodelan dari data. Sebaik apa modelnya tergantung dari seberapa baik "constraint data"-nya juga penjelasan interpretasinya. Selebihnya, orang bisa berdoa menurut agama dan keyakinan masing-masing :-) Salam ------------- Kutipan ka-2 tina email kng Danny, nuduhkeun kasangtukang teori perluna perburuan tinggalan purba di Indonesia: # Riset Oppenheimer (berdasarkan genetika-DNA dan artefak) menunjukkan bahwa Nusantara sudah menjadi pusat peradaban sebelum 10.000 tahun lalu. Jadi Teori yang mengatakan peradaban Nusantara berkembang karena imigran dari utara ("out of Taiwan") menjadi SALAH. Saat ini teori Oppenheimer belum didukung oleh bukti2 kebudayaan dan arkeologi (sejarah) Indonesia yang memang baru bisa menembus sampai 400 M saja (i.e. Kutei dan Tarumanagara), itupun datanya masih compang-camping! Bukti peradaban purba yang tinggi di wilayah Asia, seperti Mesir (pyramid) atau Lembah Harapa (India) berumur tidak lebih tua dari 3000 SM. Artinya ribuan tahun setelah kejadian Katastropik-Banjir Besar Terakhir di Nusantara sekitar 6000 SM. Nah apakah KETIADAAN BUKTI peradaban pra-sejarah di Indonesia ini mau kita simpulkan sebagai TIDAK ADA atau karena "BARELY EXPLORED"? Go figure# --------------- Kutipan ka 3, tina email p Awang, ngeunaan kumaha elmu/sains diwangun jeung ngeunaan rupa2 model piramid sacara singkat: # Berpendapat bahwa di Indonesia ada piramida (seperti piramida2 di kompleks Giza di Mesir yang umurnya sekitar 2500 SM) memang suatu pendapat/ide yang terasa 'bizzare', 'wah', 'ide gila' sulit dinalar...maka wajar saja kalau dibilang 'it is possible but unlikely'. Tetapi sebentar dulu, kita sering berpikir dikurung oleh pengetahuan yang sudah baku, sehingga kalau ada pikiran di luar itu (katakanlah di luar mainstream) lalu kita mengatakannya mengada-ada. Saya pikir sejarah sains dicirikan oleh hal ini, ada orang2 yang berpikir di luar kemapanan, lalu ditolak habis2an oleh kemapanan, padahal di kemudian hari ternyata mereka justru yang benar. Dari heliosentris Brahe dan Copernicus, teori evolusi Darwin, relativitas Einstein, continental drift Wegener, dll saya pikir penuh idea 'bizzare' pada awalnya. Kasus Sadahurip dan Gunung Padang adalah kasus sejarah atau lebih tepat masa prasejarah. Pengetahuan kita tentang prasejarah sangatlah kurang karena jumlah artefak yang telah ditemukan jauh lebih sedikit daripada panjang masanya sendiri. Para geologist dalam hal ini lebih beruntung daripada para ahli arkeologi sebab singkapan batuan jauh lebih banyak daripada artefak atau fosil hominid. Nah, pengetahuan dengan bukti yang sangat sedikit ini jangan lantas menjadi pengukur pengetahuan kita masa kini maupun ke depan. Maksudnya, mengapa 'unlikely' ada piramida di Indonesia, bisa saja kita belum menemukannya sebab menemukan artefak itu lebih sering tak sengaja. Menemukan singkapan bisa kita analisis dan buktikan dengan rekonstruksi lapangan dll. Menemukan artefak, harus ada pemicunya dulu secara tak sengaja. Piramida di dunia tak hanya piramida2 Giza di Mesir, itu memang yang paling terkenal, sehingga pikiran kita selalu terkurung olehnya sebab publikasinya paling banyak. Di Mesir ada sekitar 170 piramida telah ditemukan, dengan berbagai bentuk dari berbagai dinasti Firaun. Salah satu bentuknya adalah step pyramid, yang sangat mirip 'punden berundak' di Indonesia, dan justru model ini yang paling mendunia, ada di banyak negara, bukan model 'square pyramid' ala piramida2 Giza. Punden berundak adalah salah satu tradisi megalitik Indonesia yang terkenal, ditemukan di banyak tempat di Indonesia. Secara geometris, ini adalah step pyramid. Gunung Padang dan Borobudur dibangun dengan sistem punden berundak, step pyramid. Geometri piramid, mengerucut, menyempit ke atas, bukan barang aneh bagi tradisi kebudayaan prasejarah-sejarah Indonesia. Pengundakan sawah dan ladang (terasering), penyucian gunung sebagai tempat kediaman Sang Mahakuasa (misalnya Di-Hyang/Dieng -tempat bersemayamnya Sang Mahakuasa) adalah tradisi sejarah/prasejarah Indonesia juga. Maka Gunung Padang dijadikan situs penyembahan Gunung Gede pada masanya, juga barangkali Sadahurip pernah dipakai untuk tempat penyembahan gunung2 di sekelilingnya (Sadakeling-Talagabodas-Galunggung-Karacak-Cikuray-Guntur), bisa2 saja. -------------- Kutipan ka 4 ti p Awang, ngeunaan "kaahengan" Gn Sadahurip salaku gunungapi purba: # ‘Angle of repose’ Sadahurip kurang memenuhi syarat disebut sebagai cinder cone. Bila cinder cone ini dulunya dibangun oleh coarse scree, maka typical range of repose-nya akan 32-36 deg, setelah terkonsolidasi akan melandai sekitar 25-30 deg. Kenyataannya Sadahurip kini lerengnya di antara 30-40 deg di sekelilingnya walaupun lereng yang dilihat dari Kampung Cicapar lebih landai dari 30 deg. Tentu banyak faktor yang akan menentukan sudut ini: particle size, angularity, interlocking antarpartikel dan tekanan antarpori. Bentuk yang kelihatan dari permukaan pun bisa mengelabui kita karena berbagai faktor post-pembentukan misalnya erosi atau pemanfaatan lahan oleh manusia, bisa mengubah sudut kemiringannya. Maka bila ada yang mau melihat ke dalam struktur di bawahnya, dengan berbagai metode, tak ada salahnya, dan kita diskusikan hasilnya sebab terbentuknya cinder cone banyak syarat mekanikanya, maklum benda jatuhan (pyroclastic fall), sehingga pada sudut maksimum berapa suatu unconsolidated sediment bisa bertahan tanpa jatuh/menggelundung lagi (angle of repose) ke bawahnya menjadi penting. Man-made structure atau natural-structure by pyroclastic fall akan mempunyai angle of repose yang berbeda. Sebagai informasi, pembangunan piramida kompleks Giza di Mesir untuk balok2 utamanya tak mempertimbangkan angle of repose, sebab piramida2 ini dibangun semula sebagai stepped pyramids menggunakan jutaan balok batugamping, kemudian ditutupi luarnya agar halus membentuk bidang miring, tak terlihat lagi undakannya oleh casing material buatan. Dan bidang miringnya membentuk ‘angle of repose’ sekitar 40. Membuat bidang miring menjadi berundak-undak adalah kebiasaan para petani kita dari zaman dahulu. Imhotep, arsitek piramida2 Giza di Mesir sekitar 2600-2500 SM, membuatnya terbalik. Menyusun undak-undaknya dulu lalu menutupinya dengan material casing yang akhirnya membentuk bidang miring. Barang siapa yang mempelajari evolusi piramida di Mesir, akan tahu bahwa piramida2 bidang miring di Giza berasal dari model piramida ‘punden berundak’ yang lebih tua, 2600 SM,dari bangunan kuburan bernama ‘mastaba’ yang semula dua tingkat, tiga tingkat,empat tingkat, terus…, akhirnya di-casing menjadi bidang miring. Gunung Padang adalah punden berundak terbesar di Asia Tenggara, tetapi ia mungkin bukan kuburan, melainkan semacam kuil alam untuk menyembah Gunung Gede, tetapi tunggulah penelitian yang sedang terjadi dengannya, kita kan baru tahu permukaannya, dan sekarang mulai masuk ke dalamnya. Salam, Awang# --------- Wilujeng ngilo. Iraha atuh warga milist jalan2 ka Gn Sadahurip atawa ka Gn Padang? manar 2012/2/15 Sp Saprudin <[email protected]> > ** > > > heuheuy deudeuh eta Pak Rachmat bisa wae........he..he.he... > Kuring sapakat kana pamadegan para Ahli Geologi sakumaha anu dikecapkeun > Pak Rachmat, yen henteu aya Piramida Sadahurip di Garut jeung di Gunung > Padang Cianjur. > Kajian dari sudut pandang Geologi, yen Sadahurip asalna ti magma anu > kadorong kaluar ti jero beuteung bumi. Proses dorongan magma lumangsung > salila puluhan taun. Magma kaluar ti hiji titik tuluy ngabuncrat kasagala > arah. Dorongan magma lila jeung lila ngaluhuran ti poe ka poe anu ahirna > mucunghul saperti gunung model Sadahurip kiwari. > Eta Staf Kapresidenan R.I. meureun Ahli Arkeologi nyah, anu sakadar nempo > fisikna wungkul, abong jiga Piramida tuluy we mere kasimpulan anu > pikaahengeun, > Ditilik dina jero Elmu Vulkanologi, nyutat teori Arhtur Holmes yen > Sadahurup kaasup tipe 4 nyaeta cumulo dome, tipe ieu ngarupakeun struktur > gunung api anu diwangun ku aliran lava anu henteu nyisakeun sesa kuba anu > ngajadi sorangan tina celah lava. > > Sok lah aya sensasi naon deui pikeun ngalihkeun perhatian masyarakat > terhadap isu yang berkembang kiwari ieu!! Dasar politisi ari hitut sok > sambarangan wae.....he..he..he.. > > *Dari:* "[email protected]" <[email protected]> > *Kepada:* "[email protected]" <[email protected]> > *Dikirim:* Rabu, 15 Februari 2012 9:21 > > *Judul:* Re: Bls: [kisunda] Gunung Padang Ceuk Ahli Arkeologi > > > Ikatan ahli geologi ceuk warta jalan di salah sahiji televisi tos > mupakat, teu aya piramid di gunung sadahurip sareng gunung padang. > > Susahna di urang teh sagala kajadian sok "digeolkeun" jadi komoditas > pulitik. Naha ku para sabagean elmuwan atawa ku para wartawan.mendingan > ningali geol Inul tibatan ngabandungan "geolan" para pulitikus. > > Mrachmatrawyani > Powered by Telkomsel BlackBerry® > *From: * oman abdurahman <[email protected]> > *Sender: * [email protected] > *Date: *Wed, 15 Feb 2012 06:33:09 +0700 > *To: *<[email protected]> > *ReplyTo: * [email protected] > *Cc: *urang sunda<[email protected]> > *Subject: *Re: Bls: [kisunda] Gunung Padang Ceuk Ahli Arkeologi > > > Samemeh Karawang, urang teruskeun heula diskusi atawa debat "piramid" Gn. > Sadahurip & Gn Padang. Di handap ieu sababaraha alesan ti pihak anu nolak > hipotesa piramid, kenging nyutat tina FB.. Masuk akal oge pedaranana. > Nyanggakeun: > > Ma'rufin Sudibyo <http://www.facebook.com/profile.php?id=1363776334> > > Btw, kesimpulan tim BKP msh belum bulat koq. Ada bbrp pertanyaan blm > terpecahkan. Misalnya, rongga itu apa betul2 man made atau justru hny sisa > lava tube, yg byk dijumpai di gunung2 berapi. > > Juga ketiadaan kawah/leher intrusi. Dalam klasifikasi gunung berapi > purba, tdk harus ada sisa kawah/jejak leher intrusi. Misalnya di bukit > Watuadeg (Bantul), bukit kerucut mirip piramid di alur K.Opak. Tak ada > jejak kawah, batu2ny jg sdg lapuk. Tp ada jejak2 aliran lava di aliran > K.Opak, yg memusat ke bukit ini. Juga di pantai Wediombo. Jejak kawahnya > nggak ada, hny ada timbunan bekuan lava di bukit Batur. Tp itu gunung api > purba. > > Pertanyaan besar lainnya spti diulas pak Lutfi Yondri berkali-kali. Dg > gunung demikian besar, maka jika bener2 piramid, itu jelas megaproyek > prasejarah. Lantas dimana jejak2 pengerjaannya? Sisa2 materialnya? Sebab di > Borobudur saja, yg "baru" dikerjakan 12 abad silam itu, jejak-jejak > tersebut dijumpai dimana-mana di sekitar kaki candi. > > Sebaliknya, setiap bentukan di muka bumi harus dianggap sebagai bentukan > alami, sampai muncul bukti-bukti kuat (& komprehensif) utk menyatakannya > buatan manusia. > > Dalam kasus Sadahurip, adakah bukti2 kuat itu? Adakah juga bukti2 > komprehensif itu? Okelah, ada data geolistrik. Namun ini diragukan juga > oleh vulkanolog (bukan arkeolog lho), sebab geolistrik tak tepat > diaplikasikan ke tubuh magma. Deviasinya besar. Okelah, ada juga cekungan > Rahong, yg kata pak Awang mengesankan man-made karena material rombakannya > g nampak. Namun, apakah itu sdh proven? Jika belum apa2 sdh dianggap batu2 > Sadahurip diambil dari cekungan Rahong, ini namanya mengambil asumsi di > atas asumsi (ini kata2 pak Danny tempo dulu lho). > > Belum lagi bagaimana menjawab skeptisme dari sisi astronomi. Masak dengan > bangunan sebesar itu, seukuran itu, arahnya hadapnya serampangan? Tidak > menghadap ke satu titik istimewa pun? Sementara Borobudur saja, yg jauh > lebih "muda" & lbh kecil ketimbang Sadahurip dibuat dg demikian presisi ke > mata2angin utama sbg bagian konstelasi religius masyarakat di zamannya. > Dengan arah hadap sembarangan itu, Sadahurip dibuat untuk apa? Menyembah > langit juga nggak menyembah gunung juga sulit. > > Demikian juga Gunung Padang. Okelah ada geolistrik & data bor. > Pertanyaannya utk geolistriknya sama. Utk data bor-nya, sudahkah > dieliminasi kemungkinan2 lain ttg potensi rongga dalam tanah? Yg klo di > kawasan vulkanik berupa tabung lava/lava tube? Apalagi data bor bilang, > sebelum bor kejepit, ia menembus semacam dinding andesit. Mirip2 lava tube > khan (ruang kosong memanjang mirip gua dg dinding bekuan lava)? > > Pun dari sisi astronominya. Sdh diukur klo gunung Padang bentuknya nggak > simetris, lebih dominan arah hadap ke gunung Gede. Masalahnya knp dibuat g > simetris? Klo pembuat gunung Padang (seperti asumsi tim BKP) bs memotong > ujung gunung smp rata & membuat secret chamber didalamnya, apa susahnya sih > membentuk sisi2 gunung supaya simetris? Padahal Borobudur saja bs > mengkepras sedikit bukitny shgg saat ditumpuki batu2 bs membentuk struktur > simetris. > > Terlalu berlebihan klo pertanyaan2 spti ini lantas dianggap mengukuhkan > dogma. Skeptisisme adalah dasar bagi sains. Jika pertanyaan2 skeptis ini > trjawab, barulah hipotesa tim BKP bs diterima. Ini cara kerja umum bagi > saintis sedunia. > > Ada satu ungkapan dari Einstein (yg amat mengesankan bagi sy saat belajar > astrofisika hingga skrg), utk meruntuhkan teori lama dg teori baru yg lebih > luas skupnya, dibutuhkan bukti2 kuat yang luar biasa. Itulah yg membuat > einstein tetap menunggu hingga 1919 utk memastikan teorinya benar, tepatnya > setelah ada data pembelokan cahaya di sekitar Matahari, meski ia sudah > menuliskannya sejak 1905. > > Analog dg giant field? Bukankah setiap prospek selamanya hanya prospek > jika tidak di bor? Dan bukankah fakta empirik, hanya 10 % pemboran yg > menemukan hasilnya (ini kata2 pak Awang lho tempo dulu)? > > Muhammad Ryzki Wiryawan <http://www.facebook.com/sadnesssystem> Tetap > skeptis sampai ada bukti yang tidak terbantahkan,,, Untuk apa (misalnya) > masyarakat masa lalu merahasiakan pembangunan piramida sadahurip ? Takut > ditiru bangsa lain.. Kalau itu benar, tampaknya mereka gagal karena > konstruksi yang sama ditiru oleh bangsa mesir 4000 tahun kemudian,,, hahaha > > Sumber: > http://www.facebook.com/groups/165984686754470/362384343781169/?notif_t=group_activity > > Cag heula. > manar > > > 2012/2/14 Ki Hasan <[email protected]> > > ** > > Urang panjangkeun ngimpina, bari ngantosan hasil panalungtikan, nu duka > teuing terus ditalungtik atawa henteuna mah. Ari nu dikarawang kumaha > wartosna Kang Oman? > > > 2012/2/14 oman abdurahman <[email protected]> > > ** > > Sami kuring oge teu ngarti. Urang antosan wae kang engke hasil akhirna. > Ngan, ari teori dasarna (anu jadi kasangtukangna) mah aya (sanes teori ti > abdi, tapi teori ti anu ngalakukeun panalungtikanana) > > Oge hiji informasi anu perlu diinget yen model "piramid" teh lain ukur > model anu di Giza (anu tungtungna mengkerucut). Aya oge model piramid Machu > Picchu anu puncakna teh disopak (dipapas) anu disebut punden berundak, eta > oge kaasup model piramid. > > manar > > > > 2012/2/14 Sp Saprudin <[email protected]> > > ** > > Punten Kang Oman, ieu barita rada heboh, komo hal ieu ceunah hasil > temuan Staf Khusus Presiden Bidang Sosben - A. Arief. Kuring rada mikir > saeutik, aya komentar yen Piramida anu di Garut umurna leuwih kolot > dibanding Piramida Giza di Mesir. Ceuk pikiran kuring, situs-situs anu geus > kapanggih di nagara urang dumasar kana bukti ilmiah saperti wangunan > Candi-candi diwangun abad 7 M. Ceuk catatan sajarah mangsa Piramida Giza di > Mesir, kaayaan nagara urang masih mangsa prasejarah, naha bisa nyimpulkeun > yen bentuk wangunan Piramida di Garut leuwih kolot?. > Nuhun Kang, kuring ngantos barita salanjutna ngenaan Piramida di Garut, > mudah-mudahan hasil panaluntikan sacara ilmiah ieu mere informasi anu > akurat. > > > *Dari:* oman abdurahman <[email protected]> > *Kepada:* [email protected] > *Cc:* urang sunda <[email protected]> > *Dikirim:* Selasa, 14 Februari 2012 14:26 > *Judul:* Re: Bls: [kisunda] Gunung Padang Ceuk Ahli Arkeologi > > > Memang rada aheng. Tapi supaya rada saimbang informasina, coba diilikan > anu ayeuna keur rame dipadungdengkeun. Hasil panalungtikan anu anyara tiasa > dipariksa di dieu: > > > http://nasional.vivanews.com/news/read/286338-gunung-padang--wonders-dari-4-700-sm > > Naha Gunung Padang teh piramid? Can tangtu. Ngan, teu kudu rurusuhan > nolak, teu kudu gagancangan ngaenyakeun. Urang dagoan wae terus hasil > panalungtikanana. > > Salam, > Oman A. > > 2012/2/14 [email protected] <[email protected]> > > ** > > asa teu percaya aya piramida di Sunda. naha kitu aya turunan ti Firaun > Mesir? > > --- In [email protected], Sp Saprudin <udarider@...> wrote: > > > > Gunung Padang situs Megalitikum di Cianjur, pundan berundak nyaeta batu > anu ngarupakeun anak tangga ti handap sampe ka luhur. Mun ningali > situs-situs anu tos kapendak ku para ahli, situs Gunung Padang pastina > henteu jauh jeung urut tempat Istana Raja atawa tempat-tempat ibadah. Tapi > wallahu alam bentuk wangunan naha jiga piramida. Mun ningali pagunungan > lain di nusantara, model pagunungan anu nyarupaan bentuk piramida oge > seueur, naha eta oge jieunan leungeun manusa. Ieu meureun bacaeun pikeun > manusa anu ahli dina widangna pikeun ngagunakeun utekna dina raraga > ngembangkeun elmu panganyahona. > > > Terus barita ngenaan pagunungan di Garut anu bentukna jiga piramida, mun > enya eta ahli arkeologi jeung geologi nyidikkeun yen eta hasil jieunan > leungeun manusa, kumaha jeung gunung tangkuban parahu anu jiga parahu oge > eta jieunan leungeun manusa? > > > > > > ________________________________ > > Dari: MRachmat Rawyani <mrachmatrawyani@...> > > > Kepada: urangsunda urangsunda <[email protected]> > > Cc: "[email protected]" <[email protected]> > > Dikirim: Selasa, 14 Februari 2012 11:33 > > Judul: [kisunda] Gunung Padang Ceuk Ahli Arkeologi > > > > > > > >  > > > > Waktos KIBS II kamari, aya sesi dimana Mang Hasan (ahli Arkeologi) > ngadadarkeun perkara Gunung Padang. Malihan mah harita oge aya wakil > arkeologi (?) ti Provinsi Jawa Barat, anu netelakeun, Gunung Padang > dirarancang jadi salah sahiji tempat wisata, ngaaktipkeun deui jalur kareta > api anu ngaliwatan torowongan...... > > Mang Hasan harita teh teu nyabit-nyabit eta gunung mangrupa hiji > piramid. Almarhum Mang Ayat oge dina buku memoarnya heunteu netelakeun aya > piramid. Tapi anu jelas mah tempat neangan jodo. > > > > Duka ahli dina widang naon, jol aya wae urang LIPI anu netelakeun Gunung > Padang teh di handapna aya wangunan piramida. Sok sanajan masih hiji > hipotesa anu perlu dibuktikeun, tapi upama maca di media, mani siga nu > yakin pisan aya piramid. Duka tah, naha para peneliti LIPI anu "ceroboh" > atawa media anu rek neangan sensasi, atawa aya pihak-pihak anu ngahaja > "mempolitisir" perkara ieu. > > > > mrachmatrawyani > > > > > > > > > > > > >
