Salah satu problematika kontemporer yang menghingapi umat ini adalah krisis Ilmu. Kita ketahui sendiri bahwa kejayaan suatu bangsa dapat diukur dari pesatnya perkembangan ilmu. Apalagi Allah telah berjanji akan meningkatkan derajat suatu kaum, selagi kaum tersebut bersedia meningkatkan kualitas imannya dan gemar menuntut ilmu. Menurut Ust. Mudhoffar, MA dalam Kajian Jumat pagi, setidaknya ada 7 faktor yang menyebabkan umat mengalami krisis ilmu. Pertama, Lemahnya ilmu syari yang notabene harus dipahami setiap orang secara aksiomatik. Sebab masih banyak dari umat ini yang tidak memahami syariat yang sifatnya masih dasar. Sedangkan kita ketahui bahwa syarat syah-nya ibadah, salah satunya adalah harus ada ilmunya. Kedua, Minimnya ulama yang bertugas memahamkan umat dengan ajaran Islam secara syumul. Memang di negeri kita banyak sekali yang namanya ulama mulai dari kyai khos sampai meminjam istilah Gus Dur- kyai kampung. Tapi pada hakekatnya, mereka belum memenuhi kualifikasi sebagai ulama yang seharusnya mempunyai rasa takut lebih kepada Allah dan membimbing umat ini agar selamat dunia-akhirat. Ketiga, Umat mengalami kebingungan untuk mencari rujukan yang benar. Sebab banyak bermunculan ulama gadungan yang keberadaannya lebih dikarenakan pencitraan media/masyarakat. Keempat, lemahnya tradisi menghormati spesialisasi ilmu. Yang jelas jika kita belajar mengenai tafsir maka belajarlah kepada ahli tafsir. Jangan sampai belajar ilmu tanpa rujukan dan manhaj (jalur) dari orang-orang yang kafaah di bidangnya.. Sebab setiap orang mempunyai kompetensi masing-masing yang satu sama lainnya dapat melengkapi. Kelima, Ilmu yang kurang. Masalahnya bukanlah berapa banyak dalil yang kita ketahui atau dihafal untuk dasar setiap ilmu tetapi terletak pada pemahaman kita atas dalil tersebut. Sebab ilmu yang benar harus memenuhi 3 hal yaitu tahu dalil, tahu dalil itu seharusnya dipahami, dan tahu penerapan dalil tersebut. Fenomena perbedaan yang menimbulkan permusuhan di antara gerakan islam adalah dikarenakan tidak mampu memahami ilmu secara benar. Keenam, Monopli ilmu. Sebagai contoh penyimpangan yang terjadi dalam LDII adalah cara penyampaian ilmu harus melalui jalur dari orang-orang yang ada did lam jamaah tersebut. Sehingga disini ada monopoli ilmu yang notabene melarang orang selain kelompok tersebut untuk menyampaikan kebenaran. Hasil akhir dari cara-cara seperti ini adalah mengkafirkan orang lain yang ada tidak menjadi anggota jamaah tersebut. Ketujuh, hobi memvonis. Dalam dakwah, tugas seorang daI adalah menyampaikan petunjuk bukannya malah memvonis orang lain seperti haki. Sedikit-sedikit melemparkan tuduhan bidah, kafir, bara dan sebagainya. Nah, saatnya aktivis bangkit untuk menyelesaikan krisis ini dengan rajin menghadiri majelis ilmu dengan semangat tinggi.
Akhirnya sebanyak 44 Mahasiswa ITS (Ikhwan-akhwat) tercerahkan Kata moderator (Bang Wildan), sampai ketemu minggu depan di hari dan waktu yang sama Wassalam 16 Februari 2007 Santri Mahad UI ____________________________________________________________________________________ TV dinner still cooling? Check out "Tonight's Picks" on Yahoo! TV. http://tv.yahoo.com/
