Assalamu alaykum wr wb
Benar, sayang sekali begitu banyak muslim yg alergi dgn tasawuf. saya juga
penggemar berat Imam Ghazali, Mawlana Rumi & Syaikh Abdul Qodir Jailani.
Alhamdulillah kemudian bertemu Cucu Mawlana Rumi & Syaikh Abdul Qodir Jailani
yaitu Syaikh Nazim Adil al Haqqani, beliau berusia 85 th tinggal di cyprus.
Maka saya kemudian menari Rumi diajarkan oleh Syaikh Hisyam, Syaikh Nurjan
Michigan dan Steve utusan Syaikh Nazim di Turki.
Setelah mengenal Tasawuf melalui Guru rasanya sangat berbeda dgn melalui
buku2. Dan setelah mengenal salawat, burdah hdrah maka kemudian hati mulaio
bisa membedakan masjid yg penuh salawat dan yg kering. Sejak itu saya tidak ke
masjid PKS lagi, krn kering dengan salawat. Sangat berbeda salawat barzanji
diba simtud duror dengan nasyid. Ibarat setetes dari samudera salawat para
wali. Apalagi Dalaail Khoirot. Jadi betapa aneh kalau ada yg bilang barzanji
bida kemudian memilih nasyid,
wasalam, arief
Ulil Abshar-Abdalla <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Mas Arief,
Kekayaan besar Islam antara lain adalah tasawwuf.
Sedih sekali kekayaan ini dicaci-maki oleh banyak
kalangan Islam sendiri. Karena saya tumbuh di
lingkungan pesantren, tasawwuf menjadi bagian dari
diri saya yang tak pernah bisa saya tinggalkan. Saat
masih di pesantren dulu, saya mengalami "tasawwuf
amali", sekarang saya mengalami fase lain, yaitu
"tasawwuf fikri". Dua-duanya saling melengkapi.
Figur yang saya kagumi, antara lain, adalah Imam
Ghazali. Saya membaca berkali-kali "Misykat al-Anwar",
dan tak pernah bosan. Imam Ghazali mengupas konsep
"Cahaya Tuhan" dengan sangat memikat sekali. Tentu
ulasan seperti yang dilakukan oleh Imam Ghazali itu
tidak bisa dilakukan kecuali oleh orang yang telah
melalui "pengalaman mistik" yang mendalam.
Hingga sekarang ini, saya tak pernah berhenti
mengagumi dan menghayati Kitab al-Hikam yang nyaris
seperti sebuah puisi. Saya tak sempat mempelajari
kitab ini di pesantren dulu, karena dilarang oleh ayah
saya, sebab saya belum cukup umur. Konon, orang boleh
membaca kitab ini kalau sudah berumur 40 ke atas.
Sekarang saya membaca sendiri, meskipun saya
sebetulnya ingin mencari seorang "guru" kepada siapa
saya bisa mengkaji kitab ini. Tidak seperti dalam
ilmu-ilmu sekuler, "pengetahuan" dalam tradisi mistik
seharusnya diajarkan melalui seorang "mursyid". Memang
rasanya sungguh lain jika ajaran tasawwuf kita terima
dari mulut seorang guru yang sudah menempuh "suluk"
yang panjang dibanding jika kita hanya membaca buku
saja. Karena itu, saya bisa memahami ajaran yang
pernah saya terima di pesantren dulu, "man laisa lahu
syaikh fasyaikhuhu syaithan," siapa yang belajar tanpa
panduan seorang "master" atau guru maka syaitanlah
yang akan menjadi gurunya.
Tahun lalu, saya belajar tasawwuf sejumlah agama
besar: Kristen, Hindhu dan Budha. Dari pengalaman
mengambil kelas itulah saya kemudian menjadi tahu dan
menghayati sendiri bahwa belajar pengetahuan yang
masuk dalam kategori "irfan" atau "al-ilmu al-hudhuri"
itu akan lebih "cespleng" dan meresap ke dalam diri
kita jika melalui seorang syaikh, mursyid, profesor,
atau guru.
Selain Sykeh Hisyam Kabbani, saya mengagumi seorang
sarjana Muslim "tradisional" lain di Amerika (kata
"tradisional" di sini saya mengerti dalam pengertian
yang diberikan oleh Seyyed Hussein Nasr) kebetulan dia
adalah seorang muallaf. Namanya Ustaz Hamzah Yusuf.
Dia mendirikan sebuah lembaga di California, Zaitunah
Institute. Salah satu sumbangan penting Ustaz Hamzah
adalah mengenalkan tradisi membaca Burdah yang indah
itu di kalangan Muslim di Amerika. Dia telah
menerjemahkan puisi Burdah itu ke dalam bahasa
Inggris, dan memproduksi rekaman bacaan Burdah yang
dilakukan oleh sebuah kelompok mistik dari Maroko.
Saya menikmati benar pembacaan Burdah a la Maroko itu.
Ada aspek penting yang perlu saya gari-bawahi di sini:
saat saya mendengarkan lantunan Burdah a la Maroko
itu, ada "nuansa" musikal yang berbeda dengan saat
saya mendengarkan nasyid-nasyid yang lazim dikenal di
kalangan PKS. Saya pernah lama bergaul dengan
lingkungan semacam PKS itu, tetapi saya tak pernah
bisa mencintai nasyid mereka. Jiwa saya tak ada di
sana. Saya lebih mencintai Burdah dan Barzanji.
Perhatikan ritme bait Burdah yang sangat populer di
kampung-kampung ini:
Ya rabbi bil mustafa balligh maqasidana
Wa-ghfir lana ma mada ya wasi' al-karami
Huwa al-habib al-ladzi turja syafa'atuhu
Likulli haulin min al-ahwali muqtahimi
Masing-masing suku kata dalam bait itu mewakili ritme
"naik-turun", menggambarkan sebuah konsep sentral
dalam tradisi tasawwuf, yaitu "khauf dan raja'" (takut
dan berharap), qabd dan bast (mengkerut mengembang),
inqibad dan inbisat, dst. Ritme naik-turun ini yang
tak saya jumpai dalam nasyid-nasyid PKS. Suasana
nasyid umumnya tragis dan menyedihkan, seolah-olah
ingin meratapi terus-menerus kekalahan Islam.
Terakhir, menurut saya, pesantren sekarang ini kurang
menghargai tradisi tasawwuf secara memadai, baik
tasawwuf amali atau tasawwuf fikri. Setahu saya, tak
ada satu pesantren pun yang mengajarkan al-Risalah
al-Qusyairiyyah, misalnya. Kitab al-Hikam memang
diajarkan, tetapi tidak cukup luas. Tetapi kita masih
beruntung karena Ihya diajarkan secara luas sekali di
pesantren-pesantren NU. Saya masih berharap suatu
ketika ada seorang kiai yang mengajarkan Fusus
al-Hikam karya Ibn Arabi seperti para ayatullah di
Iran masih terus mengajarkan kitab ini hingga
sekarang. Akan lebih baik lagi jika suatu ketika ada
yang mengajarkan pula karya Al-Suhrawardi, "Hikmat
al-Isyraq" atau karya Mulla Sadra, "Iksir al-Arifin".
Akan lebih indah lagi kalalu suatu ketika puisi-puisi
Masnawi-nya Mawlana Jalaluddin Rumi diajarkan di
pesantren, dibarengi dengan tarian darwish yang
berasal dari tarekat Mawlawiyyah. Aduh, saya bisa
"mabuk" kalau sudah membaca karya-karya misik besar
ini. Ini adalah kekayaan yang dahsyat sekali. Saya
ingin arah pesantren ke depan adalah semacam itu:
menggali khazanah Islam yang begitu kaya, termasuk di
bidang tasawwuf.
Suatu saat, saya bermimpi mendirikan pesantren yang
bisa mengajarkan kekayaan mistik ini, kalau Allah
mengizinkan.
Ulil
--- arief dani <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Assalamu alaykum wr wb
> 786.
>
> Top sekali tulisan Shaykh Ulil ini, menggugah
> semangat. Benar saya juga bisa merasakan kegalauan
> ini. Bagaimana NU bisa membumi dan disenangi
> masyarakat. Bagaimana NU menjadi cerdas dan
> gerakannya bisa memasuki semua unversity seperti yg
> kita lihat dalam partai anak muda yg disenangi oleh
> mahasiswa saat ini. "Cerdas", Sopan, Tidak malas
> Menolong yg lagi kesusahan dan tidak malas berbuat
> untuk mengejar banyak anak muda, serta solid.
>
> bagi kalangan Nu atau kami di tariqah adalah
> bagaimana energi dzikir dan salawat yg telah
> dilakukan mewarnai kehidupan anak muda NU utk tidak
> malas, berani berjuang dan berkorban tanpa imbalan
> politik, kedudukan, uang dll. Bergerak seperti
> Jamaah Tabligh dari masjid ke masjid tanpa imbalan
> dan berpikir 'cerdas' seperti ikhwan PKS untuk
> menarik anak muda. Meskipun ke"cerdas"an ini masih
> saya berikan tanda kutip, karena bila mereka
> "cerdas" dalam arti sebenarnya mereka akan
> mengetahui mana yg Haqq dan Bathil dari sumbernya
> dengan mengikuti Wali Allah, bukan sekadar mengikuti
> 'siapa pemberi dananya". Minimal mereka cerdas dalam
> menarik simpati anak muda.
>
> Saya pernah berada di Jamaah Tabligh dan PKS untuk
> waktu yang cukup lama untuk mengamati dan berdakwah
> bersama mereka, sampai kemudian saya bertemu Wali
> Besar, Wali Qutb saat ini, Mawlana Syaikh Hisyam
> Kabbani ar-Rabbani, yang membuat saya sadar, kembali
> kpd amalan Ahlul Sunah wal Jamaah yg sesungguhnya
> dan bangga dengan amalan beliau yg seperti amalan
> NU, tetapi beliau tidak berpolitik dan sangat jujur
> dan terpercaya. Inilah yg tidak saya dapatkan
> dibanyak kyai NU yg terjun dalam politik. Politik
> dan Keimanan, bagaikan Keikhlasan dan Penipuan. (
> Kebetulan keluarga besar saya di Surabaya adalah
> keluarga NU, dan beberapa duduk di DPR ).
>
> Dan saat ini kami bergerak menerobos masjid2
> melalui jaringan jamaah Tabligh yang telah menjadi
> Naqqshbandi Haqqani kemudian mulailah salawat dan
> dzikir hidup di masjid tersebut. Sebenarnya senjata
> utamanya Salawat Nabi saw. Tetapi bahkan di masjid
> NU sendiri atau di masjid tradisional kita susah
> mengembangkan dzikir dan salawat, apalagi bila pakai
> rebana, marawis dan hadrah. Ada penolakan dari
> mereka terhadap tariqah sufi. atau bila sesama
> tariqah mereka tidak beri kesempatan tariqah lain
> dan bekerjasama.
>
> Kami sekarang banyak bergerak di jakarta bandung
> cikarang lampung medan solo surabaya jogja
> pekalongan kalimantan dan banyak kota lainnya
> dikalangan anak mudanya (lihat jaringan tersebut di
> www.mevlanasufi.blogspot.com dimana semua berkaitan
> kepada Syaikh Nazim dan Syaikh Hisyam. Inilah yg
> saya maksudkan peta Politik Sufi dan Kekalifahan
> Islam dimasa mendatang adalah bagaimana membuat diri
> kita terhubung pada Wali Allah.
>
> Pergerakan kami dapat melalui dzikir langsung dari
> Naqshbandi Haqqani maupun melalui jaringan Jamaah
> Tabligh maupun jaringan Pengamen Jalanan ( KPJ =
> Kelompok Pengamen Jalanan) diberbagai kota di
> Indonesia. Nah sekarang yang saya pikirkan
> bagaimana menyebarkan salawat ini melalui PKS (
> ha..3x ) padahal dahulunya Hasan al-Banna adalah
> Wali Sufi dan bertariqah, dan yg membuat mereka
> tidak "cerdas" mengapa mereka tdk mengikuti jejak
> sang Pendiri ( Hasan al-Banna qs) yg merupakan Wali
> Allah dan juga Wali Sufi. Hal inipun terjadi di
> Jamaah Tabligh, 50% menolak Tariqah, meskipun
> Pendirinya Mawlana Ilyas adalah Ulama Tariqah, Wali
> Sufi.
>
> Bila teman2 di Jamaah Tabligh mau berpikir dalam
> Kitab Fadilah Amal Mawlana Zakariya disebutkan
> amalan2 sufi/tasawuf. Begitu pula dalam tulisan
> Mawlana Iqbal (khadim Mawlana Zakaria) mengatakan 40
> hari khuruj adalah perjalanan tingkat pemula,
> perjalanan selanjutnya mencari Mursyid.
>
> Mengapa saya ngalor ngidul demikian panjang ke
> PKS, Jamaah Tabligh dll, sebenarnya maksudnya hal
> serupa terjadi di NU. Kita kenal Wali Songo penyebar
> islam yg merupakan Wali Sufi. Setiap Wali adalah
> Sufi, meskipun belum tentu Sufi adalah Wali. Berapa
> dari kita yg mengikuti Wali sesungguhnya? Berapa
> dari kita yg bertariqah? Atau berapa dari kita yang
> hanya mengikuti EGO, POLITIK, DUNIA & SETAN? dan
> hanya mengikuti Nafsu kita,
>
> Alhamdulillah bagi teman2 yg telah memiliki Guru
> Mursyid, Insya Allah hanya 124.000 Wali yg merupakan
> Mursyid yg Haqq (bayangkan dari 8 Milyar manusia).
> Padahal di JT, PKS tidak ada yg namanya Tariqah
> Mutabarah wa Nadliyah, wajar kalau mereka tidak
> mengenal Tariqah. Tapi di NU gudangnya Wali Allah.
> Meskipun demikian banyak warga NU yg alergi pd
> tariqah, aneh bin ajaib. Syariat tanpa Tariqah,
> zindik, Tariqah tanpa Syariat sesat ( Imam Malik).
>
> Kenapa saya mendorong teman2 utk bertariqat, krn
> jamannya Kekalifahan Sayidina Mahdi as sudah dekat.
> Akan ada banyak musibah besar di Indonesia dan
> dunia. Tsunami besar akan berdatangan silih
> berganti, perang sesama Islam akan terjadi demikian
> berat. Tanpa tariqah tak ada Taklid, Cinta dan
> Kepatuhan yg besar. Bagaimana tentara bergerak tanpa
> kepatuhan. Patuh berasal dari Cinta. Kalau kita
> cinta pd seseorang, maka kita akan patuh, kemudian
> "kepatuhan " ini menimbulkan Iman dan Yakin. Politik
> Sufi, ialah Kekalifahan Sayidina Mahdi as.
>
> Insya Allah Mas Ulil juga nantinya memiliki
> Mursyid ( atau mungkin juga sudah ya Mas), seperti
> Dani Ahmad (bayat kepada Sh Hisyam 2006), Gus Dur (
> bayat pd sh Nazim 2001). Sehingga dalam
> perjalanannya selalu akan mendapat "perintah yang
> terhubung kpd Mursyid & Nabi saw".
>
> Mungkin kalau saat ini Kyai2 NU di Indonesia saya
> kagum pada KH. Tawfiqurrahman Pekalongan (bayat pd
> Sh Hisyam 2001), beliau Wali Allah yg sangat rendah
> hati dan tidak mau berpolitik. Pesantrennya menjadi
> yg paling indah karena dibangun dengan CINTA yg
> benar kepada Allah swt, Nabi saw dan Cinta Awliya
> Allah. " Ati Allah ati ur Rasul, ati Ulil amri
> minkum". Siapakah Ulil Amri, mereka adalah para Wali
> Allah merekalah wakil Nabi saw saat ini, yg manapun
> yg kalian ikuti, bagai bintang bercahaya yg dapat
> membimbing kalian.Yang lainnya para Wali banyak yg
> tersembunyi dan tidak ingin dikenali.
>
> wasalam, arief hamdani
> ( segera terbit, Politik Sufi, Kumpulan Ceramah
> Syaikh Nazim & Syaikh Hisyam silahkan down load
> gratis di www.mevlanasufi.blogspot.com ).
>
>
> Ulil Abshar-Abdalla <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Salam,
> Saya kira kritik yang disampaikan oleh Menag Maftuh
> Basyuni dalam pertemuan RMI beberapa waktu lalu
> tentang keterlibatan kiai dalam politik praktis,
> sangat tepat waktu. Saya tak menyangka Pak Maftuh
> yang
> "jelek-jelek" juga dari keluarga kiai itu "tega"
> menyampaikan kritik itu di depan para kiai-kiai.
>
> Tentu kita semua tahu yang menjadi sasaran kritik
> Menag bukan sekedar keterlibatan kiai dalam partai
> politik. Yang dia kritik jelas prilaku di lingkungan
> kiai-kiai NU yang saat ini begitu bersemangat
> "ngurus"
> partai ketimbang ngurus pondok mereka sendiri.
> Seruan
> dia agar kiai-kiai "kembali ke barak" sangat tepat
> sekali.
>
> Saya kira memang kiai lebih baik menduduki posisi
> seperti yang pernah dikemukakan oleh Arief Budiman
> dulu, yaitu sebagai "cendekiawan yang berumah di
> angin", sebagai figur moral yang "menyemprit" ketika
> terjadi sesuatu yang tak beres di masyarakat. Tapi
> kiai tak harus menjadi "eksekutor" langsung di
> lapangan.
>
> Indikasi bahwa "politik praktis" lebih menarik bagi
> kiai adalah kantor PBNU yang ramai bukan main saat
> ada
> event-event politik nasional yang besar, tetapi
> mendadak sepi saat event itu berlalu.
>
> Setelah era Gus Dur berlalu, salah satu sisi yang
> kosong dalam NU adalah tidak adanya seorang pemikir
> dari dalam tubuh NU yang bisa menjadi artikulator
> yang
> baik bagi gagasan-gagasan besar NU ke dunia luar.
> Pemikir tentu tak perlu banyak-banyak, satu juga
> sudah
> cukup. Untuk ormas sebesar NU dengan (konon) 40 juta
> anggota, tentu layak jika ormas ini memiliki seorang
> artikulator ide yang setara dengan Mohammad Khatami,
> mantan Presiden Iran, misalnya. Sebagai benteng
> ideologi Aswaja, sudah tentu NU layak memiliki
> seorang
> "teolog" dan pemikir yang dapat mengartikulasikan
> doktrin itu ke luar dengan memakai bahasa modern
> saat
> ini. Sebagai penerus warisan doktrin Asy'ariyyah,
> sudah selayaknya NU memiliki seorang ulama/sarjana
> (satu saja cukup, ndak usah banyak-banyak) yang
> menguasai benar tradisi Asy'ariyah dengan baik,
> mengartikulasikannya dalam wacana yang sesuai dengan
> perkembangan zaman ini.
>
>
=== message truncated ===
Ulil Abshar-Abdalla
Department of Religion
Boston University
---------------------------------
Be a better Heartthrob. Get better relationship answers from someone who knows.
Yahoo! Answers - Check it out.
[Non-text portions of this message have been removed]