salam,
   
apa yang disampaikan oleh Gus Ulil
ada beberapa hal yang ingin saya beri komentar
   
  (menurut saya) Dalam NU selama budaya intelektual atau budaya 
berfikir tidak pernah dijadikan suatu proses budaya NU atau pesantren,
budaya itu selama ini hanya berjalan di luar pesantren yaitu 
dilingkungan perguruan tinggi itupun masih minim,
   
  kebanyakan pemikir-pemikir yang dimiliki NU adalah awalnya  
adalah didikan pesantren tetapi pada akhirnya adalah didikan 
dari universitas luar negeri seperti mesir, arab saudi,irak dan sebagainya.
   
  sehingga sebenarnya adalah sesuatu hal yang muskil
kalau budaya intelektual di NU itu diserahkan ke hanya ke pesantren
karena mulai awal pendirian sebenarnya (menurut saya) 
pendirian pesantren adalah hanya untuk memberi bekal keagamaan untuk hidup saja
dan tidak dikembangkan sebagai alat untuk pengembangan budaya intelektual
dan pesantren juga digunakan sebagai sebuah kegiatan pergerakan 
atau organisasi dalam hal ini (untuk melawan penjajah dulu)
dan hal ini masih membekas dalam jejak-jejak pesantren sekarang
sehingga akan mudah sekali untuk digerakkan keperluan politik praktis
   
  Jadi sebenarnya tugas kiai di pesantren selama ini itu hanyalah memberikan
bekal keagamaan untuk hidup saja dan untuk kepentingan pergerakan 
(politik) kiainya (tidak semuanya tetapi kebanyakan)
   
  Iran atau negara timur tengah tentang budaya intelektual ini adalah
mulai berkembang sejak Ibnu Sina dan Asy'ariyyah, sejak Al-Ghazali
abad 10 M dan hal itu tetap berlaku sampai sekarang, biarpun 
pernah mengalami pasang surut. sedangkan di nusantara pada abad 10 M kerajaan 
singosari belum terbentuk, masih hidup di hutan-hutan dan seterusnya. 
  coba bayangkan sangat ketinggalan 
   
  Dan pada saat ini sebenarnya budaya intelektual NU tidak berada di pesantren 
saja
tetapi juga ada anak-anak muda NU lulusan-lulusan universitas baik dari luar 
negeri dan
di dalam negeri tentunya. karena sekarang kebanyakan generasi muda NU 
melanjutkan
sekolah di perguruan tinggi setelah lulus dari pondok pesantren.
(seperti yang disampaikan Gus Ulil).
  
Dan ada benarnya yang disampaikan Gus Ulil, bahwa budaya NU sendiri tidak 
memberikan
ruang untuk orang-orang yang pandai dan kritis, sehingga bila terjadi perbedaan 
pendapat
maka yang terjadi adalah pengasingan atau sejenisnya, hal ini memang mereka 
kebanyakan tidak memiliki budaya intelektual.
   
  maaf barangkali ini pengamatan yang salah
karena saya belum pernah mondok di pesantren sama sekali
  
salam
   
  Azam
Jurusan Elektro
  Politeknik Negeri Malang
   
   

       
---------------------------------
Be a better Globetrotter. Get better travel answers from someone who knows.
Yahoo! Answers - Check it out.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke