Salam,
Mumpung teman-teman sedang "hangat" membicarakan soal
tradisi mistik Islam, saya ingin menyampaikan
pengamatan sederhana berdasarkan pengalaman pribadi
saya sendiri.

Ada dua jenis mistik, "mistik tradisional" dan "mistik
zaman baru" (=new age mysticism). Mistik tradisional
adalah mistik yang berkembang selama berabad-abad
dalam tradisi agama tertentu. Dalam Islam, misalnya,
mistik tradisional adalah tradisi yang berkembang
dalam lingkungan tarekat yang kita kenal selama ini,
atau mistik gnostik yang lebih banyak bergerak pada
level "refleksi" (tasawwuf fikri) seperti dalam
warisan Ibn Arabi, al-Suhrawardi, atau Mulla Sadra.
Ciri khas mistik ini adalah ia bergerak dalam dan
menjadi bagian dari tradisi keagamaan yang spesifik.
Oleh karena itu, dalam mistik tradisional ini,
kombinasi antara "syariat" dan "hakikat" sangat kuat
sekali. Tuduhan orang-orang seperti Ibn Taymiyah bahwa
ordo-ordo tarekt punya kecenderungan mengabaikan
syariat, walau hingga tingkat tertentu benar, tetapi
secara keseluruhan adalah "ngawur" dan "tendensius".
Tidak ada sufi besar dalam Islam yang mengabaikan
syariat. Dalam pandangan semua sufi-sufi Islam,
syariat diperdalam maknanya, sehingga tak sekedar
menjadi "ornamen permukaan" yang dangkal, tetapi sama
sekali tak diabaikan. 

Ibn Sina yang juga sering terkena tuduhan mengabaikan
syariat lahiriah, mengarang sebuah risalah pendek
berjudul "al-Risalah fi Mahiyat al-Salah", risalah
tentang esensi salat. Kalau kita membaca risalah ini,
kita akan menjumpai bagaimana Ibn Sina mencoba
menafsirkan salat dari sudut pandang teori akal dan
jiwa sebagaimana ia kemukakan dalam karya-karya lain
seperti "al-Shifa", "al-Najat", atau "Kitab
al-Hidayah". Dia mengemukakan tentang dua jenis salat,
"salat lahir" dan "salat batin". Salat batin bukan
sama sekali meninggalkan salat lahir, tetapi
memperdalam salat lahir agar mutunya lebih tinggi.
Salat batin jelas dipandang lebih "berkualitas" oleh
Ibn Sina ketimbang salat lahir. Orang yang mengira
bahwa dengan pandangan seperti ini Ibn Sina
meinggalkan salat lahir, keliru sama sekali. Ibn Sina
dikenal memiliki kebiasaan yang unik. Setiap kali
menghadapi masalah yang sulit dipecahkan dalam
filsafat; persisnya, setiap kali mengalami masalah
untuk menemukan "terma tengah" (al-hadd al-wasat;
terma tengah adalah inti semua proposisi dalam
kebenaran menurut filsafat Aristotelian yang diwarisi
dan dikembangkan oleh ibn Sina; kalau seseorang
menemukan terma tengah, maka dia menemukan inti
kebenaran; oleh karena itu, hidup Ibn Sina
didedikasikan untuk mencari terma tengah ini); ya,
setiap kali Ibn Sina menghadapi kesulitan untuk
menemukan terma tengah, dia akan rehat sejenak dan
melakukan salat sunnah. Biasanya, setelah salat, dia
mendapatkan "ilham" atau "kasyaf" dan pelan-pelan dia
mendapat pencerahan untuk memecahkan terma tengah yang
semula sulit ia kuakkan.

Itu adalah mistik tradisional. Mistik zaman baru
(dikenal pula dengan "new-age-ism") berbeda sama
sekali. Walau tidak semuanya, mistik zaman baru umumya
tidak terikat dengan agama tertentu. Dalam banyak hal,
mistik baru ini lebih menyerupai gaya hidup masyarakat
modern. Karena tidak "nyantol" dengan agama tertentu,
mistik ini kerapkali kurang mementingkan syariat
tradisional. Ada pula unsur-unsur "romantisme" dalam
mistik ini, yakni unsur menyatukan diri dengan alam,
karena itu kecenderungan monistik (yakni menganggap
semua hal lebur menjadi satu) sangat kuat. Dalam
mistik tradisional, kecenderungan monistik (atau
wujudiyyah) jelas ada, tetapi monisme di sana tetap
ditaruh dalam tanda kutip, sebab memang secara
lahiriah bisa bertabrakan dengan konsep "tanzih" dalam
tauhid. Oleh karena itu, Imam Ghazali yang memberikan
apresiasi pada pemikiran Ibn Arabi menganggap bahwa
apa yang disebut sebagai "wahdat al-wujud" pada
akahirnya adalah konep yang bersifat metaforis.
Kesatuan wujud memang tak pernah terjadi
sungguh-sungguh, sebab hal itu mengandaikan--istilah
Imam Ghazali yang dipinjam dari para teolog
Muslim--"ittihad al-jawahir", kesatuan jauhar-jauhar
atau esensi-esensi, yang itu sama sekali mustahil.

Saya menganggap mistik tradisional lebih "sedap"
ketimbang mistik zaman baru, meskipun saya sama sekali
tak merendahkan mistik kedua ini. Dalam beberapa hal,
mistik zaman baru ini juga menguakkan "penglihatan'
(insight) yang cemerlang. Mistik tradisional adalah
seperti minum teh dengan poci tua yang sudah
berpuluh-puluh tahun umurnya. Ada aroma khas yang kita
rasakan dalam poci tua yang tak ada pada poci yang
baru dibeli kemaren sore.

Dengan kata lain, semakin tua sebuah tradisi, makin
sedap rasanya. Tentu tak menutup kemungkinan pula,
bahwa makin tua sebuah tradisi, makin banyak hal dalam
dirinya yang lapuk sehingga perlu ditafsir ulang.
Dengan cara imi, saya mencoba meletakkan tradisi
dengan lebih seimbang. 

Mistik tradisional adalah bagian dari "teh poci tua"
semacam itu. 

Semoga bermanfaat.

Ulil

Ulil Abshar-Abdalla
Department of Religion
Boston University


Kirim email ke