saya sangat setuju sekali dengan pendapat Gus Ulil
tentang konsep mistik tradisional dan mistik zaman baru
dalam hal ini adalah tasawuf
dimana memang kalau dilihat perkembangan sekarang
lebih cenderung terjadi simplifikasi tasawuf
yang sebenarnya adalah (dalam Islam) tidak akan dapat dipisahkan
antara apa yang disebut syariat dan hakikat atau sering
disebut sebagai lahiriyah dan batiniyah atau yang tersurat
dan yang tersirat, karena dalam ayat saja ada yang demikian
demikian juga untuk yang lain.
dan memang hal telah dilestarikan oleh tarikah-tarikah yang
ada di seluruh dunia.
Sedangkan untuk perkembangan tasawuf atau sufi atau mistik sekarang ini
terutama yang ada di negara-negara barat lebih cenderung
meramu "nafas" mistis yang ada di dunia timur, seperti "nafas" tao,
"nafas" budha, dan "nafas" islam sehingga "nafas-nafas" itulah
yang lebih cenderung digunakan, dan dalam hal ini "nafas" Islam
yang diambil biasanya dari Rummi dan Ibn Arabi, dimana
terjadi kesalahan penafsiran dari apa-apa yang beliau sampaikan.
karena itu muncul buku tentang ibn arabi seperti
"Creative Imagination in the sufism of Ibn al-Arabi"
buku ini sudah diterbitkan oleh LKis
buku "Taosime Islam" (kalau tidak salah) diterbitkan oleh mizan
buku " the sufi parh of Knowledge" William C. Chittick penerbit Qalam
buku "Mencari belerang merah" oleh Claude C. Addas penerbit serambi
dimana menurut William C. Chittick dalam bukunya tersebut
menyatakan terdapat kesalahan pengambilan kesimpulan dalam buku "taoisme Islam"
sehingga membahayakan bagi yang memahaminya.
Sehingga menurut saya pemahaman monisme tidak berasal dari
Ibn Arabi tetapi berasal dari Tao dan budha.
Sedangkan pemahaman "wahdah al-wujud" yang dinisbahkan ke Ibn Arabi
adalah hasil pemahaman murid-muridnya seperti Al-Qunawi, sedangkan
ibnu Arabi tidak pernah menuliskan hal itu secara jelas.
Perlu diketahui Al-Qunawi adalah anak tiri dari Ibnu Arabi
yang kemudian menjadi muridnya. dan dari Al-Qunawi lah
pemikiran-pemikiran atau hasil karya Ibnu Arabi mendapatkan
keterangan dan penjelasan.
Memang sulit (bagi yang merasa sulit) untuk dapat memahami
konsep "wahdah al-wujud" karena konsep ini adalah merupakan
konsep yang membingungkan (bagi yang bingung) karena ada
di antara pemahaman "ada" dan "tiada" atau
pemahaman "fana" dan "baqo'" hanya orang-orang tertentu
yang dapat memahami (dan sulit untuk menjelaskan kepada orang lain
kalau tidak mendapat pertolongan Allah dan Ibnu Arabi)
sehingga apa yang disampaikan oleh Ibnu Arabi akan membuat
orang salah pemahaman.
sedangkan untuk pernyataan Gus Ulil yang menyatakan bahwa
"Imam Ghazali yang memberikan apresiasi pada pemikiran Ibn Arabi menganggap
bahwa
apa yang disebut sebagai "wahdat al-wujud" pada akahirnya adalah konsep yang
bersifat metaforis".
adalah pernyataan yang keliru, atau mungkin Gus Ulil salah lihat nama
sebab menurut tahun kelahiran Abu Hamid al-Ghazali lahir pada 1058 Masehi
sedangkan Ibnu Arabi lahir satu abad berikutnya yaitu tahun 1165 M,
jadi tidak mungkin bahwa Imam Ghazali memberikan apresiasi tentang pemikiran
Ibnu Arabi
malah yang terjadi adalah sebaliknya, Ibnu Arabilah yang memberikan
apresiasi terhadap pemikiran-pemikiran Abu Hamid al-Ghazali
dan itu termuat dalam futuh al makkiyah dan salah satu
pernyataannya dalam bab bersuci ("Menghampiri Sang Mahakudus" tebitan mizan)
Ibnu Arabi menyatakan bahwa apa yang beliau terima adalah
sama seperti yang telah diterima oleh Ibnu Arabi.
Memang mulai dari dulu terdapat dua pendapat bagi kalangan teolog
ada golongan As-Sairiyah dan Abu Hamid Al Ghazali ikut dalam golongan ini
dan golongan Ibnu Sina yang memang beda pendapat tentang konsep wujud
dan mungkin Gus Ulil menyamakan pemahaman Ibnu Sina dengan Ibnu Arabi
kalau menurut saya pemahaman beliau-beliau itu ada yang sama dan ada yang beda
sedangkan untuk konsep mistik "modern" menurut saya adalah salah
dan kurang tepat (maaf) biarpun mereka juga dapat memiliki "penglihatan"
karena jin pun bisa tetapi pada level tertentu mereka tidak bisa
adalah hanya dengan islam yang kaffah lah "mistik" itu dapat
dirasakan luar dan dalam secara sempurna.
karena Islam adalah agama pamungkas dari agama-agama sebelumnya
maka sebenarnya "nafas-nafas" yang benar dari agama sebelumnya
itupun sebenarnya dapat dirasakan dalam Islam.
maaf bila tidak berkenan
maaf bila terlalu panjang
maat bila sulit dimengerti
salam
Azam
Jurusan Elektro
Politeknik Negeri Malang
Ulil Abshar-Abdalla <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Salam,
Mumpung teman-teman sedang "hangat" membicarakan soal
tradisi mistik Islam, saya ingin menyampaikan
pengamatan sederhana berdasarkan pengalaman pribadi
saya sendiri.
Ada dua jenis mistik, "mistik tradisional" dan "mistik
zaman baru" (=new age mysticism). Mistik tradisional
adalah mistik yang berkembang selama berabad-abad
dalam tradisi agama tertentu. Dalam Islam, misalnya,
mistik tradisional adalah tradisi yang berkembang
dalam lingkungan tarekat yang kita kenal selama ini,
atau mistik gnostik yang lebih banyak bergerak pada
level "refleksi" (tasawwuf fikri) seperti dalam
warisan Ibn Arabi, al-Suhrawardi, atau Mulla Sadra.
Ciri khas mistik ini adalah ia bergerak dalam dan
menjadi bagian dari tradisi keagamaan yang spesifik.
Oleh karena itu, dalam mistik tradisional ini,
kombinasi antara "syariat" dan "hakikat" sangat kuat
sekali. Tuduhan orang-orang seperti Ibn Taymiyah bahwa
ordo-ordo tarekt punya kecenderungan mengabaikan
syariat, walau hingga tingkat tertentu benar, tetapi
secara keseluruhan adalah "ngawur" dan "tendensius".
Tidak ada sufi besar dalam Islam yang mengabaikan
syariat. Dalam pandangan semua sufi-sufi Islam,
syariat diperdalam maknanya, sehingga tak sekedar
menjadi "ornamen permukaan" yang dangkal, tetapi sama
sekali tak diabaikan.
Ibn Sina yang juga sering terkena tuduhan mengabaikan
syariat lahiriah, mengarang sebuah risalah pendek
berjudul "al-Risalah fi Mahiyat al-Salah", risalah
tentang esensi salat. Kalau kita membaca risalah ini,
kita akan menjumpai bagaimana Ibn Sina mencoba
menafsirkan salat dari sudut pandang teori akal dan
jiwa sebagaimana ia kemukakan dalam karya-karya lain
seperti "al-Shifa", "al-Najat", atau "Kitab
al-Hidayah". Dia mengemukakan tentang dua jenis salat,
"salat lahir" dan "salat batin". Salat batin bukan
sama sekali meninggalkan salat lahir, tetapi
memperdalam salat lahir agar mutunya lebih tinggi.
Salat batin jelas dipandang lebih "berkualitas" oleh
Ibn Sina ketimbang salat lahir. Orang yang mengira
bahwa dengan pandangan seperti ini Ibn Sina
meinggalkan salat lahir, keliru sama sekali. Ibn Sina
dikenal memiliki kebiasaan yang unik. Setiap kali
menghadapi masalah yang sulit dipecahkan dalam
filsafat; persisnya, setiap kali mengalami masalah
untuk menemukan "terma tengah" (al-hadd al-wasat;
terma tengah adalah inti semua proposisi dalam
kebenaran menurut filsafat Aristotelian yang diwarisi
dan dikembangkan oleh ibn Sina; kalau seseorang
menemukan terma tengah, maka dia menemukan inti
kebenaran; oleh karena itu, hidup Ibn Sina
didedikasikan untuk mencari terma tengah ini); ya,
setiap kali Ibn Sina menghadapi kesulitan untuk
menemukan terma tengah, dia akan rehat sejenak dan
melakukan salat sunnah. Biasanya, setelah salat, dia
mendapatkan "ilham" atau "kasyaf" dan pelan-pelan dia
mendapat pencerahan untuk memecahkan terma tengah yang
semula sulit ia kuakkan.
Itu adalah mistik tradisional. Mistik zaman baru
(dikenal pula dengan "new-age-ism") berbeda sama
sekali. Walau tidak semuanya, mistik zaman baru umumya
tidak terikat dengan agama tertentu. Dalam banyak hal,
mistik baru ini lebih menyerupai gaya hidup masyarakat
modern. Karena tidak "nyantol" dengan agama tertentu,
mistik ini kerapkali kurang mementingkan syariat
tradisional. Ada pula unsur-unsur "romantisme" dalam
mistik ini, yakni unsur menyatukan diri dengan alam,
karena itu kecenderungan monistik (yakni menganggap
semua hal lebur menjadi satu) sangat kuat. Dalam
mistik tradisional, kecenderungan monistik (atau
wujudiyyah) jelas ada, tetapi monisme di sana tetap
ditaruh dalam tanda kutip, sebab memang secara
lahiriah bisa bertabrakan dengan konsep "tanzih" dalam
tauhid. Oleh karena itu, Imam Ghazali yang memberikan
apresiasi pada pemikiran Ibn Arabi menganggap bahwa
apa yang disebut sebagai "wahdat al-wujud" pada
akahirnya adalah konep yang bersifat metaforis.
Kesatuan wujud memang tak pernah terjadi
sungguh-sungguh, sebab hal itu mengandaikan--istilah
Imam Ghazali yang dipinjam dari para teolog
Muslim--"ittihad al-jawahir", kesatuan jauhar-jauhar
atau esensi-esensi, yang itu sama sekali mustahil.
Saya menganggap mistik tradisional lebih "sedap"
ketimbang mistik zaman baru, meskipun saya sama sekali
tak merendahkan mistik kedua ini. Dalam beberapa hal,
mistik zaman baru ini juga menguakkan "penglihatan'
(insight) yang cemerlang. Mistik tradisional adalah
seperti minum teh dengan poci tua yang sudah
berpuluh-puluh tahun umurnya. Ada aroma khas yang kita
rasakan dalam poci tua yang tak ada pada poci yang
baru dibeli kemaren sore.
Dengan kata lain, semakin tua sebuah tradisi, makin
sedap rasanya. Tentu tak menutup kemungkinan pula,
bahwa makin tua sebuah tradisi, makin banyak hal dalam
dirinya yang lapuk sehingga perlu ditafsir ulang.
Dengan cara imi, saya mencoba meletakkan tradisi
dengan lebih seimbang.
Mistik tradisional adalah bagian dari "teh poci tua"
semacam itu.
Semoga bermanfaat.
Ulil
Ulil Abshar-Abdalla
Department of Religion
Boston University
---------------------------------
Got a little couch potato?
Check out fun summer activities for kids.
[Non-text portions of this message have been removed]