-

        

        

        

        




  Kiai Hasyim Asy'ari dan Bung Hatta


            Jum'at, 31 Oktober 2008 - 09:46 wib


        SAMBIL menunggu jam penerbangan Yogyakarta- Jakarta, tanpa
        disengaja saya berjumpa teman dan guru saya, KH Dr Agil Siraj,
        yang pernah tinggal dan menuntut ilmu di Arab Saudi selama 13 tahun.

        Saat berbincang-bincang mengamati perkembangan dakwah Islam di
        Indonesia belakangan, secara ringan dia mengungkapkan
        komentarnya yang membuat saya terhenyak. "Mestinya kita belajar
        dari Bung Hatta dan Kiai Hasyim Asy'ari," katanya. "Apa maksud
        Ustaz?" tanya saya. Coba lihat, Bunga Hatta lama tinggal di
        Eropa, tetapi tetap menjadi orang Indonesia.

        Menjaga dan memperjuangkan kepribadian Indonesia. Begitu pun
        Kiai Hasyim Asy'ari, kakeknya Gus Dur. Bertahun-tahun belajar
        dan tinggal di Arab Saudi, tetapi tetap menjadi orang Indonesia.
        Berpakaian dan berperilaku sebagai muslim Indonesia. Keduanya
        sangat mencintai Indonesia. Berjuang dan berkorban demi kejayaan
        Indonesia. Sampai di situ saya semakin dibuat merenung, ingin
        mendengarkan komentar lebih lanjut dari teman asal Cirebon dan
        meraih doktor dari Universitas Ummul Qura ini.

        Meski Bung Hatta lama di Barat, mendalami ilmu dari Barat, tapi
        beliau berani berkonfrontasi dengan Barat ketika kekuatan Barat
        merugikan bangsanya sendiri. Begitu pun Kiai Hasyim. Dalam
        banyak hal yang sangat mendasar bahkan beliau mengkritik tradisi
        dan pemikiran Islam yang tumbuh di Arab Saudi, yang dikenal
        literalistik dan kurang menghargai tradisi.

        Meski tampak sepele, ternyata Ustaz Agil juga mengamati masuknya
        pengaruh pakaian Arab ke Indonesia. Kiai Hasyim dan kiai-kiai
        lain yang lama belajar di Arab Saudi dan Timur Tengah tidak
        mempromosikan pakaian gamis model Arab. Beliau hanya mengenakan
        pakaian gamis sewaktu salat saja. Tetapi ketika ke luar rumah,
        semuanya berpakaian Indonesia.

        "Saya sendiri yang lama tinggal di Arab Saudi kadang jadi heran,
        mengapa pakaian gamis model Arab semakin populer di Indonesia,
        dipakai di mana-mana, bahkan untuk berdemonstrasi di jalanan dan
        di lapangan Monas," kata Ustaz Siraj dedengkot NU ini. Dalam
        hati saya bertanya, apakah pendapat semacam ini hanya dimiliki
        Ustaz Agil Siraj ataukah juga ulama-ulama NU yang lain?

        Apakah semakin meluasnya pakaian model Arab menunjukkan naiknya
        semangat Islam Indonesia yang datang dari Arab? "Ada orang
        Indonesia yang kebarat-baratan, ada pula yang kearab-araban.
        Mengapa kita tidak bercermin dan belajar dari Bung Hatta dan
        Kiai Hasyim," gugatnya lagi. Para kiai saya dulu, lanjutnya,
        kalau mengajar membaca Alquran pada santrinya sangat tegas dan
        keras.Kalau salah tajwidnya, yaitu cara benar membaca Alquran,
        beliau marah.

        Bahkan ada yang sampai memukul dengan lidi, sehingga para santri
        harus serius belajar karena takut kena marah dan kena pukul.
        Tapi yang sangat mengagumkan, begitu bergaul dengan masyarakat
        dan menyampaikan dakwah, para kiai dulu sangat lembut dan
        santun. Dengan sabar mereka membimbing umat ke jalan yang benar
        dan tidak pernah menggunakan kekerasan.

        Tak ada teriak-teriak sambil mengacung-acungkan pentungan.
        "Mereka belajar dari cara dakwah Wali Songo yang memang sangat
        cocok untuk masyarakat Indonesia," lanjut Ustaz Agil. Karena
        sikapnya yang bijak, sabar dan lembut itu, maka Islam menjadi
        agama yang dipeluk mayoritas bangsa ini dan secara perlahan
        tradisi yang tidak sejalan dengan ajaran Islam diluruskan, bukan
        dengan jalan kekerasan dan permusuhan. Ketika asyik
        bincang-bincang, terdengar panggilan untuk naik pesawat.

        Sepanjang perjalanan saya renungkan kembali apa yang disampaikan
        Ustaz Agil, termasuk kritiknya yang cukup tajam terhadap
        fenomena pesantren, kiai, dan politik. Menurutnya, dulu para
        kiai dan pesantren sangat independen secara ekonomi dan politik
        sehingga wibawanya disegani oleh pemerintah dan masyarakat.
        Pesantren dulu ibarat sumur, orang berdatangan untuk menimba
        air, minta berkah, dan wejangan pada kiai, termasuk para pejabat
        negara.

        Bahkan ketika orangtua melahirkan bayi, mereka datang untuk
        meminta nama bagi anaknya. Ketika sebuah keluarga akan membagi
        harta waris, mereka minta fatwa pada kiai. Kiai dulu tidak
        pernah minta bantuan ke pemerintah atau siapa pun. Sebaliknya,
        justru bantuan yang berdatangan tanpa diminta dan diundang.

        Sekarang suasana sudah berubah. Sudah muncul kekuatan baru yang
        namanya negara dengan jaringan birokrasinya, dari tingkat
        presiden sampai lurah, bahkan RT/RW. Sangat disayangkan,
        pemerintah dan politisi ikut merusak kultur pesantren yang
        semula mandiri menjadi kian melemah dan tergantung pada negara.
        Para politisi datang menawarkan berbagai bantuan dengan imbalan
        agar mereka memberikan dukungan politik setiap pemilu atau
        pemilihan kepala daerah.

        Repotnya lagi, kalangan kiai dan pesantren juga sulit menolak
        karena mereka memerlukan dana, baik untuk pesantren maupun untuk
        diri dan keluarganya. Bahkan ada kiai yang senang meminta-minta
        bantuan kepada pejabat pemerintah. Mestinya, baik para politisi,
        pemerintah, maupun dunia pesantren saling menjaga integritas
        dirinya, bukan saling menjatuhkan dan menggerogoti wibawanya.

        Kalau sudah saling menjatuhkan, yang rugi adalah negara, umat,
        dan bangsa. Negara yang maju dan kuat adalah negara yang
        masyarakatnya mandiri, dibentuk melalui pendidikan yang baik,
        dan lapangan kerja yang tersedia. Masyarakat yang bodoh dan
        miskin pada akhirnya akan menjadi beban negara, bahkan potensial
        menjadi musuh negara.

        Bayangkan, bagaimana kita akan memasuki kompetisi tingkat global
        kalau energi negara dan masyarakat habis terkuras untuk
        berantem, bukannya saling mendukung untuk membangun bangsa.
        Itulah yang pernah terjadi di Aceh dan di beberapa tempat lain.
        Aset dan energi bangsa, baik berupa uang, sumber daya alam,
        budaya, agama maupun militer, mestinya diarahkan untuk hal-hal
        produktif demi memajukan bangsa. Bangsa ini tengah mengalami
        situasi mismanagement alias salah urus.

        Para politisi lebih sibuk mengurus dirinya katimbang rakyatnya.
        Dua tokoh yang dikemukakan Ustaz Agil, yaitu sosok Kiai Hasyim
        Asy'ari dan Bung Hatta, adalah dua figur bapak bangsa yang
        pantas dan bahkan harus diteladani. Bertemu dalam keduanya
        kedalaman dan keluasan ilmu, integritas yang kokoh, patriotisme
        tinggi, dan sangat santun dalam berpolitik. (*)
        *
        PROF DR KOMARUDDIN HIDAYAT
        REKTOR UIN SYARIF HIDAYATULLAH *

okezone



Kirim email ke