Mbak Fath,
Kendati ttp merasa NU, saya tetap menyadari bahwa menjadi NU atau bukan
itu bukan sst yg penting atau utama. Tapi menjadi orang yg baik itu yang
utama. Di kalangan manapun ada yg baik dan yg buruk.
Tentang pakaian, kalaupun saat ini kebanyakan yg berpakaian gamis itu
cara pandang keagamaannya tak disukai umumnya orang NU, tetap akan
diketahui bahwa pakaian ya sekedar pakaian. Ndak lebih. Satu saat bisa
saja ada yg berfikiran liberal dan menyukai gamis. Dan yang sebaliknya
juga banyak. Ini soal waktu saja.
Apalagi sekedar pakaian, soal cara pandang atau pola pikir keagamaan
siapapun bila kita anggap keliru tetap tak bisa menjadi pembenaran bagi
kita utk memperolok2nya. Bahkan kendati kita diperolok lebih dulu.
Apalagi utk saat ini, apa yg indah dan elok di NU? Jika mayoritas muslim
Indonesia adalah NU maka kita harus siap mengakui bahwa mayoritas
pelaku korupsi adalah orang NU. Para politisi yg menghalalkan berbagai
cara, money politik dipandang lumrah, dunia pendidikan yg amburadul.
Rasanya ndak ada lagi kesempatan utk menggunjing soal pakaian. Semuanya,
NU atau bukan, punya musuh bersama: korupsi dkk.
Jika kenyataannya banyak orang bergamis ndak suka orang-orang NU,
apalagi yg liberal, biarin ndak usah ditanggapi. Alhamdulillah, mereka
telah membantu kita utk melihat diri kita.
Jika kita bisa toleran dg umat agama lain, dengan saudara seiman mengapa
tidak?!
Salam
AH
On ن, 2008-11
-10 at 03:28 +0800, Fathonah K. Daud wrote:
> Kang Arif,
>
> Kalau gitu mohon dimaafkan jika tidak berkenan...
> Ya, saya percaya deh kang Arif masih istiqomah dengan NU seperti dulu
> dan semoga demikian keadaannya....
>