Salam semuanya... Teman2.. Hari Jum'at 10 Oktober lalu saya mengikuti ceramahnya Pak Agil Siraj di Salatiga. Beliau diundang NU Salatiga dalam acara silaturahmi dan halal bihalal pengurus NU di sana. Saya tinggal di Jepara, tapi karena kebetulan sedang main ke Salatiga dan ada seorang teman pengurus NU ngajak saya ngikuti acara tsb.
Itu adalah kali pertama saya ngikuti ceramah beliau. Menarik sekali, beliau mampu merunutkan alur pemikiran ahlissunnah sejak masa awal sampai saat ini yang berkembang di Indonesia. Pada kesimpulannya, NU-lah yang paling menepati ahlissunah. NU paling moderat, ahli ngemong masyarakat awam. Ini persis dengan kehendak Imam Asy'ari. Mengapa dia keluar dari Mu'tazilah lalu berdiri atas prinsip sendiri yang kemudian dikenal dengan madzhab Asy'ariyah, tiada lain karena menganggap Mu'tazilah hanya bisa diikuti oleh kalangan intelek yg selalu mengandalkan logika. Lantas siapa yang akan mendampingi masyarakat awam, jika cara berfikirnya selalu mengandalkan logika. Itulah makanya kemudian Imam Asy'ari mengkompromikan antara dalil 'aqliy dan naqliy (berbeda dg Mu'tazilah yang mengunggulkan dalil 'aqliy di atas naqliy). Hanya yang perlu digarisbawahi, Imam Asy'ari tidak menganggap Mu'tazilah sesat. Dia keluar dari Mu'tazilah karena ingin pemikirannya bisa diterima orang awam. Dan faktanya, kendati di sana-sini ada sedikit kalangan yg mencoba memberontak dan keluar dari kungkungan Asy'ariyah, Asy'ariyah di zaman sekarang menjadi madzhab yang paling dominan di dunia Islam, termasuk diikuti oleh NU di Indonesia. Sampai di sini, alur pembicaraan Pak Agil Siraj cukup menunjukkan bahwa beliau adalah sosok yang "sangat NU". Ini bagi saya ok-ok saja. *** Hanya yang menjadi sedikit kekecewaan saya, sama dg sebagian yg tersirat di tulisannya Pak Komaruddin yg dikirim Mas Mukhlisin ini, Pak Agil mempermasalahkan soal pakaian. Walaupun tidak dengan galak dan emosional, pembicaraan Pak Agil cukup melahirkan nada "kecemburuan" atas semangat keislamannya orang-orang yang berpakaian gamis. Sehingga dengan jelas Beliau ingin menegaskan bahwa NU-lah yang jauh lebih Islam. NU-lah yang paling pas keislamannya dan paling sesuai dengan kultur Indonesia. Saya kira, cukup diungkapkan bahwa NU-lah yang paling pas, paling benar, dan paling Indonesia. Cukup di sini. Saya senang. Apalagi saya paling senang pada NU dan pada budaya Indonesia. Namun sayangnya, hal itu diirngi dengan cemoohan terhadap kelompok lain, terutama pada orang2 yg bergamis. Apa salahnya mereka dg bergamis? Pakaian tetaplah sekedar pakaian. Itu kan suka-suka saja. Yang penting hatinya. Soal hati beda dari soal pakaian. Saya memang paling ndak suka pikiran-pikiran yang men-generalisir, yang "nggebyah uyah". Siapapun saya kira akan setuju bahwa orang jelek itu bisa ada di mana-mana, orang baik bisa ada di mana-mana. Tak peduli NU atau bukan. Jadi apa salahnya orang bergamis? Jika mereka merasa paling Islam, apakah itu salah? Bagi saya, biarlah setiap orang, setiap kelompok merasa paling Islam. Dan harusnya begitu. Islam hak bagi setiap golongan. *** Entah karena saat itu sedang berhadapan dg pengurus NU atau hal lain, ceramah atau pidato spt yg dibawakan Pak Agil itu tetap membuat saya sedikit kecewa. Mengapa? Karena pidato semacam itu, menurutku hanya berpotensi menumbuhkan kesenangan dan kebanggaan pada NU, sembari membangkitkan rasa ndak suka, mencemooh, dan membenci kelompok lain. Orang NU senang dan bangga dg ke-NU-annya, bagiku baik-baik saja. Wajar. Tapi tidak baik, jika karena itu lantas membenci kelompok lain dan memberi penilaian-penilaian yang tidak adil. Salam Arif Hidayat ----- Original Message ----- From: Mukhlisin To: [email protected] Sent: Tuesday, November 04, 2008 9:40 AM Subject: [kmnu2000] [Fwd: Opini (KH Hasyim Asy'ari & Bung Hatta)]] Kiai Hasyim Asy'ari dan Bung Hatta Jum'at, 31 Oktober 2008 - 09:46 wib SAMBIL menunggu jam penerbangan Yogyakarta- Jakarta, tanpa disengaja saya berjumpa teman dan guru saya, KH Dr Agil Siraj, yang pernah tinggal dan menuntut ilmu di Arab Saudi selama 13 tahun.
