Kang Arif, Kalau gitu mohon dimaafkan jika tidak berkenan... Ya, saya percaya deh kang Arif masih istiqomah dengan NU seperti dulu dan semoga demikian keadaannya....
Memang betul dan saya sangat setuju, jika masalah pakaian sebaiknya tidak menjadi persoalan besar dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat. Tapi itulah kenyataannya, keadaan sebaliknya yang sering kitya temui. Jadinya kita sering terkotak-kotak hanya gara-gara fashion berpakaian kita ini berlaian. Malah fashion pakaian ini juga bisa mencirikan kelompok seseorang tersebut. Sebab itu, agak sukar bagi saya untuk mmberikan ukuran 'adil' dalam menilai masalah di sini. Seperti yang sampeyan sebut. Adil bagi siapa dulu? Saya malah merasa sebaliknya. Orang kelompok gamis itu sering merasa paling islami dengan fashion pakaian mereka itu. Biar tidak disebut omong kosong penilaian saya ini. Baiklah saya berikan contoh dari pengalaman pribadi saya dulu (ketika menjadi pelajar baru di Mesir). Ceritanya begini....Setelah 1 setengah bulan berada di Kairo. Kebetulan saya pindahan rumah dan tinggal 1 rumah dengan suatu 'kelompok' (yg ketika itu belum saya fahami). Setelah beberapa minggu tinggal bersama mereka, rupanya pakaian saya ini jadi 'persoalan' bagi mereka. Saya jg bingung, ketika saya disuruh pakai yang gamis aja jika keluar rumah dan kalau dibasuh dipersilahkan pakai pakaian mereka. Kebetulan pakaian bawahan saya kebanyakan rok panjang, celana panjang,kulot dan hanya punya gamis 1 dari rumah. Lha ini gimana, berpakaian aja kok diatur2??? Nah dari sini, saya mulai tertanya2...ada apa dengan pakaian saya yabg lain??? apakah karena celana dianggap pakain lelaki? Padahal, menurutku ketika itu, gamis juga pakaian unisex. Di Arab orang lelaki juga biasa pakai gamis, yang disebut di mesir galabeeyah. Jadi saya tetap santai aja dengan pakaian pilihan saya. Malah bagi saya ketika itu merasa nyaman bila memakai kulot atau celana panjang karena bisa naik dan lari mengejar bis dengan mudah. Nah, Mungkin...Persoalan2 begini ni barangkali yang membuat para tokoh NU (khususnya pak Agil Siraj) di sini yang ikut merasa gerah dengan fashion gamis (atau berjenggot) yang menggejala di tanah air tapi kadang2 malah diantara mereka membuat keributan di jalan2 seperti yang dicontohkan pak Komaruddin itu. Salam juga untuk keluarga kang Arif dan minta maaf kepanjangan jawabannya. Peace kacang pis Fath Daripada: Arif Hidayat <[EMAIL PROTECTED]> > > Subjek: Re: [kmnu2000] [Fwd: Opini (KH Hasyim > Asy'ari & Bung Hatta)]] Mbak Fath yg baik.. Apakah utk berkomentar spt saya itu harus beraroma lain dulu...?? Saya hanya mau belajar adil saja dlm menilai orang. Saya ndak suka neko2. Tapi yg jelas, dg begini saya merasa semangat NU saya tdk surut sedikitpun....Saya ajek spt dulu, Mbak. Spt yg kau kenal dulu....:) Salam hangat utk sekeluarga, Arif Hidayat ----- Original Message ----- From: Fathonah K. Daud To: [email protected] Sent: Thursday, November 06, 2008 6:31 AM Subject: Re: [kmnu2000] [Fwd: Opini (KH Hasyim Asy'ari & Bung Hatta)]] --- Pada Khm, 6/11/08, Fathonah K. Daud <[EMAIL PROTECTED]> menulis: > Daripada: Fathonah K. Daud <[EMAIL PROTECTED]> > Subjek: Re: [kmnu2000] [Fwd: Opini (KH Hasyim Asy'ari & Bung Hatta)]] > Kepada: [email protected] > Tarikh: Khamis, 6 November, 2008, 7:31 AM > Wah, kang Arif sepertinya sudah punya 'aroma' lain > ni....:)) > > Ya, masalah ceramah Pak Agil Siraj itu ditanggapi dengan > entenh ajalah. Maksud beliau mungkin sama dengan gini, biar > warga NU itu tidak ketularan 'style' mereka yang > serba ke-Arab2an. Orang NU biar tetap pada ke-NU-annya yang > tulen. Jadi gicu....:)) > > Peace kacang pis > Fath > --- Pada Rab, 5/11/08, Arif Hidayat > <[EMAIL PROTECTED]> menulis: > > > Daripada: Arif Hidayat <[EMAIL PROTECTED]> > > Subjek: Re: [kmnu2000] [Fwd: Opini (KH Hasyim > Asy'ari & Bung Hatta)]] > > Kepada: [email protected] > > Tarikh: Rabu, 5 November, 2008, 7:30 PM > > Salam semuanya... > > > > Teman2.. > > Hari Jum'at 10 Oktober lalu saya mengikuti > ceramahnya > > Pak Agil Siraj di > > Salatiga. Beliau diundang NU Salatiga dalam acara > > silaturahmi dan halal > > bihalal pengurus NU di sana. Saya tinggal di Jepara, > tapi > > karena kebetulan > > sedang main ke Salatiga dan ada seorang teman pengurus > NU > > ngajak saya > > ngikuti acara tsb. > > > > Itu adalah kali pertama saya ngikuti ceramah beliau. > > Menarik sekali, beliau > > mampu merunutkan alur pemikiran ahlissunnah sejak masa > awal > > sampai saat ini > > yang berkembang di Indonesia. Pada kesimpulannya, > NU-lah > > yang paling > > menepati ahlissunah. NU paling moderat, ahli ngemong > > masyarakat awam. Ini > > persis dengan kehendak Imam Asy'ari. Mengapa dia > keluar > > dari Mu'tazilah lalu > > berdiri atas prinsip sendiri yang kemudian dikenal > dengan > > madzhab > > Asy'ariyah, tiada lain karena menganggap > Mu'tazilah > > hanya bisa diikuti oleh > > kalangan intelek yg selalu mengandalkan logika. Lantas > > siapa yang akan > > mendampingi masyarakat awam, jika cara berfikirnya > selalu > > mengandalkan > > logika. Itulah makanya kemudian Imam Asy'ari > > mengkompromikan antara dalil > > 'aqliy dan naqliy (berbeda dg Mu'tazilah yang > > mengunggulkan dalil 'aqliy di > > atas naqliy). > > > > Hanya yang perlu digarisbawahi, Imam Asy'ari tidak > > menganggap Mu'tazilah > > sesat. Dia keluar dari Mu'tazilah karena ingin > > pemikirannya bisa diterima > > orang awam. Dan faktanya, kendati di sana-sini ada > sedikit > > kalangan yg > > mencoba memberontak dan keluar dari kungkungan > > Asy'ariyah, Asy'ariyah di > > zaman sekarang menjadi madzhab yang paling dominan di > dunia > > Islam, termasuk > > diikuti oleh NU di Indonesia. > > > > Sampai di sini, alur pembicaraan Pak Agil Siraj cukup > > menunjukkan bahwa > > beliau adalah sosok yang "sangat NU". Ini > bagi > > saya ok-ok saja. > > > > *** > > Hanya yang menjadi sedikit kekecewaan saya, sama dg > > sebagian yg tersirat di > > tulisannya Pak Komaruddin yg dikirim Mas Mukhlisin > ini, Pak > > Agil > > mempermasalahkan soal pakaian. Walaupun tidak dengan > galak > > dan emosional, > > pembicaraan Pak Agil cukup melahirkan nada > > "kecemburuan" atas semangat > > keislamannya orang-orang yang berpakaian gamis. > Sehingga > > dengan jelas Beliau > > ingin menegaskan bahwa NU-lah yang jauh lebih Islam. > NU-lah > > yang paling pas > > keislamannya dan paling sesuai dengan kultur > Indonesia. > > > > Saya kira, cukup diungkapkan bahwa NU-lah yang paling > pas, > > paling benar, dan > > paling Indonesia. Cukup di sini. Saya senang. Apalagi > saya > > paling senang > > pada NU dan pada budaya Indonesia. Namun sayangnya, > hal itu > > diirngi dengan > > cemoohan terhadap kelompok lain, terutama pada orang2 > yg > > bergamis. Apa > > salahnya mereka dg bergamis? Pakaian tetaplah sekedar > > pakaian. Itu kan > > suka-suka saja. Yang penting hatinya. Soal hati beda > dari > > soal pakaian. > > > > Saya memang paling ndak suka pikiran-pikiran yang > > men-generalisir, yang > > "nggebyah uyah". Siapapun saya kira akan > setuju > > bahwa orang jelek itu bisa > > ada di mana-mana, orang baik bisa ada di mana-mana. > Tak > > peduli NU atau > > bukan. Jadi apa salahnya orang bergamis? > > > > Jika mereka merasa paling Islam, apakah itu salah? > Bagi > > saya, biarlah setiap > > orang, setiap kelompok merasa paling Islam. Dan > harusnya > > begitu. Islam hak > > bagi setiap golongan. > > > > *** > > Entah karena saat itu sedang berhadapan dg pengurus NU > atau > > hal lain, > > ceramah atau pidato spt yg dibawakan Pak Agil itu > tetap > > membuat saya sedikit > > kecewa. Mengapa? Karena pidato semacam itu, menurutku > hanya > > berpotensi > > menumbuhkan kesenangan dan kebanggaan pada NU, sembari > > membangkitkan rasa > > ndak suka, mencemooh, dan membenci kelompok lain. > > > > Orang NU senang dan bangga dg ke-NU-annya, bagiku > baik-baik > > saja. Wajar. > > Tapi tidak baik, jika karena itu lantas membenci > kelompok > > lain dan memberi > > penilaian-penilaian yang tidak adil. > > > > > > Salam > > Arif Hidayat > > > > ----- Original Message ----- > > From: Mukhlisin > > To: [email protected] > > Sent: Tuesday, November 04, 2008 9:40 AM > > Subject: [kmnu2000] [Fwd: Opini (KH Hasyim Asy'ari > > & Bung Hatta)]] > > > > > > Kiai Hasyim Asy'ari dan Bung Hatta > > > > Jum'at, 31 Oktober 2008 - 09:46 wib > > > > SAMBIL menunggu jam penerbangan Yogyakarta- Jakarta, > tanpa > > disengaja saya berjumpa teman dan guru saya, KH Dr > Agil > > Siraj, > > yang pernah tinggal dan menuntut ilmu di Arab Saudi > selama > > 13 tahun. > > > > > > > > > > ------------------------------------ > > > > > ______________________________________________________________________ > > http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang > > Istimewa NU Mesir dan KMNU2000, atau info-info seputar > Cairo > > dan Timur Tengah. > > > ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ > > Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika > karena > > suatu hal Anda harus meninggalkan forum ini silakan > kirim > > email ke: > > [EMAIL PROTECTED] > > Yahoo! Groups Links > > > > > > > > Dapatkan nama E-mel keutamaan anda! > Kini anda boleh @ymail.com dan @rocketmail.com. > http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/my/ > > ------------------------------------ > > ______________________________________________________________________ > http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang > Istimewa NU Mesir dan KMNU2000, atau info-info seputar Cairo > dan Timur Tengah. > ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ > Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena > suatu hal Anda harus meninggalkan forum ini silakan kirim > email ke: > [EMAIL PROTECTED] > Yahoo! Groups Links > > > Dapatkan alamat E-mel baru anda! Rebut nama E-mel yang telah lama anda kehendaki sebelum orang lain mendapatkannya! http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/my/
