Saya setuju bahwa antara laki-laki dan perempuan punya perbedaan
dan sekaligus punya persamaan. Secara fisik jelas beda. Apa yang
ada pada perempuan tidak ada pada laki-laki sehingga yang tidak
ada pada laki-laki itu membuat laki-laki senang bersanding dng
perempuan. Sebaliknya, apa yang ada pada laki-laki tapi tidak
ada pada perempuan, juga membuat perempuan happy berpasangan
dengan laki-laki.

Kalau yang diperjuangkan adalah persamaan hak antara laki-laki
dan perempuan, dikaitkan dengan kemampuannya dalam berprestasi,
saya sangat mendukung. Di beberapa negara ada kecenderungan
gerakan feminisme yang dinilai salah arah.

Karena ingin merdeka sebagai wanita, ada sekelompok masyarakat
yang menolak kehadiran laki-laki dalam hidupnya. Menurut mereka,
laki-laki adalah penjajah wanita. Melayani laki-laki [dalam
kehidupan seksuil] juga dinilai sebagai penjajahan laki-laki
thd wanita. Kelompok ini memilih tidak berhubungan dengan laki-
laki termasuk dalam pemenuhan kebutuhan bilogisnya. Inilah
salah satu gerakan emansipasi wanita yang justru dikecam oleh
para wanita dan para pemuka gereja.

Emansipasi yang diartikan memberi kesempatan yang sama kepada
laki-laki dan wanita, itulah yang mestinya diperjuangakan.
Termasuk, kesempatan pendidikan, perlindungan hukum, pengaturan
gaji.

Di Indonesia, saya kira tidak adanya diskriminasi dalam beberapa
hal yang saya sebut di atas, terutama untuk pekerjaan pegawai
negeri. Gaji diatur dalam golongan tertentu, tidak peduli wanita
atau pria, standar gajinya sama. Tentang tunjangan keluarga, tidak
harus diberikan kepada laki-laki. Umumnya, kalau suami istri
bekerja, tunjangan keluarga ditempatkan pada mereka yang gajinya
lebih besar [bisa suami/bisa istri], karena besarnya tunjangan
berbentuk prosentase. Ada orang yang memilih, tunjangan dicantumkan
dalam gaji istri sebab, dia punya gaji lebih tinggi dari suami.
Untuk di pabrik saya tidak tahu.

Tentang kesempatan dalam pendidikan, saya kira pemerintah juga
tidak membatasi kesempatan perempuan. Syarat masuk PTN, SMA, SMP,
tidak pernah meminta khusus laki-laki. Orang tua juga cenderung
memberikan kesempatan kepada anak-anaknya untuk sekolah setinggi-
tingginya. Kalau dana terbatas, kecenderungan orang tua adalah
mengutamakan anak yang nantinya diyakini akan berhasil, agar kelak
bisa menolong saudara-saudaranya. Namun demikian, masih juga ada
orang tua yang mengutamakan anak laki-laki dengan dasar pemikiran
laki-laki adalah orang yang harus bertanggung jawab thd keluarganya
[bila berumah tangga nanti], sedangkan anak perempuan kalau menikah
tidak dituntut mencari nafkah. Pandangan spt ini masih banyak
kita jumpai terutama di kalangan orang tua yang kurang terdidik.
Namun demikian, apa yang dilakukan itu tidak bisa dikatakan sbg
diskrimanasi thd anak perempuan. Saya lebih melihat sebagai upaya
orang tua keluar dari masalah kelangkaan dana. Kemudian membuat
prioritas [laki-laki diprioritaskan krn ia nantinya bertanggung
jawab thd keluarganya].

Yang dikatakan diskriminasi _menurut saya_ adalah bila ada suatu
lembaga tertentu [pemerintah/swasta/etc] yang dengan sengaja,
mengeluarkan peraturan yang karenanya membatasi kesempatan bagi
perempuan untuk melibatkan diri. Seperti yang pernah terjadi di
Amerika Serikat dan Afrika Selatan, dimana ada peraturan khusus
dibuat negara yang melarang orang-orang kulit hitam memasuki
wilayah terentu [sekolah, restaurant, gereja, fasilitas publik].

Namun demikian, saya masih melihat bahwa menutup kesempatan
perempuan untuk melibatkan diri dalam hal tertentu tidak
selamanya dikatakan diskriminasi.

Contoh:
Pemisahan antara mahasiswa dan mahasiswi dalam menempati asrama
tidak pernah diprotes. Ada asrama putra ada asrama putri. Ada
sekolah khusus perempuan (Regina Pacis) ada sekolah khusus laki-
laki (St Josef) tidak pernah dikatakan sebagai diskriminasi.


Tentang perlindungan hukum

Setiap individu memerlukan perlindungan hukum. Bukan hanya
perempuan. Kasus perkosaan adalah setara dengan kasus kejahatan
lain. Bisa menimpa siapa saja. Jadi yang perlu dilindungi bukan
karena dia wanita, tapi yang perlu dilakukan adalah hukum yang
bisa mencegah terjadinya kejahatan [baik perkosaan, pembunuhan, kekerasan 
lain]dan hukum yang memberikan hukuman setimpal kepada pelaku kejahatan. 
Sebab, kejahatan _apa pun bentuknya_ memang harus dicegah.

Orang tidak sempat berpikir bahwa kejahatan dan kekerasan bisa
dilakukan siapa saja. Termasuk oleh perempuan. Memang prosentasi
kekerasan lebih besar pada penjahat laki-laki. Penjahat wanita
juga banyak. Kalau definisi kejahatan adalah tindakan yang
melanggar hukum [negara, agama, masyarakat], perempuan juga
banyak melakukan kejahatan. Mungkin sama prosoentasenya dengan
laki-laki. Contoh, WTS.

Kekerasan domestik, bukan hanya monopoli laki-laki. Contoh:
Perempuan juga banyak melakukan kekerasan domestik. Bahkan sampae
motong "burung" suaminya. Meracun suaminya. Menusuk suaminya dng
pisau sampai mati. Menuangkan minyak mendidik ke tubuh suami.

Saya kembalikan kepada premise awal saya, perlindungan perlu
ditegakkan thd siapa pun, tidak pandang bulu gendernya.

Perlindungan Kesehatan.

Setiap warga negara perlu mendapat kesempatan yang sama untuk
akses kesehatan. Saya kira yang membatasi kepada akses kesehatan
bukan karena seseorang bergender perempuan. Misal, karena perempuan
makan ditolak oleh rumah sakit. Saya belum pernah mendengar kasus
demikian.

Demikian juga dengan peningkatan pelayanan kesehatan, tidak boleh
hanya ditujukan kepada salah satu gender. Harus untuk semua warga.
Laki-laki pun memerlukan perlindungan (pelayanan kesehatan) yang
membahayakan jiwanya. Khusus tentang pelayanan kesehatan yang
terkait dengan perempuan, saya kira malah sudah dari dulu diperha-
tikan pemerintah. Di tingkat kecamatan saja ada poliklinik khusus untuk Ibu 
dan Anak. Tak pernah saya jumpai poliklinik khusus bapak.
Pemerintah juga telah meningkatkan pelayanan kesehatan terkait
dengan kondisi perempuan [hamil dan melahirkan]. Bidan-bidan di-
sebar ke pelosok desa di seluruh tanah air. Dukun-dukun beranak
ditatar agar bisa memberikan pelayanan kesehatan lebih baik
kepada ibu-ibu yang sedang hamil.


Salam,
Hercule Poirot:
      "...If we know what we are searching for,
          it is no longer mysteri..."





>From: Wenita <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
>To: "'[EMAIL PROTECTED]'" 
><[EMAIL PROTECTED]>
>Subject: RE: [Kuli Tinta] Pelecehan Wanita
>Date: Tue, 18 May 1999 10:46:13 +0800
>
>Gigih wrote :
>Padahal, apa sih sekarang bidang-bidang yang tak dimasuki oleh wanita,
>jika itu tuntutan persamaan perlakuan dan derajad kepada kewanitaan.
>Selain itu, bukankah banyak perlakuan yang justru melindungi wanita
>untuk hal-hal yang tak pantas untuk dilakukan oleh wanita.
>Pekerja-pekerja shift malam, misalnya, lebih mengutamakan pria untuk
>melakukannya. Demikian juga berbagai pekerjaan berbahaya lain.
>
>Maaf pak Gigih, kalau boleh saya kemukakan pendapat sedikit. Kalau mau
>dibilang feminis terserah, tapi saya percaya bahwa dalam hal pekerjaan kaum
>wanita punya kemampuan yang sama dengan kaum pria, namun bukan berarti sama
>dalam semua bidang. Ada bidang tertentu yang akan lebih baik jika dipegang
>oleh pria dan ada bidang-bidang yang lebih cocok untuk wanita.
>
>Saya juga tidak setuju dengan adanya departemen khusus untuk wanita karena
>kaum wanita bukan golongan khusus yang harus diberdayakan seperti sejenis
>bidang usaha atau golongan lemah yang harus ditangani secara khusus, saya
>tidak suka kaum wanita di"istimewakan" dengan seperti itu.
>
>Gigih wrote :
>Menuntut agar wanita harus diperhatikan (bahkan Megawati disindir tak
>pernah punya program khas untuk wanita), saya pikir justru merupakan
>bentuk lain dari pelecehan terhadap wanita. Pemberian perhatian khusus
>membuat wanita jadi seperti balita, atau jompo yang tak mampu mengurus
>dirinya sendiri. Atau merupakan mahluk lain?
>
>Perhatian yang diminta kaum wanita bukan bertujuan memperbanyak karyawan
>wanita, Bung Gigih. Menurut saya yang diinginkan oleh kaum wanita antara
>lain :
>1. Persamaan kesempatan.
>Kita harus akui masih banyak praktek dilingkungan kerja dimana kesempatan
>untuk maju lebih diutamakan untuk kaum pria, lihat saja Ilustrasi berikut :
>KO = Kata Orang
>       1. Meja kerja laki-laki berantakan
>           KO : Dia memang pekerja keras
>           Meja kerja perempuan berantakan
>           KO : Cewek apa'an tuh ? ngrapiin meja aja nggak becus...
>       2. Laki-laki bekerja menikah
>           KO : Dia pasti akan bekerja lebih baik karena hidupnya
>                   bakalan lebih teratur
>           Perempuan bekerja menikah
>           KO : Deeuuuuuu...paling entar habis hamil juga keluar dia...
>       3. Laki-laki ngobrol saat jam kerja
>           KO : Kalau udah ngomongin bisnis, lupa lunch.
>           Perempuan ngobrol saat jam kerja
>           KO : Dasar tukang ngrumpi !!!
>       4. Laki-laki nggak ada di meja kerja
>           KO : Sedang tugas luar
>           Perempuan nggak ada di meja kerja
>           KO : Jangan2 ngluyur ke mall
>       5. Laki-laki keluar dapet pekerjaan baru
>           KO : Emang pintar cari prospek dia...
>           Perempuan keluar dapet pekerjaan baru
>           KO : Emang perempuan nggak bisa dipercaya
>       6. Foto keluarga di meja laki-laki
>           KO : Hem...bapak teladan and setia
>           Foto keluarga di meja perempuan
>           KO : Ah dia sich emang mentingin keluarga daripada kerjaan...
>       7. Laki-laki nongkrong di depan komputer
>           KO : Memang kalo ide sedang datang suka lupa waktu
>          Perempuan nongkrong di depan komputer
>          KO : Wah ... kayak laki2 aja.
>       8. Laki-laki selingkuh
>           KO : Memang kodratnya....
>           Perempuan selingkuh
>          KO : Idiiiihhhh amit-amit
>       9. Laki-laki bujang usia tiga lima
>           KO : Matang
>           Perempuan bujang usia tiga lima
>           KO : Perawan Tua
>       10. Laki-laki banyak teman lawan jenis
>            KO : Pasti humoris, enak diajak ngomong, pantes diajak jalan
>            Perempuan banyak teman lawan jenis
>            KO : Piala bergilir
>       11. Laki-laki dapat promosi jabatan
>            KO : Emang kalo' prestasi bagus rejeki nggak kemana
>            Perempuan dapat promosi jabatan
>            KO : Ssstt..Boss ada mau
>2. Perlindungan kesehatan.
>Banyak kasus-kasus remaja putri yang hamil diluar nikah, masih banyak
>wanita-wanita yang harus melahirkan dengan fasilitas yang kurang hygienis,
>dan lain sebagainya. Kaum wanita terpaksa hidup dengan beban kemampuan
>sekaligus kelemahan yang tidak menjadi masalah bagi kaum pria. Hal seperti
>ini yang perlu dimengerti oleh kaum pria bahwa wanita minta diperhatikan
>bukan karena manja tetapi karena kaum wanita memang perlu perlindungan dari
>hal-hal yang bisa membahayakan jiwanya. Kita masih perlu fasilitas 
>kesehatan
>yang lebih memadai, kita masih perlu suatu fasilitas darurat untuk membantu
>kaum wanita dalam kondisi demikian.
>
>3. Perlindungan hukum.
>Kita tidak dapat menutup mata bahwa masih banyak kasus-kasus
>pelecehan(baca:pemerkosaan, penyiksaan) dimana pelaku justru kebanyakan
>orang yang dekat dengan korban. Kebanyakan korban tidak tahu kemana dia 
>akan
>mengadu, tidak berani atau bahkan dilarang untuk bicara.
>Kalaupun dia bicara, untuk mendapatkan bantuan, perlindungan dan keadilan
>tipis sekali harapannya.
>
>Hal-hal diatas hanya garis besarnya saja. Kalau anda ingin tahu lebih 
>lanjut
>apa yang diinginkan kaum wanita, anda bisa bertanya langsung kepada para
>aktifis-aktifis gerakan pembela wanita.
>
>Wenny
>
>______________________________________________________________________
>To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
>To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>
>Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!
>
>


_______________________________________________________________
Get Free Email and Do More On The Web. Visit http://www.msn.com

______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!



Kirim email ke