Wah..wah..
judulnya Pelecehan Wanita tapi kok isinya lain 'yah... :-) ...
Saya rasa kita perlu menyamakan persepsi. Menurut saya pelecehan wanita
bukan hanya mengenai fasilitas buat ibu dan anak, wanita hamil dan asap
rokok, remaja putri yang hamil karena salah pergaulan, dsb-dsb seperti yang
dari kemarin beredar di milis ini.
Kalau boleh saya simpulkan bahwa hal-hal yang diperdebatkan disini
sebenarnya masalah-masalah yang kelihatan oleh mata orang-orang ditingkat
menengah keatas saja.
Cobalah sekali-kali melihat ke bawah...saya yakin anda akan memahami
pelecehan yang bagaimana sebenarnya yang dimaksud.
Mbak Eva, kita sebagai sesama wanita mestinya bisa saling mengerti.
Kalau yang kita lihat wanita-wanita dilingkungan kerja kita 'yah...kita
tentu bisa berkata bahwa tidak ada pelecehan, emansipasi wanita sudah tidak
ada yang menghalangi karena sudah banyak wanita yang jadi manajer, sudah ada
fasilitas-fasilitas kesehatan untuk ibu dan anak yang seharusnya sudah bisa
mengatasi masalah, dan lain sebagainya. Tapi coba kita melihat kebawah,
pasti kenyataannya tidak sesederhana itu.
Sebenarnya saya pikir yang diminta oleh para pejuang kepentingan perempuan
disini bukanlah sekedar misalnya fasilitas kesehatan dan tempat penitipan
anak melainkan pada dasarnya "pengakuan" dari lingkungan sosial bahwa
pelecehan itu masih sering terjadi dan kesadaran bersama untuk saling
mengawasi agar persamaan hak asasi bukan hanya sebatas slogan.
wenny
----------
From: Hercule Poirot
Sent: Friday, May 21, 1999 12:16 AM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: RE: [Kuli Tinta] Pelecehan Wanita
From: Eva Kurnia D <[EMAIL PROTECTED]>
Eva:
Semuanya bisa fleksibel. Untuk perkantoran yang besar dengan jumlah
pegawai wanita banyak, mungkin bisa dibangun satu. Sebuah ruangan
kecil yang bersih dan menyenangkan ? Mengapa tidak ? Yang penting ada
kemauan ke arah sana.
HP:
Ya nanti kalau saudari Eva jadi boss, biarlah istri saya kerja
di tempat saudari biar bisa bawa bayinya sambil kerja. Kalau
saya belum juga beristri, biarlah saya cari istri yang jadi
pegawai saudari Eva. Istri dan anak saya akan terjamin.
Soal anak-anak yang salah gaul. Itu sudah warisan leluhur.
Ingat siapa pelaku pembunuhan pertama? Apa mereka tidak
diperhatikan oleh ayah ibunya (Adam dan Hawa?). Manusia
itu memang punya kecenderungan berbuat jahat yang sama
besarnya dengan kecendurungan berbuat baik. Jadi tidak
perlu cemas. Kalau Republika mengatakan prosentasenya,
itu kurang tepat. Dari dulu memang sudah banyak anak
salah gaul. Bentuknya saja yang berubah. Kalau sekarang
nampak jumlah kejahatan remaja meningkat, itu harus
disikapi yang terdeteksi jumlahnya naik. Artinya,
sebenarnya dari dulu juga sudah banyak. Kalau sekarang
nampak naik, itu karena masyarakat sekarang lebih terbuka.
Alat komunikasi tersedia shg hal-hal yang dulu tak sempat
tersiar sekarang nampak.
Menurut saya, tidak perlu kawatir dengan laporan-laporan
macam Republika itu. Dari dulu memang sudah ada. Bentuknya
kejahatannya saja yang beda. Soal gadis hamil di luar nikah,
ini sudah ada sejak jaman sebelum Ken Arok. Jangan gelisah.
Kalau saya keliru, tentu Tuhan tidak akan pernah menurunkan
hukum melarang manusia berjina. Jadi, soal kasus perjinahan,
bukan monopoli manusia abad 20.
Kita dan orang lain, termasuk pemerintah, tak akan pernah
bisa menghapus hal-hal di atas. What we need to do is just
do the best we can to minimize crime. Setidaknya kita tak
melakukan. Syukur bisa mencegah orang lain dari berbuat
crime.
Nah...coba ayo yang ini kita diskusikan.
Salam hangat.
Hercule Poirot:
"...If we know what we are searching for,
it is no longer mysteri..."
_______________________________________________________________
Get Free Email and Do More On The Web. Visit http://www.msn.com
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!